Berdamai dengan diri sendiri

image

Berdamai dengan orang yang nyebelin, pernah. Berdamai dengan orang yang mengganggap musuh atau sebaliknya, pernah. Berdamai dengan orang-orang yang masuk dalam daftar ‘orang yang menyayangi’, juga pernah. Berdamai dengan masa lalu, berdamai dengan rasa sakit, berdamai dengan penyakit, semuanya juga pernah.

Lalu, apa yang paling sulit dari semuanya? Berdamai dengan diri sendiri. Ternyata rasanya menyakitkan. Karena sulit dan tidak mudah sama sekali. Dan saat aku berada di titik tidak bisa memaafkan, aku mulai menyalahkan diri sendiri atas ketidaksempurnaanku. While I know that, tidak ada manusia yang sempurna. Aku juga merasa menjadi orang yang punya lebih banyak kekurangan dibanding orang lain. Seolah-olah aku orang yang paling tahu ada berapa banyak jumlah kekurangan di setiap masing-masing orang. Dan kelamaan, aku bisa membenci diri sendiri. And I dont want it happen.

Ikhlas dan pasrah. Adalah dua hal yang paling sulit kulakukan. Dan setiap aku sedang akan belajar ikhlas dan pasrah, aku melibatkan Tuhan. Karena aku merasa tak sanggup. Tapi saat ada tangan Tuhan yang ikut membantuku untuk ikhlas dan sabar, rasanya jadi lebih ringan. Dan saat ini, aku sedang berada di titik mencoba berdamai dengan diri sendiri. Untuk apa? Membuang segala hal yang negatif yang di otakku, membuat diriku lebih tenang, dan melihat diriku apa adanya. Hingga saat aku bercermin, aku melihat seorang manusia yang memang biasa berbuat salah dan punya banyak kekurangan. Biar aku gak naif.

Kenapa damai menjadi sebuah kata yang sulit? Memaafkan menjadi sebuah kata yang bermakna berat? Karena aku memang belum bisa benar-benar berdamai dengan diri sendiri. Tapi percayalah, bahwa aku akan terus belajar. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diriku sendiri. Karena bahagia itu kan kita yang ciptakan (bukan realita cinta & rock n’ roll ala-ala ya 😝 ). Tapi memang aku tak mau menggantungkan bahagiaku di tempat yang salah. Dan tak mau jauh-jauh mencari. Karena memang bahagia itu ada di diriku sendiri.

Lalu jika aku tak bisa berdamai dengan diri sendiri, bagaimana caranya aku bahagia? Bagaimana caranya aku menikmati hidup? Dan bagaimana caranya aku bisa menerima diriku apa adanya. Selain mencoba untuk berdamai, aku juga mencoba untuk selalu berdoa pada Tuhan. Tidak harus selalu menengadahkan tangan, tapi setidaknya Tuhan tahu apa maksudku dan Tuhan melihat usahaku dalam belajar.

Belajar menerima diri sendiri.

Out of comfort zone in household

image

Comfort zone yang memiliki hitungan tahun, ternyata gak jauh beda dengan racun. Mungkin karena kita bersandar terlalu lama, sampe keenakan. Terlalu lama hidup di area comfort zone membuat kita lupa bahwa sandaran kita satu-satunya hanya Tuhan. Dan keluar dari comfort zone yang meninabobokan kita selama adalah sebuah keberanian.

Berani mengambil keputusan. Berani meninggalkan kenyamanan yang bertahun-tahun sudah menggerogoti ruang gerak hidup kita seperti sel kanker yang memakan habis salah satu bagian tubuh kita. Dan begitu pula dengan comfort zone dalam rumah tangga.

Hari ini aku belajar untuk merenungkan kembali kenyamanan hidupku dalam area rumah tangga. Kenapa? Karena aku menyadari sesuatu. Aku terlalu terbuai. Terlalu tenggelam dalam kenikmatan comfort zoneku sendiri. Thats why I called it ‘racun’. Seperti minuman manis yang kita teguk sedikit demi sedikit sampai habis, lalu setelah habis kita hampir mati keracunan. Atau bahkan bisa benar-benar mati.

Aku belajar bahwa dunia rumah tangga itu luas. Luas oleh pelajarannya. Ada banyak materi dari sekolah kehidupan. Salah satunya kehidupan rumah tangga. Aku sempet terjerembab di dalam comfort zoneku selama bertahun-tahun di area rumah tanggaku sendiri. Hingga akhirnya tersadar bahwa aku harus bangun. Jangan terlena oleh mimpi yang kusulam sendiri. Bahwa aku harus keluar dari comfort zone yang juga kuciptakan sendiri.

Aku tak mau dan tak akan memberi label wonder woman dalam diriku. Aku belum jadi istri dan ibu yang baik. Aku masih cengeng dan merasa kesulitan saat menghadapi pekerjaan rumah tangga yang melelahkan dan yang jumlahnya selalu bertambah setiap hari. Aku juga masih berdekatan dengan keluhan. Tapi aku akan berusaha semampuku untuk bisa keluar dari comfort zoneku ini. Dari racun yang sudah kuhirup pelan-pelan.

Rasanya sedih. Saat menyadari bahwa aku sudah terlena selama ini. Berpikir bahwa hidupku seindah negri dongeng. Tapi ini bagian dari proses hidupku sebagai seorang wanita. Belajar memahami mana yang jadi hak dan mana yang jadi kewajibanku sebagai seorang wanita, seorang ibu, dan seorang istri. Aku belajar banyak dari rasa sakit. Biarlah. Biar aku terbiasa dengan rasa sakit. Misalnya rasa sakit dari mencintai. Tak apa rasanya sakit, pahit dan tak enak. Tapi aku belajar. Untuk menjadi seseorang yang lebih baik.

So’ this is my one step closer of me to out of my comfort zone (dalam area rumah tangga). Karna aku sadar bahwa hidup tidak akan baik-baik saja, bahwa hidup aku terlalu nyata dari khayalan negri dongeng, dan hidup memang tentang ketidakpastian. Semoga aku bisa. Bisa selalu belajar. Tak apa jika sempat jatuh, asalkan aku selalu tahu bagaimana caranya berdiri kembali. Comfort zone yang terlalu lama? Itu tidak sehat. Trust me.

” Berada di pelukanmu mengajarkanku. Apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta.” Bait lagu Kesempurnaan Rizki Febian ini seolah mewakilkan comfort zoneku. Tapi aku tak mau larut dalam kenyamanan ini …