Tuhan, kapan Engkau marah?

Tulangku seperti melepuh saat membaca kalimat yang kurang lebih bunyinya seperti ini, ” Saat kita memasuki masjid, lalu menghadap Sang Kuasa berjajar dengan manusia-manusia lainnya. Sadarlah kita bahwa kita hanya manusia biasa yang sejajar dengan manusia lainnya. Dan merendah serendah-rendahnya dihadapan-Nya.”

Seperti biasa, aku lupa keberadaanNya saat sedang terpuruk. Aku merasa tenggelam sendirian ke tempat yang asing. Hingga lupa bahwa Dia selalu menemani. Yah, mungkin aku terlalu dunia. Memikirkan ego yang memenjarakan emosi sedikit demi sedikit setiap hari. Everyday is like a war day. Aku berperang dengan diriku sendiri. Dengan emosi yang tak kunjung reda. Yang menggerogoti kebahagiaanku yang ternyata bukan bahagia. Ini bahagia buatan.

Aku juga lupa. Aku ini apa sih? Hanya secuil butiran dari keMahaanNya. Aku tak ada artinya. Aku tergerus oleh kemarahan dan kesedihanku sendiri. Energiku habis untuk kemarahan yang tak terhingga ini. Hingga kemudian aku sadar, jika aku yang marah lalu kapan giliran Tuhan yang marah?

Jika saat aku melakukan dosa atau kesalahan lalu Ia marah, mengapa hingga saat ini hidupku masih terasa nikmat. Dan pertanyaan yang kini terpatri di otakku, ” Tuhan, kapan Engkau marah?”

Betapa Lucunya Hidup

Pernah baca salah satu tweetnya Arman Dani (bukan Ahmad Dani yess 😂), bahwa justru ketika kita berhenti menginginkan sesuatu Tuhan justru mengabulkan permintaan kita. Memang hidup sebercanda itu. Kadang hidup memang begitu lucu. Terlalu lucu untuk ditangisi atau ditertawakan. Kenapa saya bilang lucu? Karna, kadang apa yang tidak kita sukai dalam hidup suatu hari nanti malah menjadi hal yang dirindukan. Seriuously, ini nyata.

Cerita dikit ya. History dibalik saya ingin membahas tentang kelucuan hidup di blog suka-suka ini (btw, lucu juga namanya blog suka-suka 😝). Suka-suka gue lah mau diisi dengan tulisan apa. Hihi. Oke, back to topic. Jadi, dulu waktu masih zaman pacaran sama pacar terakhir saya, jalannya itu gak mulus. Jalan yang harus kami hadapi itu jelek dan bolong-bolong. Mirip jalan di kabupaten yang gak dibenerin sama Bupatinya *eh kenapa jadi curcol 😜😝

Kenapa jalan hubungan kami gak mulus? Karena ada kendala di restu orang tua. Biasalah namanya orang tua ingin yang terbaik buat anaknya. Dan pacar saya kala itu sempet belum dipercaya bisa bahagiain anaknya kalo kami menikah. Kami masih dianggap hanya akan makan cinta dan modal baper untuk menikah. Di luar apa itu definisi cinta, pokoknya kami tidak dipercaya dalam membina rumah tangga. Dan selama kami berpacaran tak hentinya saya didoktrin tentang betapa buruknya pernikahan. Rupa pernikahan itu mirip si Valak. Nyeremin pake banget. Hampir setiap hari saya nangis, kenapa saat saya menjalani hubungan serius dengan pria yang (menurut) saya tepat jalannya harus penuh liku. Saya sedih, kenapa orang tua tidak percaya bahwa kami mampu. Walaupun memang wajar ketakutan orang tua didasarkan oleh banyaknya kegagalan rumah tangga anak remaja yang mengatasnamakan cinta.

Tapi selama 2,5 tahun itu kami berusaha dan berusaha. Tak pernah menyerah. Lucky me, pacar saya saat itu mau diajak kerja sama. Walaupun kami harus menjalani hubungan sembunyi-sembunyi tapi buat saya dia cukup bertanggung jawab dalam mengajak saya belajar berumah tangga. Karna saat saya bilang saya takut kehidupan rumah tangga saya kelak akan seburuk apa yang diramalkan oleb banyak orang, dia bilang artinya kita harus menguatkan pondasi dari sekarang. Biar nanti saat menjalani rumah tangga, kita sudah punya pondasi yang kuat. Yang gak gampang goyah. Karna saat itu memang bukan hanya orang tua saya saja yang tidak percaya hubungan kami bisa berhasil. Orang-orang di sekitar kami pun ikut meramalkan hubungan kami yang gak akan bisa di bawa ke mana-mana. Dan cukup banyak juga saat itu orang-orang yang nyambi jadi Tuhan, sok yang paling tahu segalanya tentang jalan hidup kami.

Sampe akhirnya kami mengantongi restu dan izin dari orang tua untuk menikah, duh … Rasanya legaaaa banget. Apa yang kami usahakan terbukti berhasil. Yah, habis mau gimana lagi. Ada campur tangan Tuhan sih di sini. Jadi tangan manusia yang saat itu mencoba memisahkan kami ya pasti kalah sama tangan Tuhan. Kalo diinget-inget lagi masa-masa itu memang menakutkan dan menyedihkan. Sungguh! Perjuangan kami gak mudah. Tapi sekarang, entah kenapa kadang saya kangen sama masa-masa berjuang itu. Sekarang, saat saya sudah di masa kini yang saat itu statusnya masih masa depan, rasanya saya bisa menertawakan hidup saya di masa lalu. Apa yang saya tertawakan? Kebodohan saya, pikiran ketakutan saya yang belum terjadi, dan menertawakan kesedihan saya yang padahal sifatnya sementara. Padahal mungkin setiap saya merintih dalam doa, Tuhan tak hentinya berbisik. Sabar, tunggu sebentar …

Betapa lucunya hidup ini. Saat kita sudah terbebas dari rasa sakit yang sayangnya kita sendiri yang menciptakan, justru disitulah kita merasa ingin mengecap rasa-rasa itu. Karna kita sering lupa bahwa saat kita merintih dalam sedih itu, justru ada banyak bahagia yang menyelimuti. Hanya kadang kita tak sadar karna terlalu fokus pada kesedihan.

Mungkin ini bisa dijadikan pelajaran. Saat sedang menghadapi sesuatu yang serba gak enak dalam hidup, ingatlah bahwa suatu hari nanti kita justru akan merindukan masa-masa ini dan malah menertawakan kesedihan kita sendiri. Hidup selalu menawarkan sesuatu. Entah itu sesuatu yang indah atau sesuatu yang menyedihkan. Tapi apapun yang ditawarkan oleh hidup, mau tidak mau suka tidak suka harus kita terima. Karna justru dengan menerimalah kita bisa berdamai dengan hidup. Semesta terlalu luas untuk hanya dijadikan tempat untuk meratap. Haha. Kenapa jadi sok bijak gini?

Padahal kegiatan sehari-hari masih meratapi hidup yang gak sesuai dengan yang diinginkan. Dulu, mati-matian minta sama Tuhan ingin punya anak. Setelah dikasih 2 tiba-tiba menyesal. Apakah dulu memang saya ingin punya anak atau sekadar biar bisa update di sosmed bahwa saya hamil, melahirkan lalu punya anak yang (alhamdulilah) sehat dan lucu? Ini jadi pertanyaan tersendiri buat saya pribadi. Jangan-jangan keinginan saya untuk punya anak biar saya mainstream kayak orang-orang doank tanpa mau menerima seabreg tugasnya. Duh …

Betapa lucunya hidup. Hidup menawarkan kebahagiaan di saat kita berhenti menengadahkan tangan pada Tuhan saat meminta sesuatu. Jadi berhati-hatilah saat menginginkan sesuatu. Karna Tuhan, tahu apa yang kita butuhkan dalam hidup. Hingga Dia selalu memberi apa yang kita butuhkan. Bukan apa yang kita inginkan. Bukan apa yang kita ulang-ulang kalimatnya saat berdoa. 

Betapa lucunya hidup, jadi mari kita tertawakan kesedihan kita yang sementara ini …

Being a Mom

Sorry for this boring story. Karna emak-emak ini mungkin sudah terlalu sering bercerita tentang menjadi seorang ibu. Apalagi kalo isinya tentang mengeluh, pasti membosankan. But I need to share this, buat ngecek sudah separah apakah tingkat kewarasanku sebagai seorang ibu 😂😂😂

Dan aku selalu butuh ruang menulis keseharianku. Bukan untuk pamer (apapulak yang harus dipamerin 😅), dan bukan untuk show-who-I’m. Ah, gue bukan siapa-siapa pulak. Tapi aku memang butuh me time yang tepat. Dan menulis adalah mediator yang tepat untuk menumpahkan apa yang gak enak di hati (menurutku). Yah, daripada sibuk ngeluh di status kan gak guna juga.

So’ here I’m. Setelah merasakan repotnya ngurus batita dan merasakan sulitnya bagi waktu antara 2 anak kicil itu, akhirnya aku ingin menumpahkan sedikit saja keluhanku di sini. Dan hasilnya, yess I’m stress. Sempet yang hilang nafsu makan beberapa hari. Kalo gak inget lagi menyusui mungkin aku akan memilih untuk gak makan seharian. Emosi juga memuncak hampir setiap menit, Karna anak pertamaku yang (unlucky me) bikin ulah terus. Belum lagi bolak balik ganti popok cuci popok. Duh rutinitas semakin bertambah banyak. Waktu tidur semakin berkurang, dan semuanya terasa melelahkan. Siang marah-marah sama Alkha, malem nyalahin diri sendiri gara-gara marah-marah terus sama anak. As I know that its totally wrong. Being a mom, is sooooo long tired. Capeknya gak berhenti. Sampe tiap muncul si emosi, aku langsung istihgfar dan berdoa minta dikasih kesabaran & kekuatan sama Tuhan. Asli, aku nyerah. Gak bisa menghandle ini sendiri (maksudnya secara mental ya, bukan secara tenaga). Dan pasrah sama Tuhan adalah satu-satunya cara. Karna Pak Suami bilang Tuhan maha pengatur yang baik. Dan hidup kami sudah diatur sedemikian baiknya sama Tuhan. Aku sadar, Tuhan kan bukan Pak RT yang salah kaprah dalam mengatur warganya. Tuhan juga bukan Gubernur yang lupa diri dalam mengurus masyarakatnya. Atau atasan yang gak becus ngatur bawahannya. Bukan. Dialah Tuhan, yang sudah mengatur hidup kita sampe detail sekecil-kecilnya. Lalu untuk apa kita khawatir? Tapi sayangnya, kita hanya manusia biasa yang tak hentinya bergulat dengan rasa khawatir dan rasa takut akan apa yang belum terjadi.

Aku hanya sedang lelah dengan rutinitas baru ini. Aku sedang tenggelam dalam hidup yang baru. Aku sibuk bermetamorfosa. Aku juga sibuk beradaptasi. Tapi aku sadar, Pak Suami dan Alkha juga sedang beradaptasi dengan hidup baru kami. Dengan kedatangan si bayik di hidup kami. Dan yang aku lupakan, si bayik juga sama adaptasinya dengan kami. Perpindahan dari hangatnya rahim Ibu ke dunia yang serba berisik ini pasti tidak mudah juga buat dia. Apalagi yang bisa dia lakuin cuma nangis. Aku lupa bahwa si bayik gak cuma bobok mimi cucu aja kerjanya. Mungkin, aku hanya sibuk memikirkan diri sendiri. Seolah-olah cuma aku yang beradaptasi hanya karna aku yang kebagian banyak capeknya.

Ketakutanku akan susahnya bagi waktu antara Alkha & Syera jadi kenyataan. Aku harus selalu putar otak untuk nentuin mana dulu yang harus didahulukan. Walopun seringnya dedek Syera yang dicuekin dulu sampe dia nangis-nangis kejer. And for me, my life is a surprise. And everyday is a surprise day. Karna saat bangun dari tidur, yang ada di otak adalah ulah apalagi yang akan dilakuin sama Alkha hari ini. Atau Syera bakal rewel gak ya hari ini? Saking menakutkannya … Kedua anakku seolah teror yang mencekam setiap harinya. Pikiranku pun penuh sama ion negatif. And I cant stay to be positiv. Poor me.

Sampe, one of my bestfriend say berbaik sangkalah sama Allah. Karna rencana Dia selalu indah. We’re just have to waiting it. Aku gak pernah muluk-muluk berpikir tentang berapa banyak pahala yang aku dapet dari being a mom ini. Honestly, I dont care. Aku cuma minta sama Tuhan biar dikasih kekuatan dan kesabaran. Biar bisa mengelola emosi saat ngurus anak-anak kecil ini. Aku gak mau anak-anakku yang jadi korban emosiku, imbas dari kelelahanku. Its unfair. Tapi menahan emosi dan amarah juga masih gak mudah buatku. Jadi aku masih terus belajar untuk itu.

Sampe pernah terlintas pikiran, Tuhan aku menyesal. Kenapa harus punya anak kedua secepat ini. Curse me. Karna itu pikiran bodoh dan jahat. Tak peduli seberapa lelahnya aku, itu tidak bisa dijadikan pembelaan. Aku mundur sebelum berperang. Aku juga sering bilang sama Tuhan, Ya Allah … Gak sanggup. Saking gak tahunya harus gimana saat menghadapi anak-anak yang menangis meronta-ronta dan saling minta didahulukan kepentingannya. Karna mereka belum mengerti tentang rasa. Yang mereka tahu, aku ibunya akan selalu ada 24 jam di saat mereka membutuhkan. Dan memang begitulah seharusnya.

Aku tak tahu sampai kapan keruwetan ini berakhir. Mungkin sampe aku lolos uji adaptasi. Dan satu-satunya cara sederhana yang bisa aku lakukan sekarang adalah menerima. Menerima keadaan bahwa aku seorang ibu dengan tanggung jawab 2 orang anak, menerima bahwa tugas seorang ibu memang seperti ini, menerima bahwa mau tidak mau aku harus menerima dan tak bisa lari ke mana-mana. Dan actionnya adalah, menghadapi. Menghadapi segala pahit yang terjadi setiap hari. Karna, anak-anakku adalah amanah. Dan Pak Suami bilang, jangan stress karna anak-anak tapi jadikan mereka penghilang stress. Buat seorang ibu rumah tangga itu gak mudah sihhh, tapi ya harus tetap dilakukan. 

So’  aku hanya berharap pada akhirnya aku bisa menikmati setiap keadaan yang sulit dan gak enak ini. Dan menerima apapun keputusan Tuhan akan hidupku. Being a mom, is the way to be stronger with happy😀

I Cant Life Without You, My Son

I cant life without you itu ternyata bukan hoax. Bukan hanya sekadar bait lagu. Dan bukan hanya tanda-tanda dari cinta buta semata. I cant life without you ini nyata adanya. Senyata jerawat yang muncul di jidat waktu PMS. Yess, I feel it. Dan rasanya gak enak, bawaannya galau 😥

Honestly, I cant life without my son. Semenjak lahiran seminggu yang lalu, saya jadi agak jauh sama si sulung. Karna pemulihan pasca oprasi caesar bikin saya gak bisa ngurus dia secara langsung. Thank God, God is sent me another Mom alias Ibu mertua yang dengan senang hati mau ngurusin anak pertama saya untuk sementara. Dan untungnya, Alkha emang tipe anak yang fleksibel. Gak terlalu susah untuk deket sama orang. Sama orang asing atau yang baru dia temuin aja gak gitu susah adaptasinya. Apalagi sama neneknya sendiri.

Dan karna dedek Syera masih orok banget, untuk ukuran habis oprasi kayak saya ini ternyata masih bisa menghandle sendiri. Karna kerjaan dia masih seputar mimik cucu dan bobo aja. Ditambah kerjaan rumah yang gak terlalu banyak dan sengaja saya batasin karna masih dalam tahap pemulihan. Dan sekitar 3 hari yang lalu, ibu mertua pulang dulu ke rumahnya. Mau gak mau Alkha harus diboyong ke sana karna saya belum kuat kalo harus ngurus 2 anak balita sekaligus. Apalagi Alkha lagi aktif-aktifnya. Yang pastinya akan lebih menguras tenaga saya yang masih terbatas.

Hari pertama, masih biasa aja. Belum berasa gak adanya. Rumah jadi lebih rapi dan bersih karna gak ada si sulung yang biasanya langganan ngeberantakin. Tugas saya juga gak gitu berat karna (lagi-lagi gak ada Alkha). Tapi mulai menjelang siang, mulai berasa kosongnya. Hmmm. Kayak apa ya? Hampa. Kopong. Kosong. Saya pun langsung telpon mertua dan nanya apa Alkha rewel. Alhamdulilah nggak, so far so good lah. Saya juga sempet ngobrol bentar sama dia. Ah, legaaaaaa. Saya berasa ‘terisi’ kembali.

Kirain galaunya bakal hilang. Ternyata nggak. Masuk ke malem, duh rasanya gak enak. Berasa gak enak mau ngapa-ngapain. Hari berikutnya, kerinduan saya sama Alkha ternyata tarafnya makin parah. Tambah angka stadium. Hiks. I’m crying alone. Sumpah rasanya gak tahan. Terdengar cengeng dan melankolis memang. Apalagi saya melahirkan masih dalam hitungan hari. Si hormon yang waktu hamil ngeberantakin masih acak adut. Belum normal kembali ke semula. Walaupun ngurus dia yang udah banyak maunya dan pengen ngelakuin semua sendiri itu melelahkan. Ngerayu dia biar mau mandi aja harus putar otak berulang-ulang, gimana caranya biar dia mau diajak mandi. Belum lagi kalo dia mulai bikin ulah. Apalah diberantakin, makanan dibuang-buang, main di luar kotor-kotoran, pas dipakein baju malah lari-lari. Sungguuuuhhh melelahkan. Belum lagi kalo muncul manjanya sampe nangis-nangis gitu kalo keinginannya gak diturutin. Memang iya bikin stress. Dan itu terjadi beberapa minggu sebelum adeknya lahir. Sampe saya bingung ini anak harus diapain. Entahlah mungkin naluri hati kecil dia yang tahu kalo adeknya mau lahir dan dia takut tersaingi. Mungkin ya.

Tapi pas, dia gak ada. Rasanya kayak nelen beberapa pil pahit gede-gede sekaligus. Rasanya segaenak itu :o😟:( Pernah dulu waktu nyapih dia, dan dia dibawa sama neneknya selama kurang lebih 3 hari. Kekosongan itu berasa banget. Dan terulang lagi sekarang. Hiks. Sedihnya pake banget. Gak nyangka efek gak ada anak kecil lucu ngegemesin yang kadang nyebelin tapi ngangenin itu sedahsyat ini. Hidup berasa useless aja. Dan gak punya semangat. Pak suami juga bilang biasanya ada yang ngerecokin dia kalo pulang kerja. Sekarang orangnya gak ada dan itu menyedihkan.

So’ slogan I cant life without you itu bener-bener nyata terjadi. Seriously, saya gak bisa hidup tanpa anak pertama saya itu. Apalagi tiap hari dialah yang selalu nemenin saya dengan setia selama bapaknya kerja. Kenapa saya bilang setia? Karna even saya ngambek, marah, dan kesel sama dia. Dia gak pernah balik marah atau kesel sama saya. Malah dia anaknya peka banget. Dia tahu kapan saya marah atau sedih. Dan saat itu terjadi, dia selalu minta saya peluk. Its more than just sweet 😍

Saya sampe mikir, mau maksain ngurus dia lagi tanpa bantuan ibu mertua. Yang penting dia di sini. Deket saya, gak jauh-jauh dari saya. Walopun saya masih dalam tahap pemulihan, belum bisa ngejar-ngejar dia kalo dia mulai lari-lari, dan udah kebayang capeknya kayak apa nanti. Tapi daripada saya dipisahin gini, rasanya sangat gak enak. Galaunya lebih dari segalanya. Gimana nanti lah, mudah-mudahan Tuhan kasih saya kekuatan dalam ngurusin anak sulung saya itu. Dan juga kasih kemudahan dan kesabaran. Saya percaya Tuhan gak akan pelit. Dan walopun kondisi saya lagi belum senormal seperti sebelum oprasi, yaudah saya cuma bisa minta kekuatan dan kesabaran sama Tuhan. Demi anak, dan demi saya sendiri yang galau ditinggal anak 😆

Saya kangen rutinitas yang biasa kami lakukan berdua sebelum si bayik lahir. Jalan-jalan berdua ke depan komplek sambil jajan makanan kesukaan kita. Saya juga ngerasa bersalah sama Alkha. Dengan umur dia yang masih belia banget, dia harus kehilangan masa-masa digendong sama ibunya. Karna semenjak saya hamil, saya bilang sama dia udah gak boleh digendong lagi. Saya jelasin juga kalo sekarang di dalem perut saya ada dedek bayi. Di mana anak-anak seumur dia masih digendong sama ibunya. Dan harusnya, umur segitu lagi sering-seringnya dilimpahi kasih sayang. Walopun selama hamil saya tetep perhatiin dia. 

So’ yess I cant life without you son. Walopun kamu sering bikin ulah dan bikin emosi jiwa (sometime) tapi kamu tetep ngangenin. Dan Momi bener-bener gak bisa hidup tanpa kamu. Kalo jauh sama kamu, Momi kayak tanaman yang udah gak disiram berhari-hari. Layu. Bantu Momi untuk kuat dan sabar ngurusin, ngebesarin dan ngedidik kamu. Kita berusaha sama-sama ya nak. You know, I love you more than I love myself 😍😘

Tualah, bersamaku.

I always wait this moment

To say what I feel

To say everythings …

Kamu. Hadiah yang sudah Tuhan siapkan sejak lama, dan diberikan di saat yang tepat. Kamu. Seseorang yang Tuhan tulis namanya di buku takdirku, dan Tuhan pun menulis ‘someone who always beside you.’ Lalu begitulah kamu. Tak pernah beranjak pergi di setiap keadaan. Kamu selalu ada.

Jadi, tualah bersamaku. Mari kita menua bersama. Saling menemani pertambahan usia. Dan selalu berdoa semoga Tuhan selalu mencukupkan bahagia kita. Semoga Tuhan selalu berada di antara perjalanan kita. Dan semoga Dia selalu merestui hubungan kita. 

Terima kasih kamu. Untuk cinta yang tak terbatas. Dan untuk semua yang sudah kamu lakukan untukku. Dan untuk kedua anak kita. Kamu tahu seperti apa rupa bahagia? Bahagia itu, kamu … 💏💋

Selamat ulang tahun sayang. Selamat tambah tua 👴👵💑

Demam Eifell I’m in love (Dulu)

Kemarin, film yang sempet ngeheiiittss banget pada zamannya diputar ulang untuk ke sekian juta kalinya di TV. Iseng aja sih nonton lagi walopun udah berulang-ulang nonton. Apalagi di jam-jam segitu lagi jarang tayangan rame. Eh, tapi tayangan TV sekarang mana ada sih yang rame. Banyakan juga yang gak mendidik kan. Sidang kopi sianida aja udah kayak sinetron striping 😅

Dulu, saya nonton filmnya Sammy sama Sandy Aulia ini pas masih kelas 2 sma. Ih. Waw 12 tahun yang lalu. Tua banget gue 😂😂😂 Dan selaku anak ABG alay pada umumnya, saya pun ngefans sama film ini. Nonton sama dengerin lagu-lagu OSTnya pun baper sebapernya. Tapi kemarin pas saya nonton lagi, kok biasa aja ya. Gak tersentuh sama sekali. Mungkin karna faktor umur juga yang bikin kepekaan sama yang bau-bau romantis mulai menipis. Atau karna sekarang lebih nyata aja sih menghadapi hidup 😁 Dulu mah nontonnya bisa sambil mikirin gebetan. Sekarang mah ada suami dan anak yang jelas dimiliki dan wujudnya lebih nyata 😆

Dan menurut saya, film-film semacem Eiffel I’m in Love dan beberapa film lain yang serupa pada zamannya cuma merusak imajinasi anak ABG atau anak-anak remaja sekarang sih. Kenapa? Karna film-film itu memang menyajikan racun yang sebenarnya dibingkis madu. Rasanya manis. Dan imajinasi kita memaksa untuk kita bermimpi ingin seperti dia si tokoh utama. Lahir dari keluarga orang berada, rumah mewah, sekolah elite, wajah cantik, sahabat baik yang selalu ada, dan seorang ibu berwujud malaikat tanpa sayap. Pokoknya semua sempurna. Dan kebanyakan perempuan yang sedang enjoy-enjoynya menjalani hidup yang penuh rayuan gombal ini akan tersedot ke dalam pusara madu tersebut.

Belum lagi si pasangannya yang lebih sempurna. Ganteng, tajir, pinter, dan cinta sama si tokoh utama bisa bikin kita kembali berimajinasi tentang pasangan yang seperti itu. Sayangnya … Kenyataan lebih pahit bro. Kadang kita gak nemu apa-apa yang bisa kita banggain di dalam hidup. Muka segitu-gitu aja, rumah biasa aja, sahabat malah ada yang berkhianat, pacar gak punya haha. Dan semua yang indah-indah di film itu bener-bener racun *ngalemin *okeskip 😂😅😄

Kalo zaman sekarang mah, racun berselimut madunya ada di drama korea. Secara tokoh cowoknya juga ganteng banget gitu. Dengan isi cerita yang romantis dibalut air mata, ya gimana gak bikin cewek-cewek ABG alay jerit-jerit sambil nangis-nangis. Seolah-olah lupa bahwa hidup ini terlalu nyata. Iyeee gue juga gitu dulu. Sempet ngalemin hal-hal kayak gitu. Gak heran kalo tiap nonton drama romantis langsung bapeeeerrrr. Tapi itu dulu ah. Sekarang mah lebih realistis. Walopun kalo nonton Lee Min Ho atau Lee Seung Gi mah tetep aja klepek-klepek ih hahaha 😂

Saya punya anak perempuan yang suatu hari nanti akan jadi anak gadis. Bukan little baby cute lagi. Saya harap sih dia gak terlalu berimajinasi tinggi kalo nonton pilem macem Eiffel I’m in Love ini. Cukup emaknya aja yang buta sama yang indah-indah. Dia mah cukup dengan bersyukur aja sama hidupnya yang insha Allah akan kami cukupkan 😆 etapi untuk sekadar pengalaman hidup pernah norak mah gak papa sih. Asal jangan kelewatan aja 😜

Dan setelah nonton film tersebut, saya gak langsung baper sampe meluk pak suami. Tapi back to breestfeading to baby aja. Back to reality brooo, Adit cuma ada di pilem doank. Not in reality 😆:)😄

Tugas seorang Ibu > Tugas seorang Presiden

Ih, waw. Aku bawa-bawa Presiden di tulisan kali ini. Bukan ah, bukan mau jadi fans atau haters Pak Jokowi. Percayalah, tulisan ini gak ada hubungannya dengan Pak Jokowi. Secarik kalimat yang kusampaikan di sini hanya sedikit dari ribuan curahan hati seorang emak-emak yang baru beranak 2 😂 seorang Ibu Rumah Tangga yang kadang-kadang curahan hatinya ingin didengar *prettt 😅

Kalo kamu masih mikir tugas Presiden itu banyak, yess kamu BENAR!! Ya mana ada tugas presiden cumak lap-lap kaca Istana Kepresidenan yang luasnya segede alaihumgambreng itu. Kan gak mungkin *ya iyalah Tong 😂 

Tapi, sebenernya ada tugas yang lebih banyak lagi dari Presiden (ini sih menurut gueh). Yaitu tugas seorang Ibu. Karna setelah aku jadi Ibu rumah tangga sejati *eciyeh 😅 aku jadi tau kalo tugasnya Ibu di rumah itu banyaaaakkk banget. Dan never ending story alias gak beres-beres. Jangankan anak udah gede atau anak banyak, anak baru 1 aja capeknya udah berasa. Sakit pinggang atau punggung udah jadi santapan sehari-hari. Udah kayak lagi makan burger deh 😝

Gak usah diceritain lagi lah tugasnya apa aja. Artikel-artikel yang dishare di facebook atau meme-meme tentang ibu rumah tangga toh udah banyak. Kamu yang jadi ibu rumah tangga pasti udah ngalemin. Dan kamu yang jadi career woman juga pasti udah familiar banget kalo ibu rumah tangga di rumah tuh ngapain aja. Kecuali mungkin bapak-bapak atau suami-suami yang gak peka sama kerjaan istri di rumah atau yang gak tahu daftar kerjaan istri di rumah sepanjang apa *eh *ups 😜

Aku cumak mau bilang kalo tugas presiden rasanya jadi gak jauh lebih besar dari tugas seorang ibu di rumah. Bayangin aja, waktu kamu lagi harus nyuci cucian baju yang numpuk segunung anak teriak dari kamar. ” Aku EE!!!”. Pak Presiden mana bisa nyuci baju sambil nyebokin anak 😝 

Dulu waktu anakku masih 1, duh rasanya udah berat aja. Belum nyiapin makan alias masak, beres-beres rumah, nyuci baju kalo kebetulan cucian lagi numpuk, mandiin anak (dengan catatan anak lagi gak nyebelin sampe susah diajak mandi ya *pengalaman 😂), terus belum lagi bikin nasi, bikin air minum, dan tambahan tetek bengek lainnya kayak anak ingin makan apa gitu lalu udahnya berantakan kotor di mana-mana. Kehebohan pagi itu masih berlanjut sampe siang dan lalu malam. Kebayang gak rutinitas padat itu dilakukan berulang kali setiap hari. Huft …

Emang sih sekarang belom kebayang gimana repotnya ngurus anak 2 tanpa ART dengan ukuran jarak anak yang deket banget itu. Tapi heboh dan rempongnya udah menari-nari di kepala dari waktu aku masih hamil. Haha. Sekarang si bayik kerjaannya masih mimi cucu-bobo-bangun bentar-pipis-pup gitu doank, ntaran pas dia gedean dikit pasti kehebohan dimulaiiiii.

Haha. Tapi seru sih. Walopun capek, aku mulai menikmati tugas berat ini. Yah, kubilang berat karna emang banyak dan gak mudah. Yang bikin tambah berat itu kalo kepala lagi ruwet banyak pikiran, lagi kurang tidur, lagi kurang makan, lagi gak enak badan, atau lagi kurang minum air putih. Nah, ini bagian tersulit. Karna emosi jadi gampang naik dan anak yang kadang jadi sasaran. Poor me 😥

Tapi aku sangat soberrrr, bahwa aku seorang ibu. Yang entah kenapa punya banyak cadangan kekuatan yang entah berasal dari mana. Udah capek tenaga capek pikiran tapi semua kerjaan masih bisa dilakuin, masih beres juga, dan masih kehandle sama sendiri. Sama kedua tangan yang Tuhan titipkan ini. Seriously, jadi ibu itu gak mudah. Tapi karna sekarang banyak artikel-artikel tentang ibu rumah tangga dan meme-meme lucuk tentang ‘kami’ ini aku jadi ngerasa gak sendiri. Yang tugasnya banyak setiap hari ternyata bukan gue doank. Yang mukanya kucel keringetan di rumah kalo udah ngejar-ngejar anak lari ke sana kemari bukan gue doank, yang dari melek sampe tidur lagi gak berhenti kerja bukan gue doank. Jadi, aku merasa ditemenin. Ditemenin capeknya haha.

Yah, intinya sih menerima ya. Semua tugas ini kalo dinikmati dan dilakuin dengan perasaan happy ya everythings oke. Bayarannya emang gak mahal kalo dihitung dengan uang. Secara gaji ART aja cuma beberapa ratus ribu sebulan padahal kerjaannya banyak. Apalagi ibu rumah tangga yang gak gajian, eh ada denk gaji dari suami. Tapi kan gak bisa dibuat foya-foya juga. Kecuali kalo aku berhasil ngerayu pak suami belanja online biar aku bisa ikutan belanja online juga hahaha.

Tapi sebenernya Tuhan membayar semua kelelahan kita lewat anak. Ini juga yang serrriiing aku lupain. Tuhan membayar lelah kita lewat celotehan mereka, senyum dan tawa mereka, dan kepintaran mereka yang bertambah setiap harinya. Walopun kadang kalo kelewat kesel sama ulah-ulah anak, suka mikir ini anak ditaro dulu di mana ya biar gak bikin gue stress. Ngiahahahahaha 😂 tapi giliran anaknya gak ada, aku galau seharian 😅 kayak sekarang si sulung lagi diungsikan dulu ke rumah mertua karna aku masih dalam masa pemulihan after operasi, duuuuhhhh rumah sepi gak ada celotehan dia atau teriakan emaknya saat dia bikin ulah itu, ASLI GAK RAME!!!

Tetep aja aku kangen. Pengen dia ada di sini. Sedih sih harus dipisahin dulu sama anak. Tapi gimana, kalo gak kondisi yang mengharuskan begini ya aku juga gak akan mau pisah sama anak. Galaunya lebih-lebih dari galau habis putus cinta. Hiks😥

Over all, tugas seorang ibu itu menurutku adalah tugas yang paliiiiing sulit dibanding tugas apapun. Sekalipun itu presiden *langsung ongkang-ongkang kaki 😂 Dan kamu, jangan pernah menyepelekan tugas ibumu. Contohnya aku, kalo mama atau ibu mertua lagi di sini aku bisa berasa jadi single ladies. Karna semua kerjaan rumah tangga udah diberesin sama mereka. Dengan catatan aku gak minta loh. Tapi ya gitu, ibu-ibu mana bisa liat kerjaan nganggur. Liat cucian baju atau piring numpuk pasti langsung diberesin. Tangan para ibu di dunia itu kayak udah disulap sama Tuhan jadi tangan ajaib yang bisa ngerjain segala macem kerjaan dalam waktu yang sama. Dan dalam jumlah yang luar biasa banyak. Betapa luar biasanya ya ibu-ibu kita 😆

Dan, akhir kata. Pak Presiden, saya bangga jadi seorang ibu rumah tangga yang kerjaannya (menurut saya sih) lebih sulit daripada tugas-tugas Bapak. *sombong *ongkang-ongkang kaki lagi 😅 Dan walopun sulit dan gak mudah, tapi saya bahagia Pak. Bahagianya pas liat anak senyum bahagia sambil meluk saya dan sambil bilang ‘ Cinta Alkha buat Momi …’

Ah. Ini lebih dari sekadar dapet penghargaan Ami Awards 😍😍😍