Out of comfort zone in household

image

Comfort zone yang memiliki hitungan tahun, ternyata gak jauh beda dengan racun. Mungkin karena kita bersandar terlalu lama, sampe keenakan. Terlalu lama hidup di area comfort zone membuat kita lupa bahwa sandaran kita satu-satunya hanya Tuhan. Dan keluar dari comfort zone yang meninabobokan kita selama adalah sebuah keberanian.

Berani mengambil keputusan. Berani meninggalkan kenyamanan yang bertahun-tahun sudah menggerogoti ruang gerak hidup kita seperti sel kanker yang memakan habis salah satu bagian tubuh kita. Dan begitu pula dengan comfort zone dalam rumah tangga.

Hari ini aku belajar untuk merenungkan kembali kenyamanan hidupku dalam area rumah tangga. Kenapa? Karena aku menyadari sesuatu. Aku terlalu terbuai. Terlalu tenggelam dalam kenikmatan comfort zoneku sendiri. Thats why I called it ‘racun’. Seperti minuman manis yang kita teguk sedikit demi sedikit sampai habis, lalu setelah habis kita hampir mati keracunan. Atau bahkan bisa benar-benar mati.

Aku belajar bahwa dunia rumah tangga itu luas. Luas oleh pelajarannya. Ada banyak materi dari sekolah kehidupan. Salah satunya kehidupan rumah tangga. Aku sempet terjerembab di dalam comfort zoneku selama bertahun-tahun di area rumah tanggaku sendiri. Hingga akhirnya tersadar bahwa aku harus bangun. Jangan terlena oleh mimpi yang kusulam sendiri. Bahwa aku harus keluar dari comfort zone yang juga kuciptakan sendiri.

Aku tak mau dan tak akan memberi label wonder woman dalam diriku. Aku belum jadi istri dan ibu yang baik. Aku masih cengeng dan merasa kesulitan saat menghadapi pekerjaan rumah tangga yang melelahkan dan yang jumlahnya selalu bertambah setiap hari. Aku juga masih berdekatan dengan keluhan. Tapi aku akan berusaha semampuku untuk bisa keluar dari comfort zoneku ini. Dari racun yang sudah kuhirup pelan-pelan.

Rasanya sedih. Saat menyadari bahwa aku sudah terlena selama ini. Berpikir bahwa hidupku seindah negri dongeng. Tapi ini bagian dari proses hidupku sebagai seorang wanita. Belajar memahami mana yang jadi hak dan mana yang jadi kewajibanku sebagai seorang wanita, seorang ibu, dan seorang istri. Aku belajar banyak dari rasa sakit. Biarlah. Biar aku terbiasa dengan rasa sakit. Misalnya rasa sakit dari mencintai. Tak apa rasanya sakit, pahit dan tak enak. Tapi aku belajar. Untuk menjadi seseorang yang lebih baik.

So’ this is my one step closer of me to out of my comfort zone (dalam area rumah tangga). Karna aku sadar bahwa hidup tidak akan baik-baik saja, bahwa hidup aku terlalu nyata dari khayalan negri dongeng, dan hidup memang tentang ketidakpastian. Semoga aku bisa. Bisa selalu belajar. Tak apa jika sempat jatuh, asalkan aku selalu tahu bagaimana caranya berdiri kembali. Comfort zone yang terlalu lama? Itu tidak sehat. Trust me.

” Berada di pelukanmu mengajarkanku. Apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta.” Bait lagu Kesempurnaan Rizki Febian ini seolah mewakilkan comfort zoneku. Tapi aku tak mau larut dalam kenyamanan ini …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s