I still don’t understand what it’s friend to be!

Jadi, pada akhirnya gue masih belum bisa toleransi sama istilah teman. Dan gue semakin tidak percaya bahwa menemukan seorang teman yang nyata itu memang ada di dunia nyata. Gue makin melihat bahwa sosok teman itu hanya sebuah formalitas belaka. Saat tawa ada di sana, mungkin teman juga ada bersama kita. Tapi saat sedih di sana, tak ada lagi teman yang bisa menemani kita tertawa jungkir balik.

Simplenya begini. Semenjak gue sakit, gue makin mengerti. And God show me everything. Mengerti bahwa tidak semua teman akan mengerti kesusahan gue akan banyak hal.

Saat gue kehilangan baby, beberapa dari mereka hanya bilang bahwa Tuhan belum memberi gue kepercayaan tanpa mengerti makna kata-kata itu buat gue. Especially buat gue dan suami. To hear that, it’s not easy for me. Sangat tidak mudah.

Lalu saat gue keluar masuk rumah sakit, beberapa dari mereka hanya bisa bilang ‘maaf belum bisa nengok’. Seolah menengok orang sakit lagi-lagi hanya sebuah formalitas. Padahal yang gue butuhkan bukan kedatangan mereka atau buah-buahan dan makanan yang mereka bawa. Jangan menjadikan menengok orang sakit itu hanya sebuah budaya. Don’t do that if you don’t want it. Simple.

Dan terakhir saat gue sakit dan terdiagnosa penyakit yang terbilang langka. Dear, gue gak perlu lelah menjelaskan bagaimana sakitnya menghadapi kemoterapi. Bagaimana susahnya mencari biaya rumah sakit yang buat gue bahkan cari duit bukan tinggal metik di pohon. Bagaimana kerasnya gue berdoa minta kesembuhan. Dan bagaimana lelahnya gue menjelaskan kalau penyakit gue bukan kanker. I don’t even know what the different a cancer and tumor. Dan bagaimana mereka mengasumsikan penyakit gue, saat mereka mendengar kata kemoterapi.

Dan ketiga hal yang gue jelaskan tadi, tidak mudah gue jalani. But, where are you my dear friends? Orang-orang yang merasa atau pernah merasa gue adalah salah satu teman mereka? Orang-orang yang merasa mengenal gue dengan baik. Orang-orang yang merasa kenal lama dengan gue. I can’t find you!

Intinya. Gue hanya merasa gue semakin lihai menilai mana teman mana bukan. Gue semakin pintar melihat mana yang pura-pura peduli, mana yang benar-benar peduli, mana yang tulus mendoakan, mana yang (lagi-lagi) mendoakan gue sebatas formalitas dengan kalimat klise cepet sembuh. Mana yang hanya menatap gue dengan kasihan dan diam-diam bersyukur bukan dia yang mengalami, dan mana yang simpaty dengan apa yang sedang gue alami.

For me, bukan menengok bawa makanan dan buah-buahan yang penting. Tapi cukup dengan doa yang tulus dan supporting. Dukungan karena peduli. But, pada akhirnya harus gue sadari bahwa kita tidak bisa memaksa seseorang menjadi apa yang kita mau. Gue hanya miris. Tidak ada artinya jabatan ‘teman’ jika apa yang harus dilakukan hanya sebatas mengikuti budaya yang ada. Padahal kita semua tahu bahwa semua manusia ‘harusnya’ sih punya hati dan perasaan. Agar setiap melakukan sesuatu memang berdasar hati dan ketulusan. Bukan lagi formalitas belaka.

Gue sedih. Karena yang orang-orang bilang benar. Bahwa saat kita jatuh, kita akan melihat mana yang benar-benar teman. And thankful, gue masih tidak percaya apa itu sahabat. Makhluk seperti apa itu sahabat? It’s sound stranger for me.

So’ jika suatu hari nanti gue sudah kembali merangkak ke atas. Gue harus juga pintar memilih mana yang benar-benar teman. Atau lagi-lagi embel-embel formalitas yang ada di sana. I’m just tired sama istilah bestfriend. I need but I don’t need at the same time. Jerk!

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s