Tuhan, rasanya ini sangat cukup :’)

syukur allah

Jadi begini, (tulisan ini dibuat disela-sela gue nyelesein tulisan) mabal dulu lah bro barang sebentar 😀 Tetiba pengen nulis dari kemarin tapi baru muncul moodnya sekarang.

Jadi, dua minggu terakhir ini adalah minggu yang sangat melelahkan. Gue lelah karena stress. Dan stress karena shock sama hasil lab terakhir. Selama beres kemoterapi kan hasil lab selalu bagus dan dalam batas normal. Dokter juga bilang HCG-nya gak boleh lebih dari lima. And then hasil HCG gue kemarin malah naik jadi 7. Ya siapa yang gak schock. Bayangan kemoterapi yang menakutkan di depan mata. Dan bukankah penyakit ini cuma sembuh sama kemoterapi? Almost 100% lagi prosentasenya. Duh! Hampir tiap hari gue nangis dan meminta sama Tuhan agar jangan ada naik-naikan HCG lagi apalagi sampe kemoterapi. Sampe rasanya berdoa dan berharap jadi perpaduan yang melelahkan. Karena, gue tahu bahwa buat Tuhan hasil lab gue cuma angka. Dengan atau tanpa hasilnya buruk, itu tetap keputusan Tuhan. Bukan lagi atas dasar logika (gue sih nganggepnya gitu). Jadi, gue berusaha untuk tidak lelah berdoa dan meminta sama Tuhan karena segala keputusan Dia yang punya. Bukan tergantung dari mesin HCG atau apapun. Dan gue dengan tidak-tahu-malunya meminta dan meminta padahal masih banyak yang belum gue kasih ke Dia. Memalukan memang! Sama halnya kaya minta gaji naik ke atasan tanpa diimbangi dengan pekerjaan yang maksimal (itu perumpamaan laki gue)

Sampe hari di mana hasil HCG dua minggu kemudian datang, gak enak ngapa-ngapain deh pokoknya. Tulisan juga dibiarin nganggur, mana dikejar deadline lagi harus beres hari itu juga. Numpuk pulak tulisannya gegara banyak! DUH! Makin stress deh sumpah. BUT. Di sinilah Tuhan menjawab. Hasil HCG gue turun. Walaupun belum di bawah lima. Tapi dokter bilang itu masih dalam batas normal. Alhamdulillah. See? My dear God is so great in every step I take. And I damn HAPPY :””)

So’ after this, gue merasa hidup gue sekarang sangat cukup dan sangat lebih bahkan. Kenapa? Karena dengan hasil lab tersebut itu menandakan bahwa gue sudah sehat kembali. Dan sekarang tinggal penantian program hamil aja sampe semuanya normal. Gue merasa apa yang sudah Tuhan kasih sekarang (I means keluarga yang sayang sama gue dan suami yang luar biasa keren as a priest) gue merasa gue sudah merasa sangat cukup. Tuhan bahkan kasih gue lebih setiap harinya. Terlepas dari apakah yang gue hadapi itu sulit atau tidak.

Someone ever say, bahwa perempuan yang bersabar melihat orang lain sudah mendapatkan apa yang ia mau adalah perempuan yang dikasih lebih sama Tuhan. Gue gak tau sih apa gue sudah cukup sabar menanti kehamilan kedua, tapi gue menghibur-diri untuk lebih bangga sama diri gue karena sudah melewatkan banyak peristiwa. Walaupun BANYAK perempuan di sekitar gue yang merasa menang karena mereka diberi baby lebih dulu. Tapi gue bangga sih, walaupun telat tapi bok! Demi punya anak lagi gue mah harus menjalani serentetan cerita dulu. Mereka mah hamil langsung dikasih. Udah. Gue mah melewati banyak tantangan dulu. Tapi yaudah sih kalo gue sombong nanti berkahnya diambil lagi donk sama Tuhan 😀

So, gue merasa sangat cukup sekarang. Dengan sehat dan dikelilingi sama keluarga yang bikin gue bahagia. Gak akan lah gue minta-minta lagi ini itu kaya mobil atau rumah baru (etapi kalo dikasih mau :D). Buat gue, hal-hal kaya gitu udah kecil banget ukurannya. Bok! Sebelum sakit gue punya ini itu (kalo boleh sombong sedetik), tapi bukan punya gue juga sih ya jadi semua diambil lagi sama Yang Punya satu per satu 🙂

Yang lucu, pernah ada yang bilang sama suami. Gegara kita belum punya anak mereka  nyuruh kita sabar. Lah? Berdoa dan menanti itu bukan sabar namanya? Dan kenapa kita harus ngiri sama yang udah punya baby? Belum tentu mereka lebih layak jadi orang tua kan dari pada gue? (nyombong lagi) Lah! Sombong muluk ini dari tadi. Ehehe. Kidding!

Yang pasti, its more than enough for me, God :’)

Anti-Mainstream ceritanya :)

mainstream

Gak tahu juga sih mainstream itu apa artinya. Dalam arti sebenarnya maksudnya!

Gue cuma tahu dari twitter, banyak orang yang koar-koar tentang anti mainstream. Dan lama-lama gue tahu kalo artinya itu gak-mau-sama-kayak-orang lain. Intinya gitu lah yah. And, FYI aja ya. Gue adalah type cewek yang stereotype. Dari zaman dulu kala ingin menjadi bagian dari apa yang lagi up to date. Dan merasa gak keren kalo gak sama kayak mereka. Duh, mengkhawatirkan banget ya hidup gue yang dulu. Muehehehehe.

Sampe gue ngawinin cowok yang Monotype banget. Dia justru ingin jadi yang terlangka di antara yang sama. Yah, lama-lama gue pun jadi ikutan monotype secara tidak sadar. Dan ikutan anti-mainstream jugak! *bangga bener* 😀

Gue sih nulis tentang mainstream atau tidaknya seseorang di sini bukan karena ingin menghujat mereka yang masih mainstream ya. Cuma ya banyak orang-orang di sekitar gue dan temen-temen yang jadi mainstream dengan adanya dan banyaknya jejaring sosial yang mereka ikuti. Karna gue udah pensium, gue ngerasa sayang aja gitu. Apalagi beberapa diantaranya ada yang menurut gue sih cerdas. Eh, bukan berarti orang cerdas gaboleh mainstream yak! Cuma ya sayang aja gitu. Dengan kecerdasan mereka, kenapa mereka harus ikut-ikutan harus menjadi seperti orang lain. Kenapa *istilahnya* nggak ngetwit atau bikin status tentang KEHIDUPAN-SEHARI-HARI terkesan nggak keren dan nggak gaya.

Walaupun gue juga dulu gitu. Ingin sama kayak yang lain. Dan selalu mengumbar keseharian gue di status. Gue pengen semua orang tahu gue lagi anu, lagi di anu, lagi sama anu, lagi punya anu. DUH! Berasa jadi Luna Maya banget ya gue, penting gitu semua di koar-koar dan dibilang-bilang di status. Dan facebook adalah salah satu sarana yang paling banyak digunakan setelah twitter untuk mengumbar ke-mainstream-an tadi. Eh, sesudah atau sebelum twitter ya?

Gue ngerasa status facebook temen-temen jadi mainstream aja gitu. EH! sekali lagi bukan menghujat ya. Bukan juga ngurusin hidup orang lain. Ya itu kan hidup dan hak mereka. Monggo kalo mau ikut-ikutan mainstream. Cuma gue memandangnya dari sudut yang lain. Untuk sebagian orang yang gue kenal baik dan gue anggap cerdas menjadi salah satu orang yang mainstream itu ya sayang aja gitu. Tapi kalo itu udah jadi pilihan hidup ya monggo 😀

Kalo Gue terkesan melarang, takutnya dibilang otak gue belom merdeka. Orang yang udah bebas dari mainstream lalu mencaci yang masih mainstream berarti kan otaknya belum sepenuhnya merdeka untuk tidak mencaci. Lagian, sesuatu hal yang udah ada undang-undangnya aja masih bisa dilanggar apalagi ini nggak ada dasar hukumnya 😀

Ini cuma sekadar pendapat gue mengenai ke-mainstream-an orang-orang di sekitar gue. I means, being normal is boring broh. Out of box dikit lah itu lebih rame. Buat gue sih gitu. Muihihi. Ya udah sih selamat and happy mainstream aja. Gak papa, gue juga gitu kok dulu 😛 asal curhat onlinenya masih sewajarnya aja (I do that, sometime). But, remember that dunia maya kan bukan diary online 🙂