IMG_20150101_002836

Air hujan masih berjatuhan di bumi. Saling berlomba membasahi tanah, pepohonan, manusia, hewan, dan benda lainnya. Sepertinya bumi sedang ikut menangis. Menangisi kepergiannya. Inilah yang aku benci dari rasa sayang, terkadang kita harus membayar rasa sayang dengan air mata. Saat harus kehilangan …

Bukannya mau sok puitis. Tapi berita menyedihkan di sore ini bener-bener bikin air mata meleleh. Baru minggu yang lalu aku menengoknya di rumah sakit. Dia. Teman semasa kuliah. Kalo dibilang deket banget ya nggak, kalo dibilang nggak deket ya nggak juga. So’ I called it, cukup deket.

Tahun 2012 aku sakit. Harus keluar masuk rumah sakit. Harus menjalani serangkaian pengobatan yang memuakkan & menyakitkan. Dan harus berusaha kuat. Tapi mungkin itu salah satu cara Tuhan untuk bikin aku peka. Pada setiap hal yang terjadi di sekelilingku. Termasuk teman atau saudara yang juga sedang berjuang melawan penyakit. Namanya Thania, tapi kita (temen-temennya) lebih enak panggil dia Anyun. Anggep aja panggilan sayang :”’

Aku pernah tahu dia sakit. Didiagnosa penyakit lupus sejak lama. Lupa tepatnya tahun berapa. Tapi waktu kudengar beritanya, aku hanya mendengarkan sambil lalu *poor me*. Tapi saat aku sakit di tahun 2012 itu, aku pun mulai berempaty. Walau penyakit kita beda, tapi aku tahu rasanya berjuang melawan penyakit. Mendoktrin diri sendiri agar tidak takut kematian, agar bisa sembuh. Aku tahu itu tidak mudah. So’ aku mulai concern pada kesehatannya. Bukan sok lebay, tapi tiap dia mengeluh sakit aku selalu menyemangatinya. Karena tahu rasanya. Saat sakit yang kubutuhkan bukan apa-apa. Hanya hal yang paling sederhana, namun penting. DOA.

Kami juga sering saling mendoakan. Karena kami sadar, keluar masuk rumah sakit itu jaraknya hanya sekian inci dengan kematian 😦 Dan sampai aku sembuh pun, setiap kita ketemu yang kutanyakan selalu kesehatannya. Aku tahu, orang sakit itu sensitiv. Hingga butuh banyak suntikan semangat dan juga doa. But I’m a proud to her. Karena dia masih beraktivitas seperti orang sehat. Itu artinya dia berjuang melawan penyakitnya. Dan aku selalu berharap ia sembuh. Just it.

Hingga beberapa bulan yang lalu, kudengar ia kritis, koma, tak sadarkan diri, kejang-kejang, and all. Hal-hal yang gak enak didenger. Dari situ aku mulai worry. Dan semenjak itu, berita buruk terus berlanjut. Walaupun ia sempat sehat kembali. Tapi sayangnya ia harus masuk rumah sakit lagi. Dan kritis pula 😦

Minggu lalu, aku nekat ke rumah sakit sambil bawa anak. Aku ingin lihat dia. Ingin mendoakannya langsung. Dan ingin membisikkan banyak kalimat positif di telinganya agar ia bangun dan sehat kembali. Tapi … Tuhan berkata lain. Saat aku minta yang terbaik, Tuhan pun memberikannya. Mungkin Tuhan lebih sayang Anyun. And God, take her from us. Dari kita teman-temannya. Pantes semalem tiba-tiba inget Anyun. Dan langsung gak enak hati. Tipe gak enak hati yang tak bisa kujelaskan. Ternyata hujan di akhir tahun ini menandakan kepergiannya. Dan bumi pun ikut menangis …

RIP Nyun. Semoa semua amal ibadahmu diterima di sisiNya. Semoga Allah menempatkanmu di tempat yang indah. Semoga Allah melancarkan perjalananmu di alam kubur & alam barzah. Semoga kamu tidur yang tenang dalam lindunganNya.

We love you … And u’re alive in our memories. And it never die.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s