Hidup adalah perjudian

Sebait kalimat yang gue jadikan judul itu gue kutip dari salah satu bukunya Dewi Lestari Partikel.

Sekarang lagi gue rasain banget. Bahwa yang namanya hidup gak lebih dari perjudian. Tidak ada yang pasti, tidak ada jaminan, dan tidak ada yang abadi. Segala sesuatu bisa berubah. Dan Tuhan lah yang berhak atas segala sesuatu yang diubah tersebut.

Selama menjalani proses sakit ini, gue sudah berhenti berfikir bahwa hidup adalah mengejar. Atau dunia adalah tujuan. Gue berhenti berfikir bahwa segala hal yang terjadi di hidup gue adalah berkat usaha gue selama hidup. Tidak. Hidup itu harus selalu ada campur tangan Tuhan. Dan akan selalu begitu.

Senafsu apapun kita mencapai impian, tak akan teraih jika Tuhan belum berkehendak. Sekuat apapun kita berusaha, tak akan sampai di tempat yang dituju selama Tuhan belum mengizinkan.

Dan pelajaran yang gue ambil sekarang adalah. Nggak bisa kita bergantung dan berharap pada manusia. Karena apa yang tadi gue bilang bahwa tak ada yang pasti di dunia ini. Dan manusia pun bisa berubah. Tapi sebaliknya, kita hidup di dunia juga tidak bisa hanya memikirkan ego. Kita bukan makhluk individualis. So’ kita hidup tetap membutuhkan pertolongan orang lain. Tanpa gue sadari, Tuhan mengajarkan gue untuk tidak sombong.

It simply awesome. Bahwa tidak ada lagi tujuan gue hidup di dunia selain ingin selalu sehat, memiliki anak, dan bisa membahagiakan orang tua & suami. I don’t care with how much I get money or anything like that. I means, bukan berarti gue gak butuh uang. Gue juga manusia biasa yang butuh uang untuk kelangsungan hidup & juga bersenang-senang (gak munafik bok). Tapi itu bukan satu-satunya alasan gue menjalani hidup.

Karna gue sadar sekali. Di mata Tuhan, gue bukan apa-apa. Bukan juga siapa-siapa. Dia bisa melakukan apapun dalam rencana baiknya. No except!

Jadi, mari kita berjudi dengan halal. Dengan cara yang sehat. Dan jiwa yang cerdas. Agar kita tidak terpelosok jatuh ke lubang yang terlalu dalam. Karna kadang hidup juga begitu tidak mudahnya dialami …

Posted from WordPress for BlackBerry.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

How to loved when in love?

Banyak orang bilang bahwa belajar mencintai itu, harus mencintai. Tak peduli seberapa sulitnya itu. Seolah-olah mencintai hanyalah belajar matematika. Hitungan logika. Padahal kita semua yang pernah mengalami tahu, mencintai dan jatuh cinta tidak semudah kedengarannya. Karena ini masalah hati.

Gue tiba-tiba inget sesuatu. Waktu masih SMP. Buat sebagian ABG saat itu, ngegaet atau macarin kakak kelas atau teman seangkatan yang ganteng dan tajir itu suatu kebanggaan. Sama bangganya dengan mencapai gelar yang akan mengikuti nama kita setelah capek-capek belajar dalam hitungan tahun. Dan gue yang saat itu belum berhasil macarin ketua osis or let say just kapten basket itu hanya bisa menonton. Menonton cewek-cewek yang dianggap beruntung. Entah karena ia terbilang cantik entah karena ia tergolong kaya. Gue berfikir begini saat itu, kalo gue bisa macarin salah satu kakak kelas yang gantengnya hampir sekelas Dimas Anggara, gue yakin gue bisa jauh lebih bisa jadi cewek yang baik buatnya. Dibanding cewek-cewek yang saat itu berstatus pacar mereka. Diam-diam berjanji tidak akan mudah cemburu, posesiv, atau bahkan terkesan mengekang.

Tapi setelah pada akhirnya gue punya pacar, janji-janji itu tiba-tiba lenyap nyap. Gue jadi mirip calon-calon pejabat yang bisanya cuma janji sebelum pemilihan dan setelah pemilihan mendadak amnesia pada janji-janjia sialan tersebut. Hihi. Perumpamaannya bok 😛

Setelah gue belajar pacaran, belajar bagaimana relationship itu bisa mudah bekerja sebagaimana mestinya gue jelas gagal total. Gak ada yang namanya cewek baik penurut sesuai janji gue. Yang ada, gue malah jadi type cewek pencemburu, posesiv, dan bahkan takut kehilangan atau takut ditinggalkan. Dari situ gue belajar 1 hal. Menjalani suatu hubungan itu ternyata tidak mudah. Menjadi cewek baik penurut itu tidak seindah dibayangkan. Apalagi zaman sekarang bok, beda antara baik dan bodoh itu sekatnya tipis banget. Dan kita sebagai perempuan, gak cukup hanya menjadi penurut. Bahkan sometime, niatnya jadi cewek yang baik buat cowoknya berubah haluan jadi cewek yang gampang dibodohi.

Dan jika jatuh cinta tak perlu syarat apapun, tak perlu pelaharan apapun. Menurut saya, dalam mencintai banyak yang harus kita pelajari. Dan belajar mencintai dalam suatu hubungan itu tidak mudah. Selain kita yang juga harus belajar untuk memilih pasangan yang tepat.

So’ bagaimana caranya kita belajar mencintai jauh lebih penting daripada hanya bawa-bawa perasaan bahwa kita mencintai. Pengakuan saja tidaklah cukup. Karena buat gue, suatu hubungan itu sama dengan sekolah. Banyak yang harus kita pelajari. Walaupun tidak serumit hitungan logika. Tapi jauh lebih berarti dari hanya sekedar hitungan semata. IMHO 🙂

Posted from WordPress for BlackBerry.

PicStory-2012-12-23-11-47

 

Friends is some people who feel the idiot moment. But we love it so’ much time.

We’re doing silly, laugh, and crying at the same time. And the boys is our tranding topic 😀

And … we loovvveee it ❤

Musim galau sudah berlalu

Muahahahaha. Silahkan ketawa sampe New York waktu baca judul tulisan gue hari ini. No, it’s not about ikut-ikutan-alay-zaman-sekarang. I don’t mind! Very seriously 😀

So’ I just, pengen cerita buka-bukaan sedikit tentang zaman penggalauan di masa lalu (Bok, gue juga mengalami masa itu tentunya) Muehehehehekkkk. Even dengan standarisasi yang berbeda dengan zaman sekarang (Ngeles mulu lo, nyet!) 😀

Jadi intinya, dulu itu gue bisa nangis darah kalo abis nonton drama-drama percintaan yang kalau diakui jalan ceritanya gue banget. Atau kisah tragisnya sama dengan yang gue alami saat itu. Dan gue suka sok-sok menyambung-nyambungkan cerita si tokoh utama dengan cerita gue. Lalu esoknya cerita drama tersebut bisa jadi tranding tropic antara gue sama temen-temen kampus yang juga mengalami masa-masa penggalauan ‘pada zamannya’. Kita bisa ikut sok-sok terbawa suasana saat lagi nongkrong sambil menikmati hujan dan menceritakan pengalaman yang hampir sama dengan film tersebut. Rata-rata drama korea dan jepang ya cyin :))

And then, ujung-ujungnya bisa nangis darah massal di tempat. Muahahaha. Seolah-olah kita adalah kumpulan cewek-cewek paling merana yang cuma punya kisah cinta tragis. Sangat sok dewasa sekali kami saat itu. Hihihi.

And then, selain film. Rekomendasi kami pun bisa lagu bisa juga novel. Apalagi kalo tokoh utama lakinya ganteng bok! Pasti deh masing-masing dari kita nyama-nyamain dia sama mantan atau kasih-tak-sampai yang kita punya. Bahahahaha. Melonkolis group banget ya kita 😛 Dan yang penting dari itu semua adalah, cerita kita selalu mengalir saat hujan tiba. Miris banget deh waktu menangis dan hujan turun di waktu yang berbarengan. Gak heran kalo anak zaman sekarang juga sama tololnya dengan gue di masa lalu. Mengatasnamakan hujan akan rindu dan kenangan. Agak mehe-mehe emang kedengerannya. Tapi pada zamannya, suasana dan momentnya sungguh gak ada yang ngalahin. The best part of us banget. While, beberapa dari temen kampus kami yang menjalani pacaran serius hanya dengan 1 cowok. And you know what? Walau kami (baca : gue dan temen-temen segenk) menginginkan hal itu juga tapi buat kita itu nggak rame. Kenapa? Hanya menjalani hubungan bertahun-tahun dengan orang yang sama itu nggak seru. Berasa tidak ada tantangan. OW! Don’t call we player, but … (iya deh sedikit) 😛 Tapi justru kitalah yang merasa jadi played. Kenapa?

Karena walaupun kita tolol karena mencintai cowok yang salah, tapi kita pengembara sejati (ini serius bok). Saat gagal sama 1 cowok kita mencari di another boy. Begitu seterusnya sampai masing-masing dari kami menemukan akhir dari pencarian. Andaikan saat itu google sudah setenar sekarang, mungkin kami pun akan mencari lewat google =)) Pria yang tepat yang saat itu (penggambarannya) Ganteng, perhatian, setia, gak harus kaya tapi selalu punya duit setiap ngedate :P, dan yang terpenting tidak menyakiti. Hahaha. It sound a fairy tale kan? Yah. begitulah masa muda kami. Impian akan kesempurnaan itu begitu lekat. Makanya tidak masuk kriteria sedikit saja, galau langsung melanda. Eh, tapi … by the way. Kriteria yang gue tulis barusan untuk kami (baca : gue dan temen-temen segenk) atau gue pribadi? Muahahaha. No answer! 😀

Jadi, saat gue baca status-status twitter, curahan di blog, status-status BBM sampe DP BBM yang temanya galau gue cuma ketawa ngakak. Good bye, preciously moment. Bahasa kerennya, gue berhasil move on! Haha. Sampai pada akhirnya sadar sendiri bahwa apa yang gue dan teman-teman segenk lakuin selama masa-masa kuliah itu tak lain hanya sebatas ketololan kami semata. Tapi pada akhirnya sangat membawa proses pendewasaan. Saat bertemu dengan pemberhentian terakhir, sadarlah gue. Bahwa alasan putus yang dulu sering dilontarkan para kaum pria sangat nggak masuk akal. So’ for me, if he really want me, he never will leave me. NEVER. Bahkan alasan sibuk pun bukan alasan. Kalau seseorang menginginkan kita dengan sangat, tak ada alasan sibuk dalam hidupnya. Kita tetap akan menjadi prioritas utama. Muihihi. It’s true!

Dan kehidupan yang real itu justru setelah gue menikah. Galau, patah hati, kasih tak sampai, dan teman-temannya itu hanya sebagian kecil luka. Apa yang harus gue hadapi justru setelah menikah. Dan tak ada lagi istilah, is he want me more or not? Tapi, mari kita jalan bersama untuk saling menguatkan. Selama perjalanan pernikahan. Gue gak bohong! Ini nyata 🙂

So’ someday if I’ve a daughter, gue gak akan larang-larang dia pacaran lalu galau. Biar bisa belajar kayak emaknya. Justru dengan galau bahkan alay to the max, emaknya bisa belajar untuk menemukan orang yang tepat dan pensiun dari galau. Muihihi. Ya udah sih gitu doank pengalaman galau gue di masa lalu.

*selamat ketawa* :))

I still don’t understand what it’s friend to be!

Jadi, pada akhirnya gue masih belum bisa toleransi sama istilah teman. Dan gue semakin tidak percaya bahwa menemukan seorang teman yang nyata itu memang ada di dunia nyata. Gue makin melihat bahwa sosok teman itu hanya sebuah formalitas belaka. Saat tawa ada di sana, mungkin teman juga ada bersama kita. Tapi saat sedih di sana, tak ada lagi teman yang bisa menemani kita tertawa jungkir balik.

Simplenya begini. Semenjak gue sakit, gue makin mengerti. And God show me everything. Mengerti bahwa tidak semua teman akan mengerti kesusahan gue akan banyak hal.

Saat gue kehilangan baby, beberapa dari mereka hanya bilang bahwa Tuhan belum memberi gue kepercayaan tanpa mengerti makna kata-kata itu buat gue. Especially buat gue dan suami. To hear that, it’s not easy for me. Sangat tidak mudah.

Lalu saat gue keluar masuk rumah sakit, beberapa dari mereka hanya bisa bilang ‘maaf belum bisa nengok’. Seolah menengok orang sakit lagi-lagi hanya sebuah formalitas. Padahal yang gue butuhkan bukan kedatangan mereka atau buah-buahan dan makanan yang mereka bawa. Jangan menjadikan menengok orang sakit itu hanya sebuah budaya. Don’t do that if you don’t want it. Simple.

Dan terakhir saat gue sakit dan terdiagnosa penyakit yang terbilang langka. Dear, gue gak perlu lelah menjelaskan bagaimana sakitnya menghadapi kemoterapi. Bagaimana susahnya mencari biaya rumah sakit yang buat gue bahkan cari duit bukan tinggal metik di pohon. Bagaimana kerasnya gue berdoa minta kesembuhan. Dan bagaimana lelahnya gue menjelaskan kalau penyakit gue bukan kanker. I don’t even know what the different a cancer and tumor. Dan bagaimana mereka mengasumsikan penyakit gue, saat mereka mendengar kata kemoterapi.

Dan ketiga hal yang gue jelaskan tadi, tidak mudah gue jalani. But, where are you my dear friends? Orang-orang yang merasa atau pernah merasa gue adalah salah satu teman mereka? Orang-orang yang merasa mengenal gue dengan baik. Orang-orang yang merasa kenal lama dengan gue. I can’t find you!

Intinya. Gue hanya merasa gue semakin lihai menilai mana teman mana bukan. Gue semakin pintar melihat mana yang pura-pura peduli, mana yang benar-benar peduli, mana yang tulus mendoakan, mana yang (lagi-lagi) mendoakan gue sebatas formalitas dengan kalimat klise cepet sembuh. Mana yang hanya menatap gue dengan kasihan dan diam-diam bersyukur bukan dia yang mengalami, dan mana yang simpaty dengan apa yang sedang gue alami.

For me, bukan menengok bawa makanan dan buah-buahan yang penting. Tapi cukup dengan doa yang tulus dan supporting. Dukungan karena peduli. But, pada akhirnya harus gue sadari bahwa kita tidak bisa memaksa seseorang menjadi apa yang kita mau. Gue hanya miris. Tidak ada artinya jabatan ‘teman’ jika apa yang harus dilakukan hanya sebatas mengikuti budaya yang ada. Padahal kita semua tahu bahwa semua manusia ‘harusnya’ sih punya hati dan perasaan. Agar setiap melakukan sesuatu memang berdasar hati dan ketulusan. Bukan lagi formalitas belaka.

Gue sedih. Karena yang orang-orang bilang benar. Bahwa saat kita jatuh, kita akan melihat mana yang benar-benar teman. And thankful, gue masih tidak percaya apa itu sahabat. Makhluk seperti apa itu sahabat? It’s sound stranger for me.

So’ jika suatu hari nanti gue sudah kembali merangkak ke atas. Gue harus juga pintar memilih mana yang benar-benar teman. Atau lagi-lagi embel-embel formalitas yang ada di sana. I’m just tired sama istilah bestfriend. I need but I don’t need at the same time. Jerk!

Posted from WordPress for BlackBerry.

Hanya tokoh

Karena kita tak akan pernah bisa melangkahi waktu. Kita hanya harus melewatinya. Tak ada yang lebih baik dari menerima. Mencoba untuk lebih berdamai dengan kenyataan.

Tidak ada yang tahu bagaimana sulitnya melewati masa-masa ini. Mereka hanya bisa menonton di depan layar kaca sambil sesekali menyeka air mata. Selain diam-diam bersyukur bahwa mereka bukan menjadi si tokoh utama. Yang harus melawan arus egonya sendiri setiap hari, dan yang tak lelah menangis sedih sendiri. Tapi terkadang ada juga tepuk tangan yang membahana memenuhi ruangan saat si tokoh utama berhasil memenangkan satu per satu permainan hidup. Tak ada hadiah apapun, hanya ada beberapa permen yang sudah disiapkan untuk dilahap setiap kali air mata turun.

Mereka hanya tidak tahu bahwa makna permen itu lebih dari itu. Lebih dari hanya sekadar mengusir rasa asam di mulut.

Dan memang begitulah hidup. Kadang bersandiwara bahwa semua ini akan baik-baik saja atau memang baik-baik saja. Walaupun dalam kenyataannya, tak ada sandiwara. apa-apa di sini. Dan tak ada sandiwara yang sifatnya baik-baik saja.

Karena kita sebagai manusia, masing-masing dari kita semua adalah tokoh. Tokoh utama kehidupan, dan Tuhan adalah dalangnya. Jadi mari kita bermain, sesuai skenario baik Dalang.

Posted from WordPress for BlackBerry.