Just Hang on Suriah

Honestly, saya nggak terbiasa menulis tentang negara-negara islam yang kini sedang berjuang dalam perang dan sedang dihabisi habis-habisan hingga mereka sudah terbiasa dengan luka parah dan darah. Tapi melihat berita tentang seorang anak yang menjadi korban di Allepo dan fotonya beredar di mana-mana saya jadi ingin membahasnya secuil saja.

Bukannya saya tidak mau membela kaum muslim yang kini sedang dijajah habis-habisan. Misalnya saudara-saudara kita di Palestin dan Suriah. Tapi saya gak mau sok-sok peduli hanya atas nama agama. Kalaupun saya peduli, bolehlah atas nama kemanusiaan. Yang artinya kita peduli bukan hanya karna mereka saudara sesama muslim, tapi memang karena mereka korban perang yang harus kita tolong dan harus kita doakan. Itu yang penting, mendoakan!

Dan berita tentang anak di Suriah yang shock saat menjadi korban perang itu menarik perhatian saya. Walaupun saya kurang jelas detail cerita si anak bagaimana. Tapi karna kini beritanya mendunia di sosial media khususnya, maka saya pun ikut simpati. Bukan karna dia masih kecil, bukan hanya karena dia sesama muslim semata, dan bukan atas nama agama islam saja. Tapi, apa yang terjadi di Allepo sana memang membuat banyak orang (khususnya orang-orang islam) berang bukan main.

Sejujurnya, saya kurang mengikuti berita peperangan di negara-negara islam sana. Walaupun sesekali pernah terpikir oleh saya apa yang terjadi pada orang-orang itu. Setiap hari mereka kena teror, setiap hari mereka tak henti berdoa ketika mendengar suara bom meledak atau suara tembakan yang bergema. Belum lagi jeritan anak-anak dan para perempuan tua dan muda. Bayangkan saja, kita harus menjalani kehidupan setiap hari. Seperti misalnya bekerja, sekolah, belanja ke pasar, membeli beberapa kebutuhan, beribadah, berobat ke dokter atau rumah sakit bagi yang sakit, atau melahirkan bagi perempuan yang sedang mengandung. Dan masih ada puluhan kegiatan lain yang biasanya manusia lakukan. Dan di tengah kegiatan atau rutinitas yang harus kita jalani tersebut, harus diganggu dengan lawan atau musuh yang mengancam di mana-mana. Belum lagi senjata-senjata mematikan mereka. Bahkan kabarnya, mereka juga tidak bisa merayakan hari raya islam seperti pada umumnya. Misalnya hari raya idul fitri kemarin. Itulah yang pernah saya pikirkan tapi sulit saya bayangkan kalau saya mengalami hal itu. Betapa kasiannya anak-anak kecil yang tidak bisa bebas bermain di luar rumah karna taruhannya nyawa.

Tapi sejauh apa kesengsaraan mereka dan sejauh mana beritanya memang tak selalu saya ikuti. Karna saya gak mau hanya sekadar ikut-ikutan orang lain yang rajin ngeshare berita yang belum tentu kebenarannya. I means, bukan berarti peperangan di sana itu hoax. Tapi berita yang tiap saat dishare di sosmed itu kan belum jelas kebenarannya. Karna masih banyak loh orang yang memanfaatkan rasa kasian atau rasa peduli orang-orang di sosmed. Yang membuat berita dari gambar atau foto korban. Bahkan untuk membuat tulisan ini saya tidak menggunakan salah satu foto korban di sana. Ah, gak etis. Foto mereka bukan untuk disebar untuk mencari simpati dan kasihan semata. Tapi saya selalu berdoa untuk mereka. Agar perang segera berhenti dan berakhir.

Saya juga gak tahu peperangan itu salah siapa atau siapa biang kerok dibalik itu semua. Entah memang Amerika, entah memang konspirasi Yahudi yang lagi terkenal banget itu, atau mungkin orang islam sendiri yang ingin membuat perpecahan agar orang-orang islam lainnya menunjuk kaum lain yang mereka anggap musuh. Tak tahu lah, karna di sini ada unsur politik. Politik agama. Dan yang pasti, si udang di balik batu ini ingin orang islam pecah dan ingin jumlah penganut islam berkurang dengan membunuh mereka satu per satu. Semudah membunuh kumpulan semut yang lagi makan gula.

Bukan itu saja, perpecahan antar umat islam yang diakibatkan dari perang tersebut juga membuat banyak pihak ikut berperang. Bukan perang secara fisik, tapi juga perang kalimat negativ di sosmed. Saling melontarkan kalimat kasar, saling meneriaki suatu kaum yang tidak mereka suka atau yang mereka anggap kafir. Semudah meludah di tembok mereka mengucapkan kata kafir.

Itulah kenapa saya bilang saya gak mau ikut-ikutan peduli. Kalopun saya peduli, itu karna saya benar-benar peduli pada korban tersebut. Benar-benar atas dasar kemanusiaan. Dan saya berharap, orang-orang di Palestina sana, di Suriah sana, dan di beberapa negara islam lainnya yang kini sedang berperang selalu dilindungi Allah SWT. Karena Tuhan tidak pernah tidur, atau ketiduran  saat akan menolong mereka. Percayalah bahwa perang ini akan berakhir suatu hari. walaupun kata suatu hari ini masih menjadi misteri. But, just hang on Suriah. Bertahanlah. Karna walaupun jutaan manusia mati di tangan lawan di sana, maka saya percaya ada lebih dari jutaan doa untuk mereka.

Dan saya percaya entah bagaimana caranya, bahwa Tuhan sudah merencanakan sedemikian rupa bagi korban perang tersebut. Dengan cara yang baik, Tuhan memberi yang terbaik. Jadi, daripada koar-koar mencari ini kesalahan siapa atau sibuk mencaci si udang dibalik batu, saya rasa berdoa dengan tulus untuk semua korban adalah cara terbaik. Dan untuk anak kecil yang fotonya kini sudah beredar di mana-mana, Nak percayalah kamu sudah ada dalam lindungan Tuhan. Dan percayalah dunia tidak sekejam yang kamu lihat. Masih banyak orang baik yang akan kamu temui di hidupmu kelak.

So’ just hang on too kiddos …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s