Menjadi Kuat Selalu Menjadi PIlihan Terakhir

Gambar

Gue suka banget sama kalimat menjadi kuat selalu menjadi pilihan terakhir. I means bukan berarti gue gak mau kuat. Tapi saat harus menghadapai beberapa kenyataan hidup, rasanya tak ada pilihan lain selain hanya menjadi kuat. Atau tepatnya berusaha menjadi kuat. Kuat di sini bukan tentang mampu menyelesaikan segala sesuatu yang sulit (dalam hal apapun) atau mampu angkat barbels kayak agung hercules yak 😀

Tapi menjadi kuat di sini adalah menjadi seseorang yang lebih tenang dan berfikir bahwa Tuhan sudah menyelesaikan semuanya dengan baik. Duh, gue berasa lagi ngomong muter-muter gini yak 😀 intinya begini, apa yang gue hadapin belakangan ini lagi-lagi hanya membuat gue kuat. Tanpa gue tahu apa maksud Tuhan yang sesungguhnya. Lagi-lagi! Gue harus menghadapi penyakit lagi. Rasanya berat. Rasanya (selalu) unfair! Tapi gue sadar sekarang, kalo gue menyalahkan Tuhan maka gue mengikuti kemauan setan! And I  dont want! Gue hanya berusaha untuk merubah mindset.

Di saat gue sedang menunggu dengan cantik (tolong digaris bawahi cantiknya 😛 ) untuk program punya anak lagi ternyata kehendak Tuhan bukan itu. Gue merasa kayak lagi mau jalan ke suatu tempat and then Tuhan bilang, jangan lewat situ bahaya. Lewat sini aja. Dan gue mengikuti. Walaupun gue ngerasa sangat takut untuk melewati jalan yang Tuhan tunjukkan. Tapi gue bodoh aja kalo merasa Tuhan doing nothing. Karena gue pun sadar kalo Tuhan selalu mengiringi jalan apapun yang gue ambil.

Akhirnya! Gue seolah  berkata sama diri gue sendiri. Aku ikuti kemauan-Mu Tuhan. Yuk! Mau Tuhan apa sekarang gue ikuti. Gue kayak lagi desek-desekan mau deket-deket terus sama Dia. Karena gue takut jalan sendiri. Gue merasa ga mampu jalan sendiri. Dan ajaib! Gue merasa tenang. Serahin semua sama Tuhan udah kayak bukan kata-kata lagi.

All peoples around me is support me! And I thankfull :’)

Gue udah pura-pura gak tahu lagi apa arti kuat yang sebenarnya. Gue sedang sangat diuji di saat harus melihat orang lain memiliki apa yang tidak gue miliki. Orang-orang semakin menjadikan anak-anak mereka pameran. Rasanya anak bukan lagi titipan Tuhan, tapi hanya sebatas pameran. Sorry for what I think, but kebanggaan orang tua tentang anaknya rasanya gak perlu juga menjadi ukuran kebanggaan atau kompetisi. Mungkin (ini mungkin ya) gue sedang diajarkan untuk tidak begitu. Walaupun dulu rasanya gue juga ingin sekali begitu.

Tapi sudahlah, gue lagi berjuang. Hanya untuk menjadi sehat dan kuat. Walaupun orang lain tak perlu tahu kalo terkadang, gue juga rapuh … bahkan sangat rapuh …

Gambar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s