Hujan Pembawa Kenangan

IMG_20141219_063801

” When you are caught in the rain
With nowhere to run
When you’re distraught
And in pain, without anyone
And you feel so far away
That you just can’t
Find your way home
You can get there alone
It’s okay
What you say.”
Mariah Carey – Through The Rain

Yang paling kuingat dari hujan adalah wangi petrichor yang berhamburan menusuk hidung. Dari kecil, aku suka wanginya. Menghirup wangi tanah kering yang kemudian basah oleh air hujan itu seperti menghirup wangi masakan Mama di rumah. Maksudnya, wangi yang paling diinginkan. Dan wangi petrichor ini menjadi salah satu moodbooster di kala lelah atau sedih.

Aku tak tahu apakah cerita ini bisa dikategorikan sebagai alasan aku untuk menyukai hujan. Atau sekadar untuk mengingat hujan. Mungkin terdengar sangat klise. Karna hujan mengingatkanku pada kamu. Kamunya aku, kamunya seseorang, atau kamunya orang lain selalu menjadi alasan bahwa hujan itu terlihat indah, terlihat lebih daripada sekadar air yang turun ke bumi. Buatku, hujan terlihat seperti seorang gadis lugu nan kemayu, dan bahkan memiliki jutaan makna yang tersembunyi.

Tahun itu. Tahun yang akan selalu kuingat. Tahun 2008. Tahunnya kita. Kita? Oke. Mungkin belum menjadi kita. Tapi baru menjadi kamu dan aku. Aku lupa bulan apa saat itu. Yang pasti musimnya lah yang selalu kuingat. Musim hujan. Di tahun akhir kelulusan, kamu datang kembali. Dan aku juga masih ingat, pukul setengah 3 subuh kamu mengirimiku SMS yang menyiratkan pencarian setelah aku menghilang karena lelah. Lelah karena tak pernah ada kepastian. Bukan kepastian tentang hubungan kita (rasanya itu terlalu jauh), tapi kepastian tentang perasaanmu.

Lagu-lagu galau menjadi teman terbaikku saat aku memutuskan untuk berhenti. Berhenti menjalani hubungan-yang-entah-apa-namanya-ini denganmu. Setiap hari, hujan ikut menangis denganku. Kenapa? Karena hampir setiap hari hujan turun. Dan yang paling kuingat adalah setiap pulang dari kampus aku selalu melamun sambil mendengarkan lagu via HP di angkutan umum. Hujan bisa menjadi alasanku untuk bertindak kekanakkan. Misalnya, sambil memandangi bulir-bulir air yang mengalir di kaca mobil angkutan umum. Aku menuliskan inisial nama kita. Hehe. Norak memang. Dan terlihat menyedihkan. Tapi sebenarnya menyenangkan.

Dan di tahun 2008, kembali di musim hujan. Kamu pun ikut kembali. Kamu seperti sedang kehilangan arah, lalu mencariku. Lewat peta intuisi. Hingga kita kembali dekat. Kupikir inilah rezeki tentang hujan. Orang bilang hujan itu pembawa rezeki. Bukan hanya sekadar sebuah presipitasi yang berwujud cairan. Tapi seperti yang kubilang, maknanya lebih dari itu. Makna yang kasat mata. Dan rezeki di kala musim hujan tahun 2008 ini adalah, kamu. Ya. Kamu. Kedatanganmu kembali ke kehidupanku yang abstrak ini.

Jangan tanya apakah aku bahagia. Ingat 1 tahun yang lalu saat kita masih dekat, aku selalu berteman dengan lagu-lagu sendu bertema galau sambil ditemani suara air hujan yang rasanya (saat itu) lebih menyerupai suaranya Ari Lasso saat sedang bernyanyi lagu Cintailah Aku Sepenuh Hati. Haha. Ratusan kali kuputar ulang lagu itu sambil nangis menye-menye. Tapi sekarang, di tahun 2008 ini. Aku bahagia. Karena kamu datang lagi. Seolah penebusan dosa atas apa yang pernah kamu lakukan. Dan musim hujan kali ini, menjadi musim hujan yang paling indah. Walaupun tak ada pelangi, rasanya di mataku selalu ada pelangi sehabis hujan. Mungkin pelanginya kamu.

Kupikir inilah saatnya. Wujud perasaan kamu padaku. Kupikir tahun ini akan berakhir dengan indah. Kupikir kamu tak akan kemana-mana lagi. Tapi aku salah. Lagi-lagi kamu hanya berdiam di sampingku tanpa memberikan kepastian apapun. Aku hanyalah seorang perempuan biasa, yang mengharap balas dari orang yang kucintai (jika memang bisa). Tapi jika tak bisa, kuharap kamu tak usah berdiri di sampingku. Masih di musim hujan, seperti pelangi yang tak pernah tinggal lama. Kamu pun begitu. Hanya sekadar singgah, lalu pergi lagi tanpa pamit. Pergi dengan perempuan yang kamu pilih. Tapi sayangnya perempu an itu bukan aku.

Aku tak ingat tepatnya tanggal berapa saat itu. Kalau tak salah bulan Desember. Masih di tahun 2008 di musim hujan. Sore itu, aku tahu kamu sudah benar-benar pergi dengan perempuan itu. Dan aku menangis dengan keras, sangat keras. Kupikir hanya aku yang menangis, tapi bumi pun ikut menangis. Saat itu, hujan turun dengan derasnya. Sangat deras, sampai lantunannya seperti lagu metal yang tak jelas liriknya seperti apa. Kami sama-sama menangis. Bahkan jika hujan bernyawa, mungkin ia pun sedang merayakan kesedihanku.

Kini. Tahun 2014 hampir berlalu. Sudah 6 tahun berlalu. Rasanya baru kemarin. Setiap musim hujan tiba, kenangan tentang kamu langsung hadir kembali. Ingatanku tentang kamu memang tak pernah menipis. Hujan bukan hanya menjadi pembawa rezeki, tapi juga pembawa kenangan. Hujan, seperti wujud nyata seorang kamu. Kamunya aku yang kini sudah jadi kamunya seseorang. Dan aku pun sudah jadi akunya seseorang. Tapi, kenangan tak pernah berbohong. Saat hujan tiba, kamulah yang pertama kuingat. Dan aku takut bermain-main dengan kenangan masa lalu saat hujan. Takut tersesat dan tak mau kembali lagi. Biarkan air hujan yang membawa pergi kenangan ini. Biarlah ia yang menghapus bersih kamu dari ingatanku. Sedikit demi sedikit, kuharap bisa …

”Tulisan ini diikutsertakan dalam A Story of Cantigi’s First Giveaway”

hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s