Antara Baca Buku, Putaran Pikiran, Malam, dan Mie goreng

Hayoloh. Bikin judul kok ya panjang amat. Haha. Karena di malam yang dingin ini *eciyeh basanya kolbu banget 😅 pikiranku lagi random. Biasaaa, kalo lagi tersedot ke dalam satu cerita di dalam novel pasti pikiran langsung loncat kemana-mana. Dan bawaannya jadi pengen nulis, hingga menulis menjadi secandu kopi. Thats why dalam menulis harus ada membaca, karna makanan seorang penulis yang bikin kenyang dan gendut itu ya buku. Like me today, setelah membaca langsung ingin menulis. Dan ide untuk the next novel pun bermunculan.

Lalu kenapa judul tulisanku ini bisa panjang begitu? Haha. Karna aku juga gak tahu topik sebenernya yang ingin aku bahas di tulisan ini apa. Hari ini, aku baru nerima kiriman paket buku. Duh, segarnya. Book is like oase. Mengusir kejenuhan, menggeser stress, dan mengenyahkan pikiran negativ yang mengganggu menjelang persalinan. Trust me, tadi aja jalan-jalan dari ruang tamu ke dapur bolak balik dalam rangka nunggu mules dilakuin sambil baca novel yang baru dibeli. Haha. Pak suami sampe ketawa dan bilang aku kurang piknik. Nope, ini bukan kurang piknik sayang. Tapi daripada jalan-jalan sambil mikirin mules yang gak dateng-dateng ya mending cari peralihan perhatian dengan baca buku. And I’m enjoyed it 😍

Dan malam ini, aku berpikir sedikit saja tentang cinta, uang, dan beberapa kebodohan di dalamnya. Bahwa ternyata aku pernah terdampar di kebodohan yang kubuat sendiri dulu waktu belum benar-benar paham akan cinta. Pokoknya selama lelaki yang kuanggap kucintai punya paras menarik alias ganteng, dan bisa masuk ke kehidupanku tanpa attitude yang norak, aku akan berjuang mati-matian buatnya. Tak peduli sesulit apa itu, aku akan benar-benar tenggelam di dalamnya. Hingga aku terhempas di kenyataan. Bahwa cinta tak cukup dipenuhi hanya dengan cocok dan rasa nyaman saja. Tapi justru lebih luas dari itu.

And when I found someone (finnaly). Aku sadar bahwa mencintai juga sebuah tanggung jawab. Dan orang yang ‘layak’ kita cintai harus bisa memenuhi oase yang kita butuhkan. Kenapa tiba-tiba jadi nyambung ke cinta gini? Karna aku baru saja menamatkan cerita novel tentang cinta yang (tanpa disadari) bodoh. Ujung-ujungnya aku pun baper 😅 langsung flashback ke masa lalu karna pernah mengalami beberapa kebodohan itu. Tapi bodohnya bisa langsung sembuh saat ketemu sama pak suami *eciyeh romantis 😍 (btw, dia jangan baca ah ntar geer lagi 😜)

Lalu, uang. Emang uang bisa bikin kita terlena terlalu dalam kayak cinta ya. Karna, ada loh perempuan yang menikmati cinta sepaket sama harta pasangannya yang segunung. Eh, bukan ada sih tapi mungkin banyak. Walaupun bisa aja dia mencintai dan memilih untuk menikah dengan pasangannya bukan hanya karna uangnya yang segunung itu. Toh yang namanya perempuan lekat dengan rasa. Kalau si lelaki bisa bikin luluh dengan sikap baiknya, gak menutup kemungkinan si perempuan bisa jatuh cinta. Jatuh sejatuhnya. Lalu dapet bonus harta yang jumlahnya menggila hingga membuat hidup perempuan itu berubah. Menjadi nyonya-kaya-baru.

Hmmm … Lalu apa hubungannya judul malam dengan tulisan ini? Gak ada hubungan apa-apa sih, cuma karna aku menulis dan membaca hingga ide-ide mengalir deras ya di malam ini. Malam yang berasa dinginnya. Kalau mie goreng? 😁 sebentar jangan dulu ketawa, namanya juga tulisan random ya 😂 mie goreng cuma selingan makan yang (terlalu) malam aja. Berhubung stock makanan mulai menipis, dan yang ada cuma mie goreng. Jadi mari kita kenyangkan perut dengan sepiring mie goreng.

Ah, nikmatnya 🍵🍜 

Malam ini terlalu sempurna. Buku, tulisan, mie goreng, dan tentunya kamu. Kamu yang sudah membebaskanku dari kebodohan cinta masa lalu. Karna aku yakin, kali ini aku memang sedang mencintai dengan cerdas. Tanpa diselingi kebodohan 😍💏

Pamer = Cari Perhatian?

Aloha. Mari kita menulis lagi sejenak. Seperti biasa, untuk menjaga pikiran agar tetap waras dan salah satu cara untuk maintenence otak. Haha. Tokopedia kali ah sering banget maintenencenya *eh *ups 😅

Baca judulnya, yang merasa jangan dulu merasa kesindir ya. Karna ini murni tulisan sama sekali gak ada maksud menyinggung pihak manapun *eciyeh sok bijak 😜

Sosmed kini sudah jadi semacem diary online. Semua diumbar di sosmed. Dulu, saya yang mengalami perubahan itu jadi mendadak heran. Kenapa apa yang kita ceritain di sosmed itu jatohnya jadi pamer. Khususnya untuk orang-orang yang tergolong orang kaya baru. Atau memang sosmed itu bikin kita tergoda untuk membicarakan semua masalah kita serta apa saja yang kita punya? Dengan judul biar-semua-orang-tahu:mrgreen:

Tapi setelah saya mengkritik orang-orang itu, imbasnya malah jadi boomerang buat saya. Banyak yang merasa tersinggung dan bilang kalo saya cuma orang gak mampu yang sirik sama mereka yang sudah jadi horang kayah. Tapi gak masalah, karna kenyataanya memang saya gak semampu mereka. Dan kalo dibilang sirik? Mungkin juga iya, tanpa saya sadari. Entahlah. Tapi yang jelas, kok berasa risih ya liat status yang isinya cuma nyeritain kehebatan hidup dia yang entah palsu atau nyata. Walopun sebenernya saya gak perlu usil, kalo gak suka sama status mereka ya tinggal unfriend 😁

Tapi sekarang saya udah bisa lebih bisa menerima perubahan itu. Hampir semua orang memang ingin ‘dilihat’ di sosmed. Selfie, tulis status at cafe anu, atau mamerin foto-foto keluarga/anak, sudah jadi hal biasa. Pada akhirnya saya juga gitu sih. Eh tapi gak nyeritain tentang punya rumah, punya mobil dan sederet harta yang jumlahnya segede alihumgambreng ya 😂 Dih, soalnya mau mamerin apa emang saya gak punya 😅

Tapi sekarang, saya lebih sering bercerita tentang keluarga kecil saya, anak saya atau relationship saya yang alhamdulilah baik sama suami. Saya lebih senang bercerita tentang mereka, tentang keseharian kita. Dan saya memang ingin orang-orang tau bahwa saya bahagia dengan hidup yang saya jalani, dengan keluarga kecil saya. Tapi mendadak saya sadar, kalo saya udah ikutan pamer. Karna gak semua orang punya keluarga seperti yang saya miliki. Dan yang menyedihkan, gak semua perempuan punya anak yang bisa dipamerin di sosmed. Padahal dulu juga sebelum punya anak, rasanya duh … Gak bisa digambarin sedihnya kayak apa liat temen-temen yang udah punya anak mamerin foto-foto lucu anaknya di sosmed. Dan tanpa saya sadari, sekarang pun saya begitu. Mungkin maksudnya bukan pamer, mungkin niatnya juga bukan mau sombong. Tapi kita gak tau kalo di ujung sana ada banyak perempuan yang menatap iri melihat foto-foto anak yang kita posting.

Hiks. Dulu saya mengkritik orang-orang itu sekarang saya malah menjadi bagian dari mereka. Apalagi saya lagi hamil. Hamil. Ini hamil loh. Sesuatu yang sangat diharapkan banyak perempuan yang sudah menikah. Saya aja dulu waktu masih punya anak 1 liat orang hamil rasanya kok menyenangkan. Karna hamil dan berdebar nunggu kelahiran bayi itu, sungguh rasanya menyenangkan. Alih-alih rasa sakitnya yang gak enak 😄

Jadi, mungkin kita harus luruskan niat. Posting foto anak bukan untuk pamer atau memperlihatkan sama orang-orang kalo gue-punya-anak-gitu-loh. Dan sedikit mengurangi jumlah atau frekuensi pajang foto anak saya di timeline. Maksudnya, saya juga ingin menghargai dan menghormati mereka yang belum punya anak atau yang lagi harap-harap cemas untuk hamil. Seriously, saya juga pernah merasakan  itu dan itu rasanya gak enak banget. Walopun mungkin gak semua perempuan ngerasa gak enak, masih banyak kok yang santai-santai aja liat temen-temennya posting foto anak di sosmed. Yang nggak ngiri tapi malah sibuk berdoa dan minta sama Tuhan. Yah, biarlah. Toh memang respon setiap orang dalam menyikapi status orang lain kan beda-beda. Kalo dulu sebelum punya anak, jujur saya memang iri sama mereka yang sudah punya anak. Saya sampe protes sama Tuhan, kenapa mereka dikasih saya nggak. It so’ childish 😰

Jadi, mari kita gunakan sosial media kita sama hal-hal positif aja. Kalo saya sih memilih untuk gak ikutan mainstream kayak orang-orang dengan memposting sesuatu yang lebih bermanfaat dibanding sibuk bercerita tentang kehebatan hidup kita. Tapi kalo teman-tema  saya di dunia maya atau teman-teman saya di dunia nyata yang juga muncul di dunia maya *hayoloh bingung 😜 memilih untuk memposting harta, anak atau apapun itu ya monggo. Toh gak setiap orang punya niat pamer sih. Kita juga gak bisa langsung menyimpulkan kalo mereka lagi pamer. Dan, itu kembali lagi ke pilihan masing-masing. Karna timeline sosmed kita adalah rumah kita sendiri, jadi terserah isinya mau diapain dan mau diisi apaπŸ˜€

I think its more wise …

Just Hang on Suriah

Honestly, saya nggak terbiasa menulis tentang negara-negara islam yang kini sedang berjuang dalam perang dan sedang dihabisi habis-habisan hingga mereka sudah terbiasa dengan luka parah dan darah. Tapi melihat berita tentang seorang anak yang menjadi korban di Allepo dan fotonya beredar di mana-mana saya jadi ingin membahasnya secuil saja.

Bukannya saya tidak mau membela kaum muslim yang kini sedang dijajah habis-habisan. Misalnya saudara-saudara kita di Palestin dan Suriah. Tapi saya gak mau sok-sok peduli hanya atas nama agama. Kalaupun saya peduli, bolehlah atas nama kemanusiaan. Yang artinya kita peduli bukan hanya karna mereka saudara sesama muslim, tapi memang karena mereka korban perang yang harus kita tolong dan harus kita doakan. Itu yang penting, mendoakan!

Dan berita tentang anak di Suriah yang shock saat menjadi korban perang itu menarik perhatian saya. Walaupun saya kurang jelas detail cerita si anak bagaimana. Tapi karna kini beritanya mendunia di sosial media khususnya, maka saya pun ikut simpati. Bukan karna dia masih kecil, bukan hanya karena dia sesama muslim semata, dan bukan atas nama agama islam saja. Tapi, apa yang terjadi di Allepo sana memang membuat banyak orang (khususnya orang-orang islam) berang bukan main.

Sejujurnya, saya kurang mengikuti berita peperangan di negara-negara islam sana. Walaupun sesekali pernah terpikir oleh saya apa yang terjadi pada orang-orang itu. Setiap hari mereka kena teror, setiap hari mereka tak henti berdoa ketika mendengar suara bom meledak atau suara tembakan yang bergema. Belum lagi jeritan anak-anak dan para perempuan tua dan muda. Bayangkan saja, kita harus menjalani kehidupan setiap hari. Seperti misalnya bekerja, sekolah, belanja ke pasar, membeli beberapa kebutuhan, beribadah, berobat ke dokter atau rumah sakit bagi yang sakit, atau melahirkan bagi perempuan yang sedang mengandung. Dan masih ada puluhan kegiatan lain yang biasanya manusia lakukan. Dan di tengah kegiatan atau rutinitas yang harus kita jalani tersebut, harus diganggu dengan lawan atau musuh yang mengancam di mana-mana. Belum lagi senjata-senjata mematikan mereka. Bahkan kabarnya, mereka juga tidak bisa merayakan hari raya islam seperti pada umumnya. Misalnya hari raya idul fitri kemarin. Itulah yang pernah saya pikirkan tapi sulit saya bayangkan kalau saya mengalami hal itu. Betapa kasiannya anak-anak kecil yang tidak bisa bebas bermain di luar rumah karna taruhannya nyawa.

Tapi sejauh apa kesengsaraan mereka dan sejauh mana beritanya memang tak selalu saya ikuti. Karna saya gak mau hanya sekadar ikut-ikutan orang lain yang rajin ngeshare berita yang belum tentu kebenarannya. I means, bukan berarti peperangan di sana itu hoax. Tapi berita yang tiap saat dishare di sosmed itu kan belum jelas kebenarannya. Karna masih banyak loh orang yang memanfaatkan rasa kasian atau rasa peduli orang-orang di sosmed. Yang membuat berita dari gambar atau foto korban. Bahkan untuk membuat tulisan ini saya tidak menggunakan salah satu foto korban di sana. Ah, gak etis. Foto mereka bukan untuk disebar untuk mencari simpati dan kasihan semata. Tapi saya selalu berdoa untuk mereka. Agar perang segera berhenti dan berakhir.

Saya juga gak tahu peperangan itu salah siapa atau siapa biang kerok dibalik itu semua. Entah memang Amerika, entah memang konspirasi Yahudi yang lagi terkenal banget itu, atau mungkin orang islam sendiri yang ingin membuat perpecahan agar orang-orang islam lainnya menunjuk kaum lain yang mereka anggap musuh. Tak tahu lah, karna di sini ada unsur politik. Politik agama. Dan yang pasti, si udang di balik batu ini ingin orang islam pecah dan ingin jumlah penganut islam berkurang dengan membunuh mereka satu per satu. Semudah membunuh kumpulan semut yang lagi makan gula.

Bukan itu saja, perpecahan antar umat islam yang diakibatkan dari perang tersebut juga membuat banyak pihak ikut berperang. Bukan perang secara fisik, tapi juga perang kalimat negativ di sosmed. Saling melontarkan kalimat kasar, saling meneriaki suatu kaum yang tidak mereka suka atau yang mereka anggap kafir. Semudah meludah di tembok mereka mengucapkan kata kafir.

Itulah kenapa saya bilang saya gak mau ikut-ikutan peduli. Kalopun saya peduli, itu karna saya benar-benar peduli pada korban tersebut. Benar-benar atas dasar kemanusiaan. Dan saya berharap, orang-orang di Palestina sana, di Suriah sana, dan di beberapa negara islam lainnya yang kini sedang berperang selalu dilindungi Allah SWT. Karena Tuhan tidak pernah tidur, atau ketiduran  saat akan menolong mereka. Percayalah bahwa perang ini akan berakhir suatu hari. walaupun kata suatu hari ini masih menjadi misteri. But, just hang on Suriah. Bertahanlah. Karna walaupun jutaan manusia mati di tangan lawan di sana, maka saya percaya ada lebih dari jutaan doa untuk mereka.

Dan saya percaya entah bagaimana caranya, bahwa Tuhan sudah merencanakan sedemikian rupa bagi korban perang tersebut. Dengan cara yang baik, Tuhan memberi yang terbaik. Jadi, daripada koar-koar mencari ini kesalahan siapa atau sibuk mencaci si udang dibalik batu, saya rasa berdoa dengan tulus untuk semua korban adalah cara terbaik. Dan untuk anak kecil yang fotonya kini sudah beredar di mana-mana, Nak percayalah kamu sudah ada dalam lindungan Tuhan. Dan percayalah dunia tidak sekejam yang kamu lihat. Masih banyak orang baik yang akan kamu temui di hidupmu kelak.

So’ just hang on too kiddos …

Jangan Gampang Percaya Hoax!

Kita hidup di zaman sosmed. Zaman di mana gadget jadi barang sepenting dompet. Eh, tentunya dompet yang isinya uang ya 😁 ( dengan hitungan uang banyak, bukan recehan 😜) Dan kita juga hidup di zaman teknologi. Di mana segala sesuatu dipermudah penggunaannya. Termasuk penggunaan sosmed. Sosial media menjadi hiburan yang menarik, iya menarik. Menarik kita dari dunia nyata 😄 

Ngaku aja, dulu hidup tanpa handphone kita fine-fine aja. Orang-orang tua kita dulu yang menjalani LDR juga masih bisa menjalani suatu hubungan jarak jauh walau hubungan hanya tersambung oleh secarik kertas bernapaskan rindu. Komunikasi yang kita jalin dengan teman baik yang dekat maupun yang jauh juga gak ada masalah. Itu dulu. Waktu belum zaman handphone. Setelah handphone muncul, mendadak komunikasi jadi hal yang begitu penting. Dan seiring dengan berjalannya waktu menyusullah smartphone. Anak kecil, tua, muda, dan dari beragam kalangan menengah ke bawah hingga atas semua menjadi pengguna smartphone. Hidup pun berubah. Kita semakin menarik diri ke dalamnya. Karna apa? Sederhana. Karena berbagai kemudahannya.

Masalahnya, tidak semua pengguna smartphone bisa menggunakannya dengan cara pintar. Punya facebook cuma dipake curhat di status atau ngeshare berita yang menjelek-jelekkan orang atau suatu komunitas tertentu. Facebook jadi seramai tempat ibu-ibu arisan. Penuh dengan gosip, isu dan beragam berita yang belum tentu benar. Banyak sekali media elektronik abal-abal yang bikin berita gak jelas atau gak sesuai data. Ah, saya mana peduli soal data. Saya pun bukan orang yang punya banyak waktu untuk mencari data mengenai berita yang sudah terlanjur beredar atau berita yang lagi ngehits.

Saya baca di salah satu artikel yang membahas tentang rokok. Tahu kok tahu, kampanye anti rokok lagi digembor-gemborkan sesering mungkin. Saya juga punya suami dan ayah yang perokok. Saya setuju? Tentu saja nggak. Apalagi saya sebagai perokok pasif juga merasa gak nyaman sama asapnya, alih-alih saya lagi hamil gede begini. Tapi masalahnya, banyak orang yang asal share saja masalah harga rokok yang katanya naik jadi 50rb. Ah, saya mah sebodo amat. Kalo pun iya naik yang rugi paling suami karna dia akan ngeluarin duit lebih gede saat ingin merokok. 

Tapi, walaupun saya juga gak suka kalo suami atau ayah saya merokok saya kok gak nganggep itu berita bagus (andaikata berita itu benar). Kenapa? Karna saya gak mau ikut-ikutan orang lain. Hanya karna benci pada perokok atau gak suka sama orang-orang di sekitar saya merokok lalu saya jadi ikutan lalala-yeyeye denger berita harga rokok mau naik. Makanya saya gak langsung ngeshare berita tersebut. Karna selain beritanya belum tentu bener, saya juga gak mau ikut-ikutan mencari pembenaran tentang bahayanya merokok. Karna, as I know yang mematikan dan menimbulkan penyakit itu bukan cuma rokok. Asap kendaraan yang gak kita sadari kita hirup setiap hari pun sama bahayanya. Obat yang sering kita konsumsi saat sakit kalo terlalu sering digunakan sama-sama mendatangkan penyakit. Makanan minuman pabrikan yang dibilang menyehatkan juga bisa jadi penyebab kanker. Dan masiiiiih banyak lagi penyebab penyakit lainnya di sekitar. Tapi apa pernah dibahas sesering membahas bahayanya merokok? Maksud saya, kenapa penyebab-penyebab penyakit yang lain gak dibahas juga. Gak digembor-gemborkan juga. Apa hanya karna rokok menjadi pendapatan terbesar di Indonesia dan ada banyak pihak yang tidak suka itu? Entahlah. Cari saja data sebanyak-banyaknya. Bukan hanya data tentang anti rokok, tapi juga data tentang pro rokok yang tentunya masuk akal.

Jadi intinya, kita boleh ngeshare berita apapun di sosmed kita. Bebas kok. Sosmed-sosmed kita. Tapi mbok ya ditelaah dulu kebenarannya. Jangan asal klik share hanya karna kita setuju atau hanya karna orang lain ikut ngeshare. Pintar-pintarlah menggunakan smartphone. Biar sesuai sama namanya, ‘smart’.

Kamu yang baca tulisan saya ini, boleh setuju boleh nggak. Bebas. Toh ini hanya tulisan emak-emak yang ingin hati-hati aja dalam memilih berita, biar gak terjebak di berita hoax. Itu aja sih.

Ada Apa Dengan Penulis Besar Kita?

Ini kali pertamanya saya menulis dan membahas tentang tokoh. Terinspirasi dari apa yang saya baca di sosial media, ada 3 penulis yang anggap saja (besar) di Indonesia yang akhir-akhir ini selalu bikin ulah. Eh, maksudnya menuai kontroversi kayak Dewi Persik selepas jadi janda Saipul Jamil. Padahal ketiga penulis ini pernah saya idolakan. Walaupun gak ngidolain banget sih. Tapi saya sempat suka sama tulisan dan karya mereka. Buat saya yang juga (kebetulan) penulis (dan anggap saja begitu 😜), mereka ini tokoh panutan yang harus dicontoh di dunia penulisan karna hasil karya mereka yang bagus.

Saya juga pernah baca karya-karya mereka, dan pernah kagum. Kenapa saya gunakan kata pernah? Karena sayangnya sekarang sudah tidak lagi. Semenjak mereka mengkritik habis-habisan sesuatu yang tidak mereka suka atau menjadi orang yang lain yang saya pun kaget apakah mereka itu penulis yang saya kagumi sebelumnya?

Ketiga penulis ini adalah Masa Darwis Tere Liye, Mas Jonru, dan Mbak Zara Zettira. Untuk kamu yang suka baca nama-nama yang saya sebutkan. Dan buat kamu orang awam pasti tahu nama mereka sebatas dari sosmed. Dari kontroversi yang mereka buat jika itu memang bisa dikategorikan sebagai kontroversi.

Mari kita bahas satu per satu. Pertama Mas Tere Liye dulu. Saya pernah like fan page dia dan rajin juga ngeshare status-status dia yang kala itu menurut saya bagus, mengandung motivasi, atau mengandung unsur menyindir pada hal-hal yang tidak lazim di masyarakat. So far saya suka. Saya like fan page Beliau dari zaman sebelum menikah. Tahu donk perempuan labil yang masih mencari jati diri plus cari jodoh kalo dikasih motivasi-motivasi tentang hidup bisa langsung klepek-klepek. Yah, itulah saya. Sampai akhirnya Mas Tere membuat status tentang sejarah Indonesia yang dikecam banyak pihak. Eh, sampe di situ saya masih membela Beliau karna saya sempat ngeshare sanggahan Beliau tentang status yang dia buat. Tapi lama Kelamaan saya kok gerah juga sama status-status dia yang (menurut saya) terlalu tajam dalam mengomentari sesuatu. Saya gak peduli masalah data yang dia sebutkan karna saya gak pernah repot-repot nyari perbandingan atau pembenaran atas kesahihan data tersebut. Tapi saya mulai gak Suka sama cara Beliau. Dan akhirnya saya memutuskan untuk meng-unlike fan pagenya. Maaf Bung Tere, tapi hidup adalah pilihan bukan? Dan betewe, saya masih suka buku-buku anda dan masih ingin mencoba membaca another judul.

Mas Jonru. Saya sempet kaget waktu Netizen membicarakan Beliau di setiap forum atau sosial media. Tentang kalimat-kalimat dan tulisan-tulisan kasar Beliau pada Pak Jokowi. Kenapa kaget? Karena, as I know Mas Jonru ini adalah pendiri penerbit buku indie sekaligus penulis dan surprisenya lagi saya pernah mengikuti kursus latihan menulis di milis yang dia buat by email. Seriously. Saya sampe make sure kalo Jonru yang Netizen maksud adalah Jonru yang sering email-emailan sama saya waktu saya masih ABG. Saya gak nyangka orang yang menurut saya pintar di bidangnya (yaitu penulis) jadi orang yang dikit-dikit bawa politik dan agama ke tulisannya. Dan pertanyaannya, kenapa dia seolah alih profesi dari penulis ke penghujat? Sampe niat bikin meme-meme memalukan untuk Pak Jokowi. Kok, malah jadi keliatan tingkat kecerdasannya sampe level mana. Dan lagi-lagi saya kecewa. Karena cara Beliau mengungkapkan ketidaksukaan pada seseorang kok ya kasar banget. Saya bukannya membela Pak Jokowi walaupun dulu saya memang memilih Beliau. Tapi Mbok ya kalo gak suka itu tunjukan dengan cara yang lebih cerdas. Apalagi yang namanya penulis justru cenderung lebih mudah untuk marah-marah di status dengan cara yang cerdas. Karna kami para penulis lebih bisa membolakbalikkan kata. Dan sayangnya, Mas Jonru belum dikategorikan ‘cerdas’ yang saya maksud. Dan yang lebih disayangkan lagi, jumlah pengikutnya pun masih terbilang banyak. Duh, harusnya sih kita gak ikut-ikutan gak cerdas ya.

And the last is … Mbak Zara Zettira. Saya juga pernah follow Beliau di twitter sampe akhirnya saya diblock 😂😂😂 padahal saya kagum sama Beliau karna tulisan-tulisannya. Saya juga punya salah satu bukunya. Tulisannya bagus, sesuai dengan tipe penulisan yang saya suka. Dan dia jadi penulis udah lama banget. Jauh sebelum muncul Mas Tere dan Mas Jonru di dunia penulisan. Saya udah sering baca karya Beliau di salah satu majalah remaja, dan kala itu saya masih duduk di bangku SD (lupa tepatnya kelas berapa).

Mbak Zara ini adalah pendukung atau (kalau gak salah) jadi salah satu tim sukses Pak Prabowo di pemilu tahun 2014 kemarin. Dari tweet-tweet Beliau yang saya baca, semua isinya tentang mengumandangkan kelebihan-kelebihan Pak Prabowo. Sampe di situ gak ada masalah karena ya wajar lah karna Beliau kan pendukung Pak Prabowk garis keras. Tapi yang bikin saya ilfil adalah tweet Beliau yang terang-terangan menjelekkan lawannya yaitu Pak Jokowi dan para pendukungnya. Sekali lagi ini bukan tentang membela Pak Jokowi karna walaupun saya memilih Beliau tapi saya gak terlalu suka-suka amat sih 😁 tapi menurut saya, hanya karna kita mendukung seseorang bukan berarti kita boleh menjelekkan lawannya. Dan caranya udah gak cerdas. Ini juga yang bikin saya bingung, penulis sepintar Mbak Zara kenapa jadi kebelinger gitu menjelekkan seseorang.

Dan puncaknya saya ilfil sama Beliau adalah waktu Beliau ngetweet tentang (seperti biasa) Pak Prabowo, saya iseng komentarin dengan bilang bahwa gak semua follower Beliau adalah pendukung Pak Prabowo. Dan dia membalas dengan (kalo bisa disebut nada) nada yang keras dan ngotot. Bahwa tweet dia barusan khusus untuk pendukung Pak Prabowo. Dan tak lama kemudian saya pun diblock. Waw! Its surprising. Penulis sebesar Zara Zettira ngeblock follower hanya karna membela mati-matian orang yang dia anggap punya segudang kelebihan. Gak masalah sih saya diblock, malah waktu itu saya ketawa-ketawa aja. Tapi, malah keliatan kan level kecerdasannya sampe mana.

Ah, tapi sudahlah. Siapa pulak saya patut menilai kecerdasan ketiga penulis besar ini. Saya cumak emak-emak yang tiap hari dasteran dan sibuk ngurus anak di tengah perut yang membuncit dan selulit yang menyebar di seputar perut *eeeaaa buka aib 😂😂😂

Tapi saya cuma ingin mengungkapkan pendapat saya pada ketiga penulis tersebut. Karna satu hal yang buat saya kecewa. Sayangnya, profesi mereka adalah penulis. Yang sayangnya lagi, saya menumbuhkan jutaan harapan besar pada setiap penulis. Bahwa penulis itu harus cerdas dan pintar seperti isi tulisannya. Bukan berarti mereka yang saya bahas ini gak cerdas dan pintar ya, tapi apa yang mereka lakukan sayangnya tidak mencerminkan kecerdasan seorang penulis. Tapi sudahlah, saya mau kembali ke dapur aja. Kembali kotor-kotoran dengan memerankan profesi saya as a housewife. Dan biarkan mereka tetap menjadi penulis yang saya harap tetap menghasilkan tulisan yang bagus dan ada manfaatnya. Bukan dengan isi yang negativ misalnya menjelek-jelekkan seseorang.

Sekian dan salam dari dapur ✌👌😂

Out of control

I learn something. Sesuatu yang klise dan sudah bukan jadi rahasia umum lagi, tapi gampang dilupakan. Termasuk saya, yang seolah baru menyadarinya sekarang. Gak perlu dikasih tahu lagi, bahwa hidup yang kita jalani sekarang sudah diatur sedemikian rapi oleh Tuhan. Dan kita tahu itu karna keyakinan kita akan adanya Tuhan. Bahwa walaupun Dia tidak berwujud tapi Dia memegang peran besar di hidup kita.

Dan begitulah. Akhir-akhir ini saya merasa bahwa ada banyak hal atau sebut saja rencana atau bisa juga disebut perkiraan yang meleset. Yang tidak sesuai dengan apa yang kita duga dan pikirkan. Saya seperti baru diciprati air yang begitu dingin, yang membuat saya bangun dan membuka mata. Saya kayak tersihir sama pikiran saya sendiri. Ya, seberapa rapi pun kita berencana jika memang Tuhan belum menghendaki ya tidak akan ada yang namanya realisasi.

Sebenarnya ini sudah sering terjadi di hidup kita. Bukan cuma hidup saya, tapi juga hidup kamu, dia, kalian, dan mereka. Hal-hal di luar kendali ini lumrah terjadi di hidup kita. Hanya saja kita sering lupa. Saya belajar bahwa dalam hidup jangan memaksakan apapun. Dari hal kecil hingga hal besar. Berusaha boleh, tapi jangan memaksa. Karna hidup kita bukan hanya kita yang menjalani. Tapi ada campur tangan Tuhan. Dan mungkin saya pun sedang lupa. Tadinya sudah berhasil saya terapkan dalam hidup. Tapi mendadak saya jadi lupa hingga terkesan saya memaksakan hal-hal yang diluar kendali saya. Ini murni gerakan tangan Tuhan.

Contoh kecilnya, saya dan suami termasuk yang telat membuat kartu jaminan kesehatan dari pemerintah. Dan kami baru membuat kartu tersebut pas saya hamil ketiga ini. Maklum lah, Pak Suami bukan pekerja kantoran yang punya tunjangan kesehatan cuma-cuma dari kantor (And we’re no regret about it, bukan masalah besar bagi kami). Karna kami percaya bahwa kami mendoktrin diri sendiri untuk selalu sehat dan masalah sakit itu urusan Tuhan. I means, kami tidak khawatir karna ada tangan Tuhan yang pasti akan menolong. Dan kami juga bukan tipe orang yang menggantungkan hidup pada asuransi ( sorry for this, maybe we’re different. Tapi setiap orang berhak punya pilihan masing-masing kan)πŸ˜€

Tapi saat saya hamil, Pak Suami menyarankan kita bikin kartu aja. Bukan karna pada akhirnya kami takut tidak bisa membayar biaya rumah sakit atau khawatir Tuhan ketiduran hingga lupa menolong. Tapi jika ada jaminan kesehatan dari pemerintah dengan harga terjangkau ya kenapa tidak. Karna saya minta bantuan orang yang biasa mengurus masalah kartu tersebut, waktu yang tadinya hanya dijanjikan 2 minggu molor banget jadi lebih dari 2 bulan. Dan si kartu tak kunjung muncul. Saya sudah mengusahakan berbagai cara, hingga stress sendiri.

And one night, saya bilang pada suami saya lelah dengan urusan kartu yang tak kunjung selesai ini dengan ribuan alasan yang tak masuk akal. Ah, sudahlah … Nyeritainnya aja stress sendiri 😥

Dan Pak Suami bilang, ya udah gak usah dipikirin. Kalo memang harus jadi ya jadi. Kalo nggak ya gak papa. Kita berdoa aja dedek bayi bawa rezekinya sendiri. Dan biarkan Tuhan yang bekerja. Akhirnya saya sadar, saya terlalu memaksakan kehendak. Toh saya nggak tahu rencana baik Tuhan. Dan yang penting saya juga sudah mengusahakan kan. Tapi kalo hasilnya masih hitam putih tanpa kepastian juga, ya sudah. Berhentilah. Inilah. Inilah yang saya maksud bahwa ini di luar kendali saya. Walopun orang-orang di sekitar saya mulai sibuk menyalahkan keadaan. Ya gimana ya, mana saya tahu prosesnya akan panjang begini. Dan menyalahkan keadaan juga tidak akan menyelesaikan masalah bukan?

Bukan hanya itu saja yang akhir-akhir ini terjadi di luar kendali dalam hidup saya. Tapi akhirnya saya benar-benar sadar bahwa saya sudah berusaha banyak atas rencana-rencana saya. Atau mungkin saya masih harus berusaha lagi, tapi dengan catatan. Tanpa memaksakan kehendak apapun dan siapapun. Biarkan Tuhan yang bekerja pada akhirnya. Minimal saya tahu bahwa Tuhan masih akan selalu menolong saya dalam keadaan apapun. Dan tahukah kamu? Lagi-lagi jawabannya adalah pasrah. Pasrah pada setiap keputusan dan kehendak-Nya karna Dialah yang berhak menentukan. Dan apapun itu, saya percaya itu baik buat saya dan buat kelangsungan hidup saya. So’, out of control tidak selamanya buruk bukan?πŸ™‚

Salahin hormon kehamilan 😅

Sebenernya udah ngantuk, tapi tiba-tiba kepingin nulis. Karna aku sedang butuh ruang untuk menjaga agar pikiran tetap waras. Karna entah kenapa, berlembar-lembar halaman buku yang sudah dilahap habis masih gak ngefek. Mungkin si hormon kehamilan lebih merajai tubuh dan jiwa sekaligus. Jadinya ya gitu, susah menjaga pikiran agar tetap waras. Aku malah merasa semakin gila dari hari ke hari (Pardon me!)

Hmmm, rasanya pernah sempet cerita ya kalo kehamilan ketiga ini rasanya lebiiiihhh berat. Walopun mual sama muntahnya mah gak ada yang bisa nandingin hamil pertama. Tapi, entah kenapa hamil ketiga ini jauh-jauh lebih berat saat dijalani. Aku seperti sedang dipermainkan oleh hormon setiap hari. Aku jadi lebih impulsif, sensitif, gampang marah (walopun di saat gak hamil juga emang gampang marah 😜), cepet tersinggung, lebih nyebelin, lebih cengeng, dan lebaaayyyy.

Asli! Ke semuanya jadi satu. Berbaur saling tumpuk di tubuh dan jiwaku. Maunya sih gak nyalahin hormon atau kehamilan itu sendiri, tapi entah kenapa ngeliat gelagat diri sendiri yang hampir tiap saat marah-marah yang terlintas itu ya si hormon. Tapi kalo aku cerita ke orang-orang tentang si hormon yang sudah mengubah hidupku (eeeaaaa 😅) pasti disangkanya pembelaan karna lagi hamil. Sama halnya dengan ibu hamil yang makannya banyak dan lapar terus tapi selalu disalahkan orang sekitar karna katanya emang dari sananya rakus aja bukan karna lagi hamil (curcol 😂) padahal emang bener kan ibu hamil itu harus banyak makan karna yang di dalem perut juga harus dihitung. Yaaa walopun sometime emang suka pembelaan karna lagi hamil sih (biasanya kalo lagi kepengen makanan yang susah dicari) #pengakuan 😅

Dan durhakanya lagi aku sebagai seorang ibu adalah, kadang nyesel kenapa harus hamil sekarang. Bukan berarti gak mau nambah anak. Tapi kenapa harus sekarang? Pas anak pertama masih kecil dan masih butuh ibunya lebih sering lagi. Belum lagi orang-orang sekitar yang komentar ‘kasian kakaknya masih kecil tapi udah punya adik’. Walopun seringnya aku abaikan karna kalo dipikirin gak guna juga. 

Stressnya lagi, kehamilan dan hormon-hormon yang merampas kebahagiaanku ini bentrok sama masalah-masalah dalam rumah tangga. Bukan relationshipnya sih, tapi … Ada beberapa masalah yang cukup bikin kepala pening. Duh, kenapa si masalah ini harus muncul di saat yang menurutku ‘kurang tepat’ ini. Inilah yang bikin aku gak konsen sama kehamilanku, sama dedek bayi di dalem perut, dan sama kesehatanku selama kehamilan. Aku juga punya ketakutan besar. Takut gak bisa bagi waktu antara anak pertama, urusan rumah tangga, dan si dedek bayi pas dia lahir. Ngebayanginnya berasa horor. Lebih horor daripada ngeliat si Valak ngegym karna pengen punya otot kayak Agnes Monica. Duh!

Mana pengendalian emosi terhadap orang sekitar khususnya anakku yang pertama belum bisa aku tahan. Kasian kalo dia kena marah terus. Percuma donk aku belajar parenting kalo masih belum bisa mengolah emosi yang baik sama anakπŸ˜₯ (mulai termehek-mehek) 

So’ pada akhirnya aku cuma bisa pasrah sama Tuhan (yang sayangnya akhir-akhir ini sering aku salahkan karna hidupku yang dirasa gak baik-baik aja). Entah kenapa keyakinanku luntur sedikit. Aku protes mulu sama Tuhan. Seolah itu bakal ngaruh sama keadaan hidupku. Yah, mungkin aku terlalu malas untuk berdoa dan terlalu sombong untuk meminta. Padahal, masalah dan keadaan hidup di titik nol itu adalah tanda bahwa kita begitu lemah dihadapan-Nya. Yang artinya begitu membutuhkan pertolongan-Nya. Hanya saja, aku terlalu malu untuk mengakui. Dan melangkah ke rumahNya saja seperti masuk orang tapi gak pake baju. Padahal kita semua tahu, pintu Dia selalu terbuka. Mungkin aku hanya terlalu lelah untuk berharap lebih dariNya …