Semrawutnya Curahan Hati Seorang Bumil

Langsung aja. Gue baru nulis memo di handphone beberapa jam yang lalu. And I’ll post it here. Cek this out 😀

Dulu. Aku lupa kapan tepatnya. Aku pernah menulis di memo handphone ini. Tentang kekesalanku (yang tiada berguna), tentang kemarahanku, dan tentang bentuk-bentuk protesku pada Tuhan. Khususnya tentang situasi menyedihkan saat aku harus kehilangan anak, saat harus menerima kenyataan bahwa aku sakit, dan tentang aku yang belum juga hamil.

Tapi saat handphone ini rusak, memonya hilang. Mudah2an hilang juga rasa kesalku. Ikut terbang dengan angin yang berhembus waktu handphone ini sedang diperbaiki.

Yang kuingat, saat itu aku lelah. Sungguh lelah dalam menunggu. Panggil aku wanita-sialan-yang-tak-punya-rasa-sabar. Karna aku memang tidak pernah sabar. Sesungguhnya, saat aku berkata aku lelah aku tak pernah benar-benar tahu kapan seorang manusia harus bersabar dan menunggu. Atau memang tidak ada batasnya?

Aku marah pada Tuhan. Kucurahkan beragam kalimat kasar & menyebalkan yang saat itu terlintas di pikiranku. Dan kutujukan pada Tuhan. Laknat sekali aku ini. Berani-beraninya marah-marah dengan cara yang tidak hormat pada Sang Pemilik Kehidupan & pada Sang Maha Besar. Memangnya aku ini siapa sih? Disebut wanita suci juga mustahil sekali! Bahkan wanita suci sekalipun tidak akan dibenarkan menulis kalimat yang menghina Tuhan. Tapi saat itu aku memang benar-benar menuliskannya di memo ini. Ceritanya, aku benar-benar marah.

Aku protes pada Tuhan. Aku memandang dari sisi pandang yang sangat-sangat buruk. Aku merasa Tuhan tak adil, aku merasa Tuhan hanya sedang pilih kasih. Dan aku merasa Tuhan tak berpihak padaku. Hanya karna aku ingin punya anak, dan saat itu Tuhan belum memberi. Tolong dicatat ya! Belum memberi. Bukan tidak memberi! Saat itu, aku memang sedang menghadapi situasi yang sangat sulit (sangat sulit di sini relatif ya). Dan aku jadi melampiaskan kekesalanku pada-Nya. Walaupun hal itu pun tak bisa dijadikan pembenaran. Aku pun menulis serangkaian kata yang menyedihkan (menyedihkan karna aku terlihat bodoh), dan bawa-bawa nama Tuhan.

Hingga aku punya cukup nyali untuk *kasarnya* memarahi Tuhan. Sungguh bodoh dan laknat aku ini. Menunggu hal yang tak pasti itu judulnya memang random. Karna kita tak pernah tahu apakah kita akan mendapat jawaban atau reward dari penantian kita. Tapi, padahal aku hanya tak pernah benar-benar tahu. Bahwa Tuhan Maha Besar. Jika memang ingin, jika memang mau bisa banget Tuhan memberiku anak saat itu juga. Tak perlu repot-repot membiarkanku menunggu. Tapi sadarlah aku, kasih sayang Tuhan itu tak kasat mata. Dan luasnya tidak bisa diukur dengan kata atau kalimat apapun juga. Atau bahkan dengan alat yang canggih sekalipun.

Karna, terbukti. Hanya dengan hitungan bulan saja, ternyata Tuhan menjawab doaku. Ia menitipkan benih di rahimku. Dari yang hanya berukuran sebesar satu buah kurma, hingga berwujud manusia seutuhnya. Bukan hanya itu, Tuhan jugalah yang menguatkan, menyehatkan dan menjaga kami berdua selama masa kehamilan ini. Oke. Jadi, kurang baik apa coba? Udah dikasih gratis, dikasih rezekinya, ditambah dikuatkan, disehatkan & dijaga dengan baik. Itulah kenapa akhirnya aku belajar. Untuk menerima. Menerima semua hal yang sudah Tuhan beri dan yang sudah Tuhan putuskan untuk hidupku. Walaupun itu bukan hal yang enak.

Dia memang Maha Sempurna. Dan kita sebagai makhluknya yang hina & bodoh ini tak akan sadar hingga Tuhan memberi barokahnya untuk hidup kita. Betapa seringnya Ia memberkati hidup kita dengan hal-hal yang baik. Dan jika hal-hal yang buruk terjadi pada hidup kita, anggap itu anugrah. Karna jika kita menggunakan otak kita untuk rajin membaca dari apa yang sudah terjadi, maka kita akan belajar dari sana. Menambah rasa syukur dan tentunya membuat hidup kita berubah.

Dan cerita atau let say curahan hatiku kali ini di memo ini adalah penebusan dosa atas curahan hati yang kuketik tahun lalu. Yang isinya negatif. Aku tak tahu apakah tulisan ini bisa disebut sebagai penebusan dosa, atau apakah istilah ‘penebusan dosa’ itu benar2 ada. Tapi anggap saja begitu. Dan rasa terima kasih ku pada-Nya sungguh tak terhingga.

Dan tak ada kata yang sanggup menggambarkan rasa terima kasih itu. Karna aku pun percaya bahwa Tuhan tahu seberapa besar rasa terima kasihku pada-Nya.

Terima kasih Tuhan. Akan ujian & pelajaran yang tak hentinya kau limpahkan padaku. Hingga aku belajar untuk tidak menjadi manusia bodoh yang khilaf. Dan terima kasih juga akan anugrah terindah yang kau titipkan di rahimku ini. Aku mencintainya, dan tentu saja sangat mencintai-Mu.

Begitulah. Maaf kalo tulisannya acak-acakan karna ngetiknya di memo handphone. Yang penting masih layak baca 😀