Ingin pura-pura lupa apa itu gagal

Pasti pernah kan merasa gagal di beberapa hari dari 365 hari? PERNAH! Gue juga pernah, bahkan sangat merasa gagal! Dalam berbagai hal.

Dan dampaknya adalah, saat gagal bikin seblak pun dijadikan kegagalan paling memalukan seumur hidup 😐
Malu rasanya walau sekadar hanya mengakui. Tapi kalau hati lagi seneng, atau tetiba dapet hadiah mobil segarasi pesawat gue yakin kegagalan masak seblak pun gak lebih dari baud dalam kerangka pesawat tetiba copot. Gak lebih!

Dan di sini gue bukan mau berkeluh ria atau menggalaukan linimasa. Suer gue gak punya bakat untuk menggalaukan masyarakat. Kalo iya ada bakat, mungkin gue udah jadi mimin-mimin di sebuah akun galau yang jumlah followernya ribuan.

Gue cuma pengen sedikit atau sekilas saja berbicara. Even I’m bad on talking! But on write, I felt good enough to talk. Dan saat ini gue lagi berada di masa-masa gagal itu kayak suatu keharusan.

Andaikan gue bisa sedikit atau sebentaaarrr aja amnesia tentang sebuah kegagalan. Hingga nanti gue tetiba bangun, lalu harus menghadapi berbagai gagal lagi yang lain. Walo gue gak tahu apakah saat harus menghadapi kegagalan gue siap atau tidak. Tapi bukankah Tuhan sudah memperhitungkan kesiapan manusia saat ia memberikan ujian?

Inget dulu gue pernah bilang ke diri sendiri, bahwa gue type orang yang SANGAT mudah putus asa. Setiap kali gue menemukan kegagalan. Besar ataupun kecil. Tapi di luar itu semua. Gue itu gak pernah kapok. Jadi setelah gagal dan putus asa, gue akan kembali berdiri dan melakukan hal yang sama. Entahlah itu benar apa salah. Tapi yang pasti, walaupun kata gagal itu sendiri mempunyai konotasi negatif tapi bermakna sangat positif rasanya gue ingin bilang bahwa gue terlalu lelah menghadapi kegagalan.

Sampai gue berada di titik memilih untuk pura-pura gak ngerti. Pura-pura gak tau. Pura-pura lupa. Walaupun salah, tapi dalam keadaan lelah rasanya itu jadi jauh lebih baik.

Dan walaupun sifatnya hanya sementara jika dimulai dengan pura-pura.

Si kepala tanpa rambut

Tak ada bedanya ternyata. Dengan atau tanpa rambut. Semuanya sama. Ada sih yang berbeda, sedikit berbeda. Ada banyak bagian yang bertalu-telu di kepala saya. Sepertinya ada upacara atau perayaan. Atau bahkan ada kumpulan orang sedang bermarawis di sana. Rasanya ribut sekali. Tak tahu maksudnya apa mereka di sana. Berdengung setiap kali saya ingin beteriak.

Adakah hubungannya? Dengan ketidakberadaan rambut di kepala itu? Rambut-rambut yang biasanya bergumul di kepala. Menutupi kebisingan dengan tenangnya. Membuat jarak-jarak suara terdengar begitu jauh. Bahkan kadang tak terdengar sama sekali. Katanya Tuhan ada di mana-mana. Sampai saya mendengar suara Tuhan ada di sana juga. Memberikan sedikit ceramahnya agar saya tenang dan tidak mendengarkan keributan itu. Tapi suara Tuhan yang sejuk saja kalah. Saya tidak bisa tidak mendengarkan keributan itu. Atau … jika Tuhan mau mengembalikan rambut saya seperti dulu lagi, apakah suara riuh rendah itu akan menghilang?

Oh, tidak! Saya tak mau melakukan sistem tawar menawar dengan-Nya. Dia terlalu baik untuk dituntut ini itu (saya tahu).

Beberapa hari yang lalu saya bermimpi berada di lautan yang sangat luas. Dan di mana-mana terdapat air. Sampai saya hampir tak bisa melihat daratan. Semuanya samar oleh air. Orang bilang itu pertanda buruk. Mungkin air itu jugakah yang mengundang suara-suara ribut itu? Atau kepergian si rambut yang ditangisi isi kepala? Yang mana yang benar? Saya tak tahu …

Tuhan, aku tak tahu apa itu marah.

sedih (1)

Surat untuk Tuhan.

Tuhan, hukum aku jika memang engkau mau. Hukum aku jika Engkau tiba-tiba marah saat membaca suratku. Engkau ber-Hak melakukan itu semua. Sangat berhak. Tapi malam ini rasanya aku ingin marah. Pada siapa? Pada-Mu.

Rasanya aku ingin berteriak sampai lelah. Sampai suaraku habis. Malam ini aku merasa sangat takut. Dan lemah. Air mataku ingin ikut menemani. Tuhan, setelah semua yang berat kemarin. Ternyata Engkau masih senang melihatku merintih. Dan air mata sialan ini selalu mengekorku. Engkau tahu aku memuja-Mu lebih dari apapun. Aku mencintai-Mu lebih dari aku mencintai apapun dan siapapun. Tapi aku masih memikirkan egoku. Setelah perjalanan panjang kemarin, aku berjanji ini itu pada-Mu. Tapi ternyata aku tidak menepatinya.

Bahkan aku berjanji untuk menjadi pelayan-Mu. Tapi aku hanya sibuk memikirkan duniaku. Tuhan, mendadak aku tak bisa membedakan aku marah pada siapa. Marah pada-Mu atau pada diriku sendiri. Betapa tidak bersyukurnya aku. Betapa bodohnya aku menyia-nyiakan hidup di kesempatan kedua. Tapi kenapa yang aku lihat kehidupan orang lain yang ‘terlihat’ jauh lebih baik. Dan bagaimana bisa aku berfikir kenapa aku tidak diberikan apa yang Engkau beri pada orang lain. Tuhan, aku sadar pikiranku picik. Ego ini mengalahkan segalanya. Mengalahkan kecintaanku pada-Mu. Tuhan, seperti biasa aku meminta. Bantu aku berdiri. Bantu aku kembali mencintai-Mu. Buang amarah tak berguna ini dari pikiranku. Tuhan, entah ada berapa banyak orang yang bilang bahwa aku harus hanya bergantung pada-Mu. Hanya pada-Mu. Aku takut berharap pada sesuatu yang salah. Dan kita semua tahu bahwa Engkau Maha benar.

Tuhan, jika Engkau melihatku sebagai manusia-Mu yang tidak bersyukur. Engkau benar. Aku memang manusia bodoh. Bodoh yang tak terhingga. Terlalu bodoh hingga lupa bersyukur. Lupa bagaimana cara berterima kasih yang baik pada-Mu. Tuhan, ajarkan aku untuk lebih ikhlas. Ikhlas menerima APAPUN yang Kau rencanakan atau putuskan untukku. Tuhan, beri tahu aku caranya untuk menjadi kuat. Menjadi kuat dengan tangan-Mu. Genggam aku lagi setiap aku jatuh. Kuharap genggaman-Mu akan membuatku yakin bahwa Kau selalu bersamaku di setiap waktu. Jernihkanlah pikiranku dengan membuang marah ini. Aku nyaris bertanya, apa itu marah Tuhan? …

sedih