Laptop Jadi Salah Satu List Keinginan di Tahun 2015

Dengan tidak mengurangi rasa hormat (baca : malu) 😀 saya pun ikutan giveaway ini untuk membuka aib (baca : keinginan saya yang paling jujur) hehehe. Iya siapa tahu setelah saya ikutan giveaway ini, lalu *drum roll* JENG JENG!!! Saya pun dapet hadiah yang saya mau ini *wink*

Ya udah daripada saya ngoceh ke sana kemari langsung aja deh ya. Kalo diizinkan untuk minta kado, saya pengen dibeliin laptop baru. Kalo ada kata baru itu artinya saya punya laptop ya? But NO! Dalam kenyataannya saya gak punya. Alasannya sungguh sederhana. Karena saya penulis (mencoba go public :D), dan karena saya suka segala hal yang berhubungan dengan tulisan. So’ I need this laptop. Sebenernya tahun lalu saya punya, dan selalu saya pake kerja (tadinya saya penulis artikel berbayar). Tapi karena satu dan lain hal terpaksa laptop itu harus dipindahtangankan (bahasa halusnya dijual :p). Dan saya lagi cuti nulis artikel karena saya baru punya baby, jadi kepindahan laptop itu pun mau gak mau harus saya terima.

Tapi ternyata walopun saya lagi cuti nulis artikel, laptop ini tetep harus ada dan saya tetep butuh karena banyak hal yang bisa saya kerjakan di sana. Ya gak jauh-jauh dari nulis sih. Salah satunya ngeblog. And you know what? Tiap pengen curhat atau komentar tentang suatu hal di blog, saya cuma bisa nulis di Memo handphone. Kenapa? Karena saya gak punya laptop 😦 dan browser handphone saya sering eror jadi saya gak bisa ngeposting tulisan di sana.

And it makes me feel so sad, seriously. Apalagi saya lagi rajin ikutan giveaway. Saya udah jadi banci giveaway 😀 Kayak giveaway yang satu ini nih, saya nulisnya di Memo handphone terlebih dahulu. Setelah itu, baru saya posting di warnet. Mengingat emak-emak yang lain tinggal buka laptop kalo ingin ikutan giveaway macam ini, saya harus bersusah payah dulu ke warnet. Yah, walopun saya anggep aja ini bagian dari perjuangan. Perjuangan seorang penulis yang baru-mau-akan jadi ngehits di zamannya. Amin Ya Rabb. Diaminin juga donk doanya 😀

Dan mengingat laptop adalah jenis barang yang gak murah, saya pun meredam keinginan saya ini. Suami pun bilang sabar, nanti pasti ada waktunya untuk punya. And I trust him, kalo ada rezekinya dia juga pasti beliin kok. Mungkin ini soal waktu :’) dan tentu saja soal uang 😀

And then, gak peduli belinya jauh atau dekat. Di mana pun tempatnya yang penting Insha Allah kebeli ya. Kan kalo jauh juga bisa pake pengiriman via JNE 😀 (no gombal). Jasa pengiriman paling hits taun ini ^_^

Ya udah mudah-mudahan Tuhan mengabulkan doa kita ya. Selain dapet hadiah yang diinginkan, saya juga bisa dapet hadiah dari Mami Ubii (ihiy! Modus!) Dan yang paling penting keinginan saya untuk punya laptop juga dikabulkan Tuhan. Amin Ya Rabb 🙂

JNE

Advertisements

#GiveawayCintaDiTanahHaraam

cinta

Alasan paling utama yang bikin saya tertarik untuk baca novel drama religi ini adalah, judulnya. Cinta di tanah Haraam. Saya masih gak ngerti apa itu tanah Haraam. Dari mulai gak ngerti terus berlanjut ke penasaran. Dari penasaran berlanjut lagi ke ingin baca 😀

Kesabaran seorang wanita diuji ketika mencintai lelaki. Terlepas dari apakah pasangannya menyakiti atau tidak. Sama seperti sneakpeek dari buku ini, yang menceritakan tentang kesabaran Khumaira. Dan saat dihadapi pada kekecewaan dari orang yang kita cintai, itu tidak mudah. Saat kita harus bersabar, di saat yang sama kita bisa dibuai oleh emosi & hawa nafsu.

Buku ini mencerminkan kelembutan sekaligus ketegaran seorang wanita. Tema yang disajikan juga merupakan tema yang tak jauh dengan kehidupan sehari-hari. Dan entah sudah ada berapa juta wanita yang bersedia mengabdikan cinta & kesetiaannya pada pasangan tapi dibalas dengan pengkhianatan. Dan menurut saya, novel ini seolah mewakilkan perasaan wanita yang memiliki pasangan yang bukan saja berkhianat pada istrinya tapi juga pada Tuhan. Bukankah saat Ijab Kabul ia berjanji akan melakukan hak & kewajibannya sebagai suami?

Mbak Nucke berhasil menyampaikan pesannya pada para pembaca melalui novel ini. Tentang arti cinta, kesabaran, kesetiaan, dan pengabdian pada suami yang sudah menjadi satu paket utuh dalam rumah tangga. Good luck for this novel ya Mbak Nucke. Mudah-mudahan kita bisa sama-sama belajar sabar sebagai seorang wanita dan seorang istri 🙂