Anti-Mainstream ceritanya :)

mainstream

Gak tahu juga sih mainstream itu apa artinya. Dalam arti sebenarnya maksudnya!

Gue cuma tahu dari twitter, banyak orang yang koar-koar tentang anti mainstream. Dan lama-lama gue tahu kalo artinya itu gak-mau-sama-kayak-orang lain. Intinya gitu lah yah. And, FYI aja ya. Gue adalah type cewek yang stereotype. Dari zaman dulu kala ingin menjadi bagian dari apa yang lagi up to date. Dan merasa gak keren kalo gak sama kayak mereka. Duh, mengkhawatirkan banget ya hidup gue yang dulu. Muehehehehe.

Sampe gue ngawinin cowok yang Monotype banget. Dia justru ingin jadi yang terlangka di antara yang sama. Yah, lama-lama gue pun jadi ikutan monotype secara tidak sadar. Dan ikutan anti-mainstream jugak! *bangga bener* šŸ˜€

Gue sih nulis tentang mainstream atau tidaknya seseorang di sini bukan karena ingin menghujat mereka yang masih mainstream ya. Cuma ya banyak orang-orang di sekitar gue dan temen-temen yang jadi mainstream dengan adanya dan banyaknya jejaring sosial yang mereka ikuti. Karna gue udah pensium, gue ngerasa sayang aja gitu. Apalagi beberapa diantaranya ada yang menurut gue sih cerdas. Eh, bukan berarti orang cerdas gaboleh mainstream yak! Cuma ya sayang aja gitu. Dengan kecerdasan mereka, kenapa mereka harus ikut-ikutan harus menjadi seperti orang lain. Kenapa *istilahnya* nggak ngetwit atau bikin status tentang KEHIDUPAN-SEHARI-HARI terkesan nggak keren dan nggak gaya.

Walaupun gue juga dulu gitu. Ingin sama kayak yang lain. Dan selalu mengumbar keseharian gue di status. Gue pengen semua orang tahu gue lagi anu, lagi di anu, lagi sama anu, lagi punya anu. DUH! Berasa jadi Luna Maya banget ya gue, penting gitu semua di koar-koar dan dibilang-bilang di status. Dan facebook adalah salah satu sarana yang paling banyak digunakan setelah twitter untuk mengumbar ke-mainstream-an tadi. Eh, sesudah atau sebelum twitter ya?

Gue ngerasa status facebook temen-temen jadi mainstream aja gitu. EH! sekali lagi bukan menghujat ya. Bukan juga ngurusin hidup orang lain. Ya itu kan hidup dan hak mereka. Monggo kalo mau ikut-ikutan mainstream. Cuma gue memandangnya dari sudut yang lain. Untuk sebagian orang yang gue kenal baik dan gue anggap cerdas menjadi salah satu orang yang mainstream itu ya sayang aja gitu. Tapi kalo itu udah jadi pilihan hidup ya monggo šŸ˜€

Kalo Gue terkesan melarang, takutnya dibilang otak gue belom merdeka. Orang yang udah bebas dari mainstream lalu mencaci yang masih mainstream berarti kan otaknya belum sepenuhnya merdeka untuk tidak mencaci. Lagian, sesuatu hal yang udah ada undang-undangnya aja masih bisa dilanggar apalagi ini nggak ada dasar hukumnya šŸ˜€

Ini cuma sekadar pendapat gue mengenai ke-mainstream-an orang-orang di sekitar gue. I means, being normal is boring broh. Out of box dikit lah itu lebih rame. Buat gue sih gitu. Muihihi. Ya udah sih selamat and happy mainstream aja. Gak papa, gue juga gitu kok dulu šŸ˜› asal curhat onlinenya masih sewajarnya aja (I do that, sometime). But, remember that dunia maya kan bukan diary online šŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s