cause you never know

Kamu, dia, dan mereka hanya tidak tahu. Aku tak pernah meminta untuk dimenegerti. Aku hanya terlalu takut dimengerti. Aku takut, saat orang-orang sudah mengerti ternyata aku salah menilai.

Kamu, dia, dan mereka tidak pernah tahu rasanya menjadi aku. Kalian hanya melihat, tapi tidak benar-benar tahu rasanya. Aku tak bisa memaksa, aku tak punya kuasa untuk menyuruhmu merasakan.

Aku takut apa yang kurasakan ini disebut sebagai pembelaan. Karena sedang mengalami. Aku hanya takut kehilangan, dan tak mau ditinggal. Tapi saat mengutarakan, aku takut kamu bilang aku hanya sedang manja.

Aku juga takut kalian akan menghitung seberapa banyak beban yang harus dipikul dibanding aku. Walaupun aku merasa aku yang paling tak bisa, aku yang paling lemah. Jika Tuhan mengizinkan. Aku hanya ingin protes di sehelai kertas kosong.

Tak perlu didengar, tak perlu dirasakan, tak perlu dimengerti. Tak ada pembelaan apapun dariku. Ini hanya satu bentuk protes yang tak tahu harus kularikan kemana. Tuhan seperti begitu jauh di sana. Dan tak kulihat kemana perginya tangan-tangan itu …

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Rangkaian Ujian

Oke! Lagi-lagi gue ngetik cerita or curhatan whatever bentuknya ini di rumah sakit. Di ranjang warna putih yang gaaaakkk pernah gue suka. Sekali-kali warna seprenya pink kek, ada gambar strawberrynya gitu (Woy! Itu sih keinginan LO!) 😀

Tapi bukan itu yang penting. Siapa gue mau ganti kebijakan warna seprei rumah sakit *tersenyum simple* .
Baiklah, gue akan memulai dengan cerita ujian atau cobaan apa aja yang lagi gue jalani. Please ini bukan pengumuman.

Masalah penyakit gue yang sekarang lagi diobatin setelah hamil anggur & kehilangan baby silahkan cek aja di another my blog at girlsreality.blogspot.com (berasa orang penting punya blog banyak) 😀
Dan alhamdulilah. Sekarang gue lagi kemoterapi putaran ke-2 hari ke-3. Mudah-mudahan lancar. Dan salah satu faktor kenapa gue nulis di sini adalah mengusir KEBOSANAN #okesip .

Hasil dari kemoterapi pertama ternyata luar biasa bagus. Alhamdulilahirobilalamin. Dan satu per satu permasalahan yang bermunculan kayak kutu juga mulai menghilang sedikit demi sedikit. My family (termasuk suamiku) sudah tidak memikirkan bagaimana biaya pengobatan kemoterapi gue yang jangka panjang ini. Kita cuma punya doa. Gue pun mendoakan orang tua gue biar mereka kuat menghadapi berbagai ujian dari Tuhan.

Sedikit cerita, tadi gue ketemu sama seorang Ibu yang dengan cerianya ngajak pasien di ruangan ini ngobrol. Termasuk gue. Namanya Ibu Maria. Dia bilang, dia akan menjalani kemoterapi ke-6 karena terkena penyakit kanker serviks. Tapi dia luar biasa ceria dengan kondisi tubuh yang stabil. Tadinya gue kira dia mau nungguin siapanya gitu. Taunya dia pasiennya.

Dan dia memberikan beberapa advice dan semangat. And then she say, kalau kami saja di ruangan ini mengalami kemoterapi yang dosisnya di atas gue tapi tetap terlihat kuat apalagi kamu. Dia pun liat badan gue sehat dan oke. Jadi gak ada alasan untuk gak semangat. Gue juga masih muda, dan pernikahan masih seumur jagung. Kesempatannya masih banyaaakkk. Gue pikir, pointnya adalah dengan keceriaannya dia memberi semangat buat setiap pasien di ruangan gue. Bok, kalo wanita berumur hampir setengah abad yang divonis kanker serviks aja bisa seceria itu kenapa gue gak bisa semangat ya? Penyakit gue tidak parah, bahkan usia gue masih muda so’ why?

Tapi we-know-that-so-well kalo ngomong itu jauh lebih gampang dari sekedar balikin telapak tangan (eh, perumpamaannya kok?) 😀

So’ gue tahu, kalo sakit itu beda tipis sama sugesti. Selama sugesti yang kita tanamkan pada diri sendiri bagus. Tubuh pasti akan menerima baik-baik. Kalo doa dan sugestinya kuat, insya Allah ya proses kemo yang harus gue jalanin gak usah panjang-panjang 🙂 . Amin Ya Rabb.

Mariiiii, kita suntikan semangat. Selain menyuntikan obat kemo. Semangat juga gak lupa :))
PS : Ibu Maria bilang, orang-orang sekitar kita hanya pendukung. Walaupun mereka gak berhenti menyemangati kita. Inti semangatnya cuma ada di kita. Yang sedang menjalani proses 🙂

Posted from WordPress for BlackBerry.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Posted from WordPress for BlackBerry.