We’re strong together

image

Ini kali ketiga tumbuh bakal janin di rahimku. Rasanya sama. Karena bahagia tak pernah memiliki perbedaan. Mungkin aku sempat sedikit lupa pada Tuhan. Lupa bahwa yang menentukan ada tidaknya janin di rahimku adalah Dia. Hingga saat kamu benar-benar ada hanya dalam hitungan hari ke 30 sekian, rasanya aku tak percaya.

Kamu hadir secepat itu. Tadinya, kamu hanya muncul di imajinasi kami (ayah dan ibumu). Dan kamu masih berwujud rencana. Tapi siapa sangka, Tuhan kembali memperlihatkan kebesaranNya. Ternyata kamu benar-benar ada. Bergelung manja di bagian rahimku.

Sempat ada kekhawatiran, sempat ada rasa ragu, dan bahkan rasa takut. Ketiganya menjadi kesatuan yang utuh. Karena aku merasa belum menjadi ibu yang sepenuhnya baik untuk anak pertamaku. Aku masih harus belajar banyak untuk menghadapi seorang anak. Lalu Tuhan sudah menugaskanku lagi, bagaimana menghadapi 2 orang anak. Aku pun sempat meragukan pertolongan Tuhan. Seolah-olah Dia akan diam saja saat aku sedang berjuang.

Rasanya, kehamilan ketiga ini terasa begitu berat. Rasanya, aku tak bisa memanajemen emosiku sendiri. Walaupun kebanyakan sih ini ulah si hormon (Eaaaa nyalahin hormon 😝)
Tapi memang begitulah kenyataannya. Apa yang kukerjakan kini serba terbatas. Aku pun tak bisa segesit dulu. Pekerjaan rumah terbengkalai. Aku merasa jauh dari tangan Tuhan.

Lagi-lagi aku hanya lupa. Bahwa Tuhan tak pernah pelit memberi kekuatan. Walaupun saat menjalaninya ternyata memang tidak mudah. Dan aku hampir menyerah. Tapi Tuhan mengingatkanku lagi. Di luar sana, ada jutaan perempuan yang berdoa siang malam pada Tuhan agar diberi keturunan. Bahkan banyak juga pasangan yang merencanakan anak kedua tapi masih belum diberi. Lalu, aku yang langsung diberi dalam jangka waktu yang singkat masih tidak malu mengeluh hanya karena kehamilan ketiga ini terasa lebih berat? Its not funny things!

So’ baby, we have to strong together. We’ll face it together. Dimohon kerja samanya ya anak soleh. Kita berjuang bersama selama 9 bulan ke depan dan sampai waktunya kamu lahir ke dunia.
Baik-baik di perut Momi ya nak, karna rahim ibumu adalah tempat yang paling nyaman selain surga Allah. Maka nikmatilah, dan semoga kita selalu sehat ya nak.
You know what I say to your brother when he’s still on my tummy? ‘ If you was strong, so I’ll stronger than you.’

Love you so ‘, cant wait to see you 😘😘😘

Stop it now!!!

image

Buat kamu, yang baru lihat foto yang saya posting ini lalu tidak setuju, tak apa. Tapi sebentar, jangan dulu komentar apapun. Jangan dulu berteriak mencaci maki. Karena ini hanyalah tulisan sederhana, dari seorang penonton kehidupan yang ingin sedikit berkomentar.

Akhir-akhir ini, kasus propaganda LGBT sedang merajalela. Khususnya di media sosial. Banyak sekali pro dan kontra. Orang-orang yang mengaku dari kalangan aktivis berkoar membela mereka, sebaliknya orang-orang yang mengaku pemuka agama atau orang-orang yang merasa agama-gue-udah-paling-bener-gitu-loh berlomba-lomba mencemooh, mencaci, bikin meme-meme serem, sampe buka dalil-dalil al-qur’an.

Oke. Itu hak setiap orang sebenarnya. Silahkan berkomentar apapun. Tapi saya, entah kenapa merasa terganggu dengan orang-orang yang mati-matian mencemooh kaum minoritas tersebut. Dan bukan hanya berhenti di mencemooh dan mencaci saja, tapi juga mendoakan yang (maaf) kata-katanya pun gak pantas diucapkan. Dan kalimat yang mereka gunakan sungguh memalukan. Lebih parah dari anjing, harus mati, dirajam Allah. Duh. Itu yang komentar pernah belajar bahasa Indonesia gak sih? Mereka pernah belajar pendidikan moral di rumah atau sekolah gak?

Bukan. Saya bukan membela kaum LGBT. Saya juga bukan mau melegalkan apa yang menurut mereka benar. Tidak. Saya juga setuju bahwa Tuhan tidak suka dengan pernikahan atau hubungan sesama jenis. Tapi kalau mereka dicemooh, lalu dicaci maki dengan kata-kata kasar sampai didoakan yang jelek-jelek saya rasa itu sudah kelewat batas. Bukan apa-apa, saya hanya melihat dari kaca mata saya sebagai manusia. Katakanlah mereka berdosa. Dengan dosa yang besar, tapi lalu apakah itu berarti kita berhak untuk memusuhi mereka lalu menghina mereka dengan cara yang keji? Kalau mereka memang berdosa besar, apakah tindakan kita yang menyamakan mereka dengan hewan itu bukan berdosa? Apakah di mata Tuhan kita jelas lebih suci dari mereka?

Saya bukan sedang membahas di dalam agama dosanya mereka sebesar apa. Atau banyaknya dalil al-qur’an yang menyatakan bahwa Tuhan akan melaknat kaum LGBT. Bukan itu yang saya bahas. Tapi, hati kalian yang mencaci mereka ada di mana? Apakah dengan kalian rajin ngeshare tulisan hinaan untuk mereka setiap hari akan membuat besok lusa mereka berubah. Atau semua kaum LGBT hukumnya wajib tobat dan mengikuti SEMUA keinginan kalian?

Be wise. Bijaksanalah melihat sesuatu. Cobalah melihat dengan kaca mata kita sebagai manusia. Kesampingkan dulu masalah dosa, benar salah, dan siapa yang masuk neraka atau surga. However, kaum minoritas ini adalah manusia biasa yang sayangnya memilih jalan hidup yang menyimpang. Dan selama mereka tidak mengganggu kita, lalu urusan kita apa? Yah, katakanlah mereka berdosa tapi jangan sok jadi Tuhan. Karna cuma Tuhan yang berhak menentukan siapa yang benar atau salah dan siapa yang pada akhirnya akan masuk surga atau neraka. Kamu lupa bahwa Tuhan maha adil dan maha baik? Lalu jika di mata Tuhan mereka salah dan berdosa, apakah Tuhan akan mencaci maki mereka seperti kita yang dengan tenangnya menyepelekan mereka? Jawabannya nggak. Saya percaya Tuhan maha adil, adil seadil-adilnya. Dia tak akan bertindak gegabah, walaupun ada makhluknya yang berbuat dosa besar.

Jangan merasa yang paling benar, paling suci, paling baik sehingga berhak menghakimi hidup orang lain. Kalau menurutmu apa yang mereka lakukan itu keji, biadab, lalu apakah tindakan kita yang semena-mena tidak keji? Katanya mengaku manusia, tapi sikap kita kok tidak berperikemanusiaan.

Sekali lagi, saya tidak membenarkan tindakan LGBT. Sama sekali tidak. Tapi menurut saya, kita tetap tidak punya hak menghakimi kehidupan mereka. Cape tau Broooohhhh ngitungin dosa orang lain. Belom tau rasanya jadi malaikat pencatat amal buruk kayaknya 😀