Ada Apa Dengan Penulis Besar Kita?

Ini kali pertamanya saya menulis dan membahas tentang tokoh. Terinspirasi dari apa yang saya baca di sosial media, ada 3 penulis yang anggap saja (besar) di Indonesia yang akhir-akhir ini selalu bikin ulah. Eh, maksudnya menuai kontroversi kayak Dewi Persik selepas jadi janda Saipul Jamil. Padahal ketiga penulis ini pernah saya idolakan. Walaupun gak ngidolain banget sih. Tapi saya sempat suka sama tulisan dan karya mereka. Buat saya yang juga (kebetulan) penulis (dan anggap saja begitu 😜), mereka ini tokoh panutan yang harus dicontoh di dunia penulisan karna hasil karya mereka yang bagus.

Saya juga pernah baca karya-karya mereka, dan pernah kagum. Kenapa saya gunakan kata pernah? Karena sayangnya sekarang sudah tidak lagi. Semenjak mereka mengkritik habis-habisan sesuatu yang tidak mereka suka atau menjadi orang yang lain yang saya pun kaget apakah mereka itu penulis yang saya kagumi sebelumnya?

Ketiga penulis ini adalah Masa Darwis Tere Liye, Mas Jonru, dan Mbak Zara Zettira. Untuk kamu yang suka baca nama-nama yang saya sebutkan. Dan buat kamu orang awam pasti tahu nama mereka sebatas dari sosmed. Dari kontroversi yang mereka buat jika itu memang bisa dikategorikan sebagai kontroversi.

Mari kita bahas satu per satu. Pertama Mas Tere Liye dulu. Saya pernah like fan page dia dan rajin juga ngeshare status-status dia yang kala itu menurut saya bagus, mengandung motivasi, atau mengandung unsur menyindir pada hal-hal yang tidak lazim di masyarakat. So far saya suka. Saya like fan page Beliau dari zaman sebelum menikah. Tahu donk perempuan labil yang masih mencari jati diri plus cari jodoh kalo dikasih motivasi-motivasi tentang hidup bisa langsung klepek-klepek. Yah, itulah saya. Sampai akhirnya Mas Tere membuat status tentang sejarah Indonesia yang dikecam banyak pihak. Eh, sampe di situ saya masih membela Beliau karna saya sempat ngeshare sanggahan Beliau tentang status yang dia buat. Tapi lama Kelamaan saya kok gerah juga sama status-status dia yang (menurut saya) terlalu tajam dalam mengomentari sesuatu. Saya gak peduli masalah data yang dia sebutkan karna saya gak pernah repot-repot nyari perbandingan atau pembenaran atas kesahihan data tersebut. Tapi saya mulai gak Suka sama cara Beliau. Dan akhirnya saya memutuskan untuk meng-unlike fan pagenya. Maaf Bung Tere, tapi hidup adalah pilihan bukan? Dan betewe, saya masih suka buku-buku anda dan masih ingin mencoba membaca another judul.

Mas Jonru. Saya sempet kaget waktu Netizen membicarakan Beliau di setiap forum atau sosial media. Tentang kalimat-kalimat dan tulisan-tulisan kasar Beliau pada Pak Jokowi. Kenapa kaget? Karena, as I know Mas Jonru ini adalah pendiri penerbit buku indie sekaligus penulis dan surprisenya lagi saya pernah mengikuti kursus latihan menulis di milis yang dia buat by email. Seriously. Saya sampe make sure kalo Jonru yang Netizen maksud adalah Jonru yang sering email-emailan sama saya waktu saya masih ABG. Saya gak nyangka orang yang menurut saya pintar di bidangnya (yaitu penulis) jadi orang yang dikit-dikit bawa politik dan agama ke tulisannya. Dan pertanyaannya, kenapa dia seolah alih profesi dari penulis ke penghujat? Sampe niat bikin meme-meme memalukan untuk Pak Jokowi. Kok, malah jadi keliatan tingkat kecerdasannya sampe level mana. Dan lagi-lagi saya kecewa. Karena cara Beliau mengungkapkan ketidaksukaan pada seseorang kok ya kasar banget. Saya bukannya membela Pak Jokowi walaupun dulu saya memang memilih Beliau. Tapi Mbok ya kalo gak suka itu tunjukan dengan cara yang lebih cerdas. Apalagi yang namanya penulis justru cenderung lebih mudah untuk marah-marah di status dengan cara yang cerdas. Karna kami para penulis lebih bisa membolakbalikkan kata. Dan sayangnya, Mas Jonru belum dikategorikan ‘cerdas’ yang saya maksud. Dan yang lebih disayangkan lagi, jumlah pengikutnya pun masih terbilang banyak. Duh, harusnya sih kita gak ikut-ikutan gak cerdas ya.

And the last is … Mbak Zara Zettira. Saya juga pernah follow Beliau di twitter sampe akhirnya saya diblock 😂😂😂 padahal saya kagum sama Beliau karna tulisan-tulisannya. Saya juga punya salah satu bukunya. Tulisannya bagus, sesuai dengan tipe penulisan yang saya suka. Dan dia jadi penulis udah lama banget. Jauh sebelum muncul Mas Tere dan Mas Jonru di dunia penulisan. Saya udah sering baca karya Beliau di salah satu majalah remaja, dan kala itu saya masih duduk di bangku SD (lupa tepatnya kelas berapa).

Mbak Zara ini adalah pendukung atau (kalau gak salah) jadi salah satu tim sukses Pak Prabowo di pemilu tahun 2014 kemarin. Dari tweet-tweet Beliau yang saya baca, semua isinya tentang mengumandangkan kelebihan-kelebihan Pak Prabowo. Sampe di situ gak ada masalah karena ya wajar lah karna Beliau kan pendukung Pak Prabowk garis keras. Tapi yang bikin saya ilfil adalah tweet Beliau yang terang-terangan menjelekkan lawannya yaitu Pak Jokowi dan para pendukungnya. Sekali lagi ini bukan tentang membela Pak Jokowi karna walaupun saya memilih Beliau tapi saya gak terlalu suka-suka amat sih 😁 tapi menurut saya, hanya karna kita mendukung seseorang bukan berarti kita boleh menjelekkan lawannya. Dan caranya udah gak cerdas. Ini juga yang bikin saya bingung, penulis sepintar Mbak Zara kenapa jadi kebelinger gitu menjelekkan seseorang.

Dan puncaknya saya ilfil sama Beliau adalah waktu Beliau ngetweet tentang (seperti biasa) Pak Prabowo, saya iseng komentarin dengan bilang bahwa gak semua follower Beliau adalah pendukung Pak Prabowo. Dan dia membalas dengan (kalo bisa disebut nada) nada yang keras dan ngotot. Bahwa tweet dia barusan khusus untuk pendukung Pak Prabowo. Dan tak lama kemudian saya pun diblock. Waw! Its surprising. Penulis sebesar Zara Zettira ngeblock follower hanya karna membela mati-matian orang yang dia anggap punya segudang kelebihan. Gak masalah sih saya diblock, malah waktu itu saya ketawa-ketawa aja. Tapi, malah keliatan kan level kecerdasannya sampe mana.

Ah, tapi sudahlah. Siapa pulak saya patut menilai kecerdasan ketiga penulis besar ini. Saya cumak emak-emak yang tiap hari dasteran dan sibuk ngurus anak di tengah perut yang membuncit dan selulit yang menyebar di seputar perut *eeeaaa buka aib 😂😂😂

Tapi saya cuma ingin mengungkapkan pendapat saya pada ketiga penulis tersebut. Karna satu hal yang buat saya kecewa. Sayangnya, profesi mereka adalah penulis. Yang sayangnya lagi, saya menumbuhkan jutaan harapan besar pada setiap penulis. Bahwa penulis itu harus cerdas dan pintar seperti isi tulisannya. Bukan berarti mereka yang saya bahas ini gak cerdas dan pintar ya, tapi apa yang mereka lakukan sayangnya tidak mencerminkan kecerdasan seorang penulis. Tapi sudahlah, saya mau kembali ke dapur aja. Kembali kotor-kotoran dengan memerankan profesi saya as a housewife. Dan biarkan mereka tetap menjadi penulis yang saya harap tetap menghasilkan tulisan yang bagus dan ada manfaatnya. Bukan dengan isi yang negativ misalnya menjelek-jelekkan seseorang.

Sekian dan salam dari dapur ✌👌😂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s