Anak Yang Terlantar, atau Ditelantarkan?

anak-menangis

Pertanyaan yang gue ajukan di judul blog ini sebenarnya sederhana. Tiba-tiba kepikiran pengen bahas ini setelah nonton berita tentang kelima anak yang ditelantarkan oleh Orang Tuanya. Kalo itu mah jelas ya, memang ditelartarkan karena anak-anaknya sama sekali gak diurus alias lepas tangan.

Tapi coba bayangkan, ada berapa juta kasus di luar sana yang nggak sempet dipublish sama media tentang penelantaran anak ini. Dan entah sudah ada berapa juta anak yang jadi korban. Yang gue gak ngerti, ada juga jutaan calon Orang Tua yang tak hentinya berdoa siang malam sama Tuhan cuma untuk minta diberi anak. Dan setelah dikasih, pasangan Orang Tua tersebut lalu sibuk cari uang di luar rumah dengan alasan demi anak. Maksudnya, demi anak yang mana? Dan apa definisi ‘demi anak’ di sini?

Dan kenapa gue ngebahas kedua Orang Tua alias suami dan istrinya? Kan memang sudah jadi tugas suami cari nafkah buat anak istri. Yess, its right. Tapi gue inget sama pernyataan salah satu Psikolog tentang Vitamin A untuk anak dari ayahnya. Walopun mungkin tugas utama sang ayah memang cari uang, tapi banyak sekali para ayah yang lupa bahwa anak-anak mereka juga butuh Vitamin A yang wujudnya kasih sayang dan perhatian dari ayahnya. Anak juga butuh didikan dari ayahnya. Lah wong anak juga hasil usaha dari ayah ibunya, kenapa para ayah selalu beralasan tugas dia cuma cari uang?

Lalu, kita bahas tentang peran seorang Ibu. Gak mentang-mentang gue ibu rumah tangga jadi gue beranggapan bahwa seorang Ibu itu memang tugasnya mendidik anak dengan tidak menitipkan si anak sama Orang Tuanya, mertuanya, pembantu atau  bahkan baby sitternya ya. Tapi sekali lagi gue bilang bahwa anak-anak yang Tuhan titipkan pada kita itu tak pernah meminta lebih. Mereka hanya butuh kasih sayang dan perlindungan dari Ibunya. Bahkan konon katanya Tuhan sudah membisikkan kata-kata pada setiap janin yang akan dilahirkan ke dunia bahwa malaikat pelindung mereka adalah ibu mereka. Lalu apa yang si anak dapatkan saat ia benar-benar lahir ke dunia? Ia dipaksa dewasa dan berpikir tanpa Ibu-ibu mereka di sampingnya.

Sekali lagi, gue gak lagi bahas mana yang lebih baik antara Working Mother sama Fulltime Mother ya. karena gue percaya hal itu balik lagi ke pilihan kitanya dan disesuaikan dengan kondisi yang ada. Tapi pembahasan gue ini hanya sebatas di peran seorang Ibu. Selain membutuhkan ASI yang juga sudah Tuhan siapkan untuk bayi-bayi ini lewat Ibu mereka, anak-anak titipan Tuhan ini murni hanya butuh kasih sayang kedua Orang Tuanya. HInggga mereka butuh didikan dari kedua belah pihak. Bukan salah satu, bukan dari Nenek Kakeknya, bukan juga dari pengasuhnya.

Jadi, jika kita lihat kembali tajuk sebuah berita tentang anak yang ditelantarkan bagi kita para Orang Tua sebaiknya berkaca apakah anak kita terlantar atau memang ditelantarkan. Jangan sibuk mencaci para Orang Tua yang tidak bisa menjaga amanah Tuhan, tapi lebih baik kita berkaca peran kita masing-masing sebagai Orang Tua. Gue ngoceh panjang lebar begini juga karena sudah menjadi Orang Tua dan kini tahu rasanya seperti apa. Dan entah gimana ceritanya, naluri gue yang bilang bahwa Alkha anak gue memang butuh gue. Untuk menemani, melindungi, membuka matanya tentang dunia, dan mendidiknya dengan baik.

Percayalah, tak ada bayi yang lahir ke dunia langsung menginginkan mainan atau gadget mahal. Mereka hanya butuh kita …

Advertisements