Menjadi Istri Solehah Itu Bonus

IMG_20141111_0 13710 Saat memutuskan untuk menikah, rasanya luar biasa. Masa transisi dari gadis jadi Nyonya itu juga luar biasa, luar biasa gak mudah maksudnya. Tapi, aku memang tidak pernah bermimpi yang muluk-muluk tentang pernikahan. Tak ada pula iming-iming rumah atau mobil mewah dari calon suami. Ia mengajakku menikah dengan catatan, belajar hidup sederhana berdua. Dan mengajakku menjadi navigator di perjalanan kita. Aku tahu, sebelum menikah dan menjadi seorang istri aku hanyalah seorang perempuan yang mentah. Yang jika diibaratkan buah-buahan aku hanya buah mangga mentah yang belum matang dan belum siap dimakan. Jujur deh, aku ini pemalas. Masuk dapur lalu masak telor aja udah bagus. Aku ingat, kamulah yang mengajarkanku masuk dapur (ini memalukan memang) 😀 *berasa ditraining deh*. Kamu jugalah yang mengajarkanku cara mencuci pake mesin cuci (dusun banget gak sih) 😀 Mengertilah si buah yang belum matang ini kalo ternyata menjadi seorang istri ini adalah tentang tanggung jawab. Suamiku tak pernah menuntut apapun, tak pernah meminta lebih, ia menerimaku apa adanya. Aku yang mentah ini, aku yang tak bisa masak, nyuci apalagi nyetrika. Tapi justru karna dia tak pernah banyak menuntutlah aku pun belajar untuk bertanggung jawab. Aku merasa kewajibanku sebagai istri udah harus mulai dibenahi. Dari yang kalut waktu kasih rinso kebanyakan di mesin cuci, sampe bisa nyuci berpuluh-puluh baju tanpa kendala. Dari yang gak tahu mana jahe mana cikur, sampe bisa ngiris-ngiris bawang dengan ‘rapih’, dari yang nyetrikanya ngasal sampe bisa rapih (gak rapih-rapih amat sih, tapi lumayan lah). Satu hal lainnya yang aku sadari. Menjadi seorang istri bukan tentang apakah harus selalu bisa masak, nyuci, nyetrika, dan tugas lainnya. Tapi lebih luas dari itu. Aku belajar bagaimana cara menghadapi suam i, bagaimana cara mengolah emosi, bagaimana bisa jadi partner yang baik untuk pasangan, dan bagaimana punya tanggung jawab sendiri. Aku tahu rasanya bagaimana harus tetap sabar saat ekonomi melemah. Bagaimana memberi dukungan pada suami saat pekerjaan membuatnya lelah, bagaimana sulitnya membagi waktu antara urusan rumah tangga, mengurus anak, dan mengurus suami. Gak jarang juga aku lupa menyiapkan secangkir kopi di pagi hari atau lupa kasih makan suami di malam hari saat aku disibukkan dengan urusan anak. Namun aku bahagia. Dan bersyukur Tuhan memberikan amanah ini. Inilah sekolah kehidupan yang sesungguhnya. Air mata juga bisa berubah menjadi bahagia saat melihat tawa suami dan anak. Rasanya tak bisa dibayar dengan apapun. Dan saat melihat mereka tertidur lelap, seketika aku lupa definisi lelah. Aku bukan (atau belum jadi) istri yang baik. Rasanya masih banyak dosa yang kulakukan pada suami. Tapi aku tak pernah sekalipun berpikir bahwa apa yang kulakukan untuknya dari awal pernikahan hingga sekarang adalah agar aku menjadi istri solehah. Jujur saja, aku tak pernah bercita-cita menjadi istri solelah. Sehingga semua yang kulakukan benar-benar dari hati. Dan aku merasa bahwa aku memang wajib melakukannya. Aku tidak mau terbebani oleh istilah solehah tersebut. Tidak. Bukan tidak mau. Menjadi istri solehah itu impian atau keinginan banyak wanita. Jika diizinkan, aku pun mau. Tapi pada hakikatnya, menjadi solehah adalah bagian dari predikat. Dan aku merasa yang berhak memberi predikat tersebut hanya Allah SWT. Jujur juga, selama ini aku tak pernah mencari buku-buku agama atau bahkan al-qur’an yang isinya tentang cara atau bagaimana menjadi istri solehah. Dengan memiliki partner hidup yang baik, yang bertanggung jawab, dan yang dengan kerel aan membimbingku untuk menjadi istri yang baik, aku rasa itu sudah cukup. Tanpa harus repot-repot berpikir bagaimana caranya agar aku menjadi istri solehah. Asalkan aku mau belajar. Toh kuncinya ada di diri kita sendiri. Sekali lagi, buatku predikat istri solehah itu bonus. Jika (dengan semampuku) aku bisa melakukan hal-hal baik sebagai seorang istri seperti Fatimah anak Nabi Muhammad misalnya, ya bagus. Tapi jika aku merasa belum sanggup untuk tampil sempurna rasanya aku akan tetap berusaha semampuku saja. Aku bahagia dengan ketidaksempurnaanku sebagai seorang istri. Dan aku tetap bangga. Hal itu menunjukkan bahwa aku manusia biasa. Seorang istri yang selalu belajar untuk menjadi istri yang baik. Terlepas dari, apakah aku seorang istri yang solehah atau tidak. Karna buatku, yang penting bukan tentang apakah kita sudah menjadi istri solehah i belum. Tapi tentang melakukan tugasi-tugas seorang istri dari hati. Dengan ikhlas dan tidak merasa terbebani. Akhirnya, mengertilah si buah yang menjelang matang ini hakikat dari menikah itu ibadah. Karna, semua yang kulakukan sebagai seorang istri didasari dengan bentuk ibadah. Dan kecintaanku pada Yang Esa semakin bertambah karena ternyata menjadi seorang istri itu, selalu dipenuhi rasa syukur setiap hari 🙂 Tulisan ini diikutkan Giveaway Istri yang Baik http://www.mugniar.com/2014/10/giveaway-istri-yang-baik.html dan frasa “Istri yang Baik” ke blog Vina di http://nadasyahdu.blogspot.com