How to loved when in love?

Banyak orang bilang bahwa belajar mencintai itu, harus mencintai. Tak peduli seberapa sulitnya itu. Seolah-olah mencintai hanyalah belajar matematika. Hitungan logika. Padahal kita semua yang pernah mengalami tahu, mencintai dan jatuh cinta tidak semudah kedengarannya. Karena ini masalah hati.

Gue tiba-tiba inget sesuatu. Waktu masih SMP. Buat sebagian ABG saat itu, ngegaet atau macarin kakak kelas atau teman seangkatan yang ganteng dan tajir itu suatu kebanggaan. Sama bangganya dengan mencapai gelar yang akan mengikuti nama kita setelah capek-capek belajar dalam hitungan tahun. Dan gue yang saat itu belum berhasil macarin ketua osis or let say just kapten basket itu hanya bisa menonton. Menonton cewek-cewek yang dianggap beruntung. Entah karena ia terbilang cantik entah karena ia tergolong kaya. Gue berfikir begini saat itu, kalo gue bisa macarin salah satu kakak kelas yang gantengnya hampir sekelas Dimas Anggara, gue yakin gue bisa jauh lebih bisa jadi cewek yang baik buatnya. Dibanding cewek-cewek yang saat itu berstatus pacar mereka. Diam-diam berjanji tidak akan mudah cemburu, posesiv, atau bahkan terkesan mengekang.

Tapi setelah pada akhirnya gue punya pacar, janji-janji itu tiba-tiba lenyap nyap. Gue jadi mirip calon-calon pejabat yang bisanya cuma janji sebelum pemilihan dan setelah pemilihan mendadak amnesia pada janji-janjia sialan tersebut. Hihi. Perumpamaannya bok 😛

Setelah gue belajar pacaran, belajar bagaimana relationship itu bisa mudah bekerja sebagaimana mestinya gue jelas gagal total. Gak ada yang namanya cewek baik penurut sesuai janji gue. Yang ada, gue malah jadi type cewek pencemburu, posesiv, dan bahkan takut kehilangan atau takut ditinggalkan. Dari situ gue belajar 1 hal. Menjalani suatu hubungan itu ternyata tidak mudah. Menjadi cewek baik penurut itu tidak seindah dibayangkan. Apalagi zaman sekarang bok, beda antara baik dan bodoh itu sekatnya tipis banget. Dan kita sebagai perempuan, gak cukup hanya menjadi penurut. Bahkan sometime, niatnya jadi cewek yang baik buat cowoknya berubah haluan jadi cewek yang gampang dibodohi.

Dan jika jatuh cinta tak perlu syarat apapun, tak perlu pelaharan apapun. Menurut saya, dalam mencintai banyak yang harus kita pelajari. Dan belajar mencintai dalam suatu hubungan itu tidak mudah. Selain kita yang juga harus belajar untuk memilih pasangan yang tepat.

So’ bagaimana caranya kita belajar mencintai jauh lebih penting daripada hanya bawa-bawa perasaan bahwa kita mencintai. Pengakuan saja tidaklah cukup. Karena buat gue, suatu hubungan itu sama dengan sekolah. Banyak yang harus kita pelajari. Walaupun tidak serumit hitungan logika. Tapi jauh lebih berarti dari hanya sekedar hitungan semata. IMHO 🙂

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s