Musim galau sudah berlalu

Muahahahaha. Silahkan ketawa sampe New York waktu baca judul tulisan gue hari ini. No, it’s not about ikut-ikutan-alay-zaman-sekarang. I don’t mind! Very seriously 😀

So’ I just, pengen cerita buka-bukaan sedikit tentang zaman penggalauan di masa lalu (Bok, gue juga mengalami masa itu tentunya) Muehehehehekkkk. Even dengan standarisasi yang berbeda dengan zaman sekarang (Ngeles mulu lo, nyet!) 😀

Jadi intinya, dulu itu gue bisa nangis darah kalo abis nonton drama-drama percintaan yang kalau diakui jalan ceritanya gue banget. Atau kisah tragisnya sama dengan yang gue alami saat itu. Dan gue suka sok-sok menyambung-nyambungkan cerita si tokoh utama dengan cerita gue. Lalu esoknya cerita drama tersebut bisa jadi tranding tropic antara gue sama temen-temen kampus yang juga mengalami masa-masa penggalauan ‘pada zamannya’. Kita bisa ikut sok-sok terbawa suasana saat lagi nongkrong sambil menikmati hujan dan menceritakan pengalaman yang hampir sama dengan film tersebut. Rata-rata drama korea dan jepang ya cyin :))

And then, ujung-ujungnya bisa nangis darah massal di tempat. Muahahaha. Seolah-olah kita adalah kumpulan cewek-cewek paling merana yang cuma punya kisah cinta tragis. Sangat sok dewasa sekali kami saat itu. Hihihi.

And then, selain film. Rekomendasi kami pun bisa lagu bisa juga novel. Apalagi kalo tokoh utama lakinya ganteng bok! Pasti deh masing-masing dari kita nyama-nyamain dia sama mantan atau kasih-tak-sampai yang kita punya. Bahahahaha. Melonkolis group banget ya kita 😛 Dan yang penting dari itu semua adalah, cerita kita selalu mengalir saat hujan tiba. Miris banget deh waktu menangis dan hujan turun di waktu yang berbarengan. Gak heran kalo anak zaman sekarang juga sama tololnya dengan gue di masa lalu. Mengatasnamakan hujan akan rindu dan kenangan. Agak mehe-mehe emang kedengerannya. Tapi pada zamannya, suasana dan momentnya sungguh gak ada yang ngalahin. The best part of us banget. While, beberapa dari temen kampus kami yang menjalani pacaran serius hanya dengan 1 cowok. And you know what? Walau kami (baca : gue dan temen-temen segenk) menginginkan hal itu juga tapi buat kita itu nggak rame. Kenapa? Hanya menjalani hubungan bertahun-tahun dengan orang yang sama itu nggak seru. Berasa tidak ada tantangan. OW! Don’t call we player, but … (iya deh sedikit) 😛 Tapi justru kitalah yang merasa jadi played. Kenapa?

Karena walaupun kita tolol karena mencintai cowok yang salah, tapi kita pengembara sejati (ini serius bok). Saat gagal sama 1 cowok kita mencari di another boy. Begitu seterusnya sampai masing-masing dari kami menemukan akhir dari pencarian. Andaikan saat itu google sudah setenar sekarang, mungkin kami pun akan mencari lewat google =)) Pria yang tepat yang saat itu (penggambarannya) Ganteng, perhatian, setia, gak harus kaya tapi selalu punya duit setiap ngedate :P, dan yang terpenting tidak menyakiti. Hahaha. It sound a fairy tale kan? Yah. begitulah masa muda kami. Impian akan kesempurnaan itu begitu lekat. Makanya tidak masuk kriteria sedikit saja, galau langsung melanda. Eh, tapi … by the way. Kriteria yang gue tulis barusan untuk kami (baca : gue dan temen-temen segenk) atau gue pribadi? Muahahaha. No answer! 😀

Jadi, saat gue baca status-status twitter, curahan di blog, status-status BBM sampe DP BBM yang temanya galau gue cuma ketawa ngakak. Good bye, preciously moment. Bahasa kerennya, gue berhasil move on! Haha. Sampai pada akhirnya sadar sendiri bahwa apa yang gue dan teman-teman segenk lakuin selama masa-masa kuliah itu tak lain hanya sebatas ketololan kami semata. Tapi pada akhirnya sangat membawa proses pendewasaan. Saat bertemu dengan pemberhentian terakhir, sadarlah gue. Bahwa alasan putus yang dulu sering dilontarkan para kaum pria sangat nggak masuk akal. So’ for me, if he really want me, he never will leave me. NEVER. Bahkan alasan sibuk pun bukan alasan. Kalau seseorang menginginkan kita dengan sangat, tak ada alasan sibuk dalam hidupnya. Kita tetap akan menjadi prioritas utama. Muihihi. It’s true!

Dan kehidupan yang real itu justru setelah gue menikah. Galau, patah hati, kasih tak sampai, dan teman-temannya itu hanya sebagian kecil luka. Apa yang harus gue hadapi justru setelah menikah. Dan tak ada lagi istilah, is he want me more or not? Tapi, mari kita jalan bersama untuk saling menguatkan. Selama perjalanan pernikahan. Gue gak bohong! Ini nyata 🙂

So’ someday if I’ve a daughter, gue gak akan larang-larang dia pacaran lalu galau. Biar bisa belajar kayak emaknya. Justru dengan galau bahkan alay to the max, emaknya bisa belajar untuk menemukan orang yang tepat dan pensiun dari galau. Muihihi. Ya udah sih gitu doank pengalaman galau gue di masa lalu.

*selamat ketawa* :))

Advertisements

2 thoughts on “Musim galau sudah berlalu

  1. bebe says:

    Halo salam kenal ya.. mampir kesini karena liat blognya di twitter #updateblog..

    Btw, kita mirip2 looh.. Sebelum ketemu suami gw juga kerjaannya jatoh bangun mulu sama lelaki.. Dan sama kayak lo gt deh, karena banyak “cerita” sebelumnya, pas nikah.. galaunya bubar.. 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s