My randomly mind

Aku seperti ada di tengah jalan. Kelelahan karna berlari tanpa henti. Rasanya ingin berhenti sebentar saja, entah berhenti untuk apa. Apakah untuk berlari, atau sekadar berhenti berjalan. Aku lelah, Tuhan.

Aku seperti sedang berlari jauh. Tak tahu kapan akan sampai di tujuan. Aku berlari dengan ditemani tembok di belakang. Hingga saat aku berbalik, aku tahu aku tak akan pernah bisa kembali. Dan tembok-tembok itu terlalu tinggi dan panjang untuk kuruntuhkan.

Pilihannya hanya satu, terus berlari sampai tujuan. Toh Tuhan memberi pinjam sepatu yang kokoh untuk ku berlari. Dan cuaca yang cerah untuk menemani perjalananku. Terkadang hujan turun, tapi setiap setelah hujan turun pelangi ikut menemaniku. Ia memberiku harapan akan tujuan.

Harapan. Aku lelah untuk berharap. Bahkan takut. Tapi Tuhan tak pernah lelah menemaniku, memberikan banyak hal yang harus kubaca sendiri, Ia sedang membukakan mataku.

Tuhan, maaf jika keluhanku amatlah panjang. Aku tidak menyalahkan-MU. Aku berusaha untuk tidak marah pada-MU. Aku hanya lelah, Tuhan …

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Belajar seperti batu

Agak aneh ya judul postingan gue malem ini? Yak! Abaikan saja jika sulit dimengerti. Tapi memang dalam kenyataannya, gue kayak lagi belajar jadi Malin Kundang versi perempuan. OH! NO! Jangan berfikir gue lagi jadi anak durhaka. Tapi, gue lagi belajar jadi batu. I means, batu itu kan gak hidup. Dan, pppfffttt. Jangan juga mikir gue lagi belajar mati *amit2 Ya Allah* *ketok2 tangan ke jidat*

Yang jelas, setelah naik dosis kemoterapi kemarin itu jadwal kemo gue jadi dipersempit. 1 minggu sekali *gue minta bayangin sebentar*
Dan itu SANGAT gak mudah buat gue, juga buat suami. Iya nyari duitnya iya nungguin gue di rumah sakitnya. But, over all dia sabar & rela demi gue sembuh. Oke, skip!

Besok gue cek darah lagi di lab. Kemarin gue sempet bilang kehilangan harapan, sebenernya nggak gitu. Tapi gue hanya takut untuk berharap lagi. Termasuk hasil lab besok. Gue udah pasrah. Lalu lusa gue udah ke rumah sakit lagi. Dan MAU gak MAU ya harus ikhlas menjalani sekelumit pengobatannya. Dari mulai antre ruangan sampe rela mual & muntahnya saat kemoterapi berlangsung. Dan disinilah peran gue pura-pura jadi batu dimulai. Gak mau mikirin malesnya lah, ntaran malah lama lagi pengobatannya. So’, being a stone it’s make me safe for a while. Hihi. Walaupun batu tipuan. Itu cuma akal-akalan gue aja buat ngeles. Muehehehe 😀

Tapi gue tetep BERSYUKUR. However, penyakit gue ini 100% bisa sembuh. I don’t saying that penyakit kanker tidak bisa sembuh. Gue gak punya hak untuk bilang gak bisa. But, perbandingannya sama penyakit gue yang sekarang bisa dibilang jauh. Gue tahu Tuhan sangat sayang sama gue. Makanya diuji lewat penyakit yang sekiranya gue mampu untuk melewati.

But, please God. Mudah-mudahan ini sakit parah terakhir ya dalam hidup gue. Amin Ya Rabb. Bukan apa-apa. Sekarang aja gue udah sangat kasian liat suami banting tulang buat cari duit pengobatan. Sampe segitunya! Sampe tiap hari gue terharu. Belom My great Mama yang tiap hari ngurusin gue. Tapi oke lah, kalo mau tahu seberapa besar penderitaan gue saat sakit ini, seperti biasa akan gue suruh loncat dulu ke girlsreality.blogspot.com aja ya. Muihihihi 😛

Yang ini hanya sharing sebentar. Cause this is my intermezzo blog. Hehe. Baiklah, udah malem banget bahkan udah berganti hari. I’m a human. Butuh waktu tidur untuk istirohat.

GNite, love 🙂

Posted from WordPress for BlackBerry.