Pamer = Cari Perhatian?

Aloha. Mari kita menulis lagi sejenak. Seperti biasa, untuk menjaga pikiran agar tetap waras dan salah satu cara untuk maintenence otak. Haha. Tokopedia kali ah sering banget maintenencenya *eh *ups 😅

Baca judulnya, yang merasa jangan dulu merasa kesindir ya. Karna ini murni tulisan sama sekali gak ada maksud menyinggung pihak manapun *eciyeh sok bijak 😜

Sosmed kini sudah jadi semacem diary online. Semua diumbar di sosmed. Dulu, saya yang mengalami perubahan itu jadi mendadak heran. Kenapa apa yang kita ceritain di sosmed itu jatohnya jadi pamer. Khususnya untuk orang-orang yang tergolong orang kaya baru. Atau memang sosmed itu bikin kita tergoda untuk membicarakan semua masalah kita serta apa saja yang kita punya? Dengan judul biar-semua-orang-tahu :mrgreen:

Tapi setelah saya mengkritik orang-orang itu, imbasnya malah jadi boomerang buat saya. Banyak yang merasa tersinggung dan bilang kalo saya cuma orang gak mampu yang sirik sama mereka yang sudah jadi horang kayah. Tapi gak masalah, karna kenyataanya memang saya gak semampu mereka. Dan kalo dibilang sirik? Mungkin juga iya, tanpa saya sadari. Entahlah. Tapi yang jelas, kok berasa risih ya liat status yang isinya cuma nyeritain kehebatan hidup dia yang entah palsu atau nyata. Walopun sebenernya saya gak perlu usil, kalo gak suka sama status mereka ya tinggal unfriend 😁

Tapi sekarang saya udah bisa lebih bisa menerima perubahan itu. Hampir semua orang memang ingin ‘dilihat’ di sosmed. Selfie, tulis status at cafe anu, atau mamerin foto-foto keluarga/anak, sudah jadi hal biasa. Pada akhirnya saya juga gitu sih. Eh tapi gak nyeritain tentang punya rumah, punya mobil dan sederet harta yang jumlahnya segede alihumgambreng ya 😂 Dih, soalnya mau mamerin apa emang saya gak punya 😅

Tapi sekarang, saya lebih sering bercerita tentang keluarga kecil saya, anak saya atau relationship saya yang alhamdulilah baik sama suami. Saya lebih senang bercerita tentang mereka, tentang keseharian kita. Dan saya memang ingin orang-orang tau bahwa saya bahagia dengan hidup yang saya jalani, dengan keluarga kecil saya. Tapi mendadak saya sadar, kalo saya udah ikutan pamer. Karna gak semua orang punya keluarga seperti yang saya miliki. Dan yang menyedihkan, gak semua perempuan punya anak yang bisa dipamerin di sosmed. Padahal dulu juga sebelum punya anak, rasanya duh … Gak bisa digambarin sedihnya kayak apa liat temen-temen yang udah punya anak mamerin foto-foto lucu anaknya di sosmed. Dan tanpa saya sadari, sekarang pun saya begitu. Mungkin maksudnya bukan pamer, mungkin niatnya juga bukan mau sombong. Tapi kita gak tau kalo di ujung sana ada banyak perempuan yang menatap iri melihat foto-foto anak yang kita posting.

Hiks. Dulu saya mengkritik orang-orang itu sekarang saya malah menjadi bagian dari mereka. Apalagi saya lagi hamil. Hamil. Ini hamil loh. Sesuatu yang sangat diharapkan banyak perempuan yang sudah menikah. Saya aja dulu waktu masih punya anak 1 liat orang hamil rasanya kok menyenangkan. Karna hamil dan berdebar nunggu kelahiran bayi itu, sungguh rasanya menyenangkan. Alih-alih rasa sakitnya yang gak enak 😄

Jadi, mungkin kita harus luruskan niat. Posting foto anak bukan untuk pamer atau memperlihatkan sama orang-orang kalo gue-punya-anak-gitu-loh. Dan sedikit mengurangi jumlah atau frekuensi pajang foto anak saya di timeline. Maksudnya, saya juga ingin menghargai dan menghormati mereka yang belum punya anak atau yang lagi harap-harap cemas untuk hamil. Seriously, saya juga pernah merasakan  itu dan itu rasanya gak enak banget. Walopun mungkin gak semua perempuan ngerasa gak enak, masih banyak kok yang santai-santai aja liat temen-temennya posting foto anak di sosmed. Yang nggak ngiri tapi malah sibuk berdoa dan minta sama Tuhan. Yah, biarlah. Toh memang respon setiap orang dalam menyikapi status orang lain kan beda-beda. Kalo dulu sebelum punya anak, jujur saya memang iri sama mereka yang sudah punya anak. Saya sampe protes sama Tuhan, kenapa mereka dikasih saya nggak. It so’ childish 😰

Jadi, mari kita gunakan sosial media kita sama hal-hal positif aja. Kalo saya sih memilih untuk gak ikutan mainstream kayak orang-orang dengan memposting sesuatu yang lebih bermanfaat dibanding sibuk bercerita tentang kehebatan hidup kita. Tapi kalo teman-tema  saya di dunia maya atau teman-teman saya di dunia nyata yang juga muncul di dunia maya *hayoloh bingung 😜 memilih untuk memposting harta, anak atau apapun itu ya monggo. Toh gak setiap orang punya niat pamer sih. Kita juga gak bisa langsung menyimpulkan kalo mereka lagi pamer. Dan, itu kembali lagi ke pilihan masing-masing. Karna timeline sosmed kita adalah rumah kita sendiri, jadi terserah isinya mau diapain dan mau diisi apa 😀

I think its more wise …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s