Being a Mom

Sorry for this boring story. Karna emak-emak ini mungkin sudah terlalu sering bercerita tentang menjadi seorang ibu. Apalagi kalo isinya tentang mengeluh, pasti membosankan. But I need to share this, buat ngecek sudah separah apakah tingkat kewarasanku sebagai seorang ibu 😂😂😂

Dan aku selalu butuh ruang menulis keseharianku. Bukan untuk pamer (apapulak yang harus dipamerin 😅), dan bukan untuk show-who-I’m. Ah, gue bukan siapa-siapa pulak. Tapi aku memang butuh me time yang tepat. Dan menulis adalah mediator yang tepat untuk menumpahkan apa yang gak enak di hati (menurutku). Yah, daripada sibuk ngeluh di status kan gak guna juga.

So’ here I’m. Setelah merasakan repotnya ngurus batita dan merasakan sulitnya bagi waktu antara 2 anak kicil itu, akhirnya aku ingin menumpahkan sedikit saja keluhanku di sini. Dan hasilnya, yess I’m stress. Sempet yang hilang nafsu makan beberapa hari. Kalo gak inget lagi menyusui mungkin aku akan memilih untuk gak makan seharian. Emosi juga memuncak hampir setiap menit, Karna anak pertamaku yang (unlucky me) bikin ulah terus. Belum lagi bolak balik ganti popok cuci popok. Duh rutinitas semakin bertambah banyak. Waktu tidur semakin berkurang, dan semuanya terasa melelahkan. Siang marah-marah sama Alkha, malem nyalahin diri sendiri gara-gara marah-marah terus sama anak. As I know that its totally wrong. Being a mom, is sooooo long tired. Capeknya gak berhenti. Sampe tiap muncul si emosi, aku langsung istihgfar dan berdoa minta dikasih kesabaran & kekuatan sama Tuhan. Asli, aku nyerah. Gak bisa menghandle ini sendiri (maksudnya secara mental ya, bukan secara tenaga). Dan pasrah sama Tuhan adalah satu-satunya cara. Karna Pak Suami bilang Tuhan maha pengatur yang baik. Dan hidup kami sudah diatur sedemikian baiknya sama Tuhan. Aku sadar, Tuhan kan bukan Pak RT yang salah kaprah dalam mengatur warganya. Tuhan juga bukan Gubernur yang lupa diri dalam mengurus masyarakatnya. Atau atasan yang gak becus ngatur bawahannya. Bukan. Dialah Tuhan, yang sudah mengatur hidup kita sampe detail sekecil-kecilnya. Lalu untuk apa kita khawatir? Tapi sayangnya, kita hanya manusia biasa yang tak hentinya bergulat dengan rasa khawatir dan rasa takut akan apa yang belum terjadi.

Aku hanya sedang lelah dengan rutinitas baru ini. Aku sedang tenggelam dalam hidup yang baru. Aku sibuk bermetamorfosa. Aku juga sibuk beradaptasi. Tapi aku sadar, Pak Suami dan Alkha juga sedang beradaptasi dengan hidup baru kami. Dengan kedatangan si bayik di hidup kami. Dan yang aku lupakan, si bayik juga sama adaptasinya dengan kami. Perpindahan dari hangatnya rahim Ibu ke dunia yang serba berisik ini pasti tidak mudah juga buat dia. Apalagi yang bisa dia lakuin cuma nangis. Aku lupa bahwa si bayik gak cuma bobok mimi cucu aja kerjanya. Mungkin, aku hanya sibuk memikirkan diri sendiri. Seolah-olah cuma aku yang beradaptasi hanya karna aku yang kebagian banyak capeknya.

Ketakutanku akan susahnya bagi waktu antara Alkha & Syera jadi kenyataan. Aku harus selalu putar otak untuk nentuin mana dulu yang harus didahulukan. Walopun seringnya dedek Syera yang dicuekin dulu sampe dia nangis-nangis kejer. And for me, my life is a surprise. And everyday is a surprise day. Karna saat bangun dari tidur, yang ada di otak adalah ulah apalagi yang akan dilakuin sama Alkha hari ini. Atau Syera bakal rewel gak ya hari ini? Saking menakutkannya … Kedua anakku seolah teror yang mencekam setiap harinya. Pikiranku pun penuh sama ion negatif. And I cant stay to be positiv. Poor me.

Sampe, one of my bestfriend say berbaik sangkalah sama Allah. Karna rencana Dia selalu indah. We’re just have to waiting it. Aku gak pernah muluk-muluk berpikir tentang berapa banyak pahala yang aku dapet dari being a mom ini. Honestly, I dont care. Aku cuma minta sama Tuhan biar dikasih kekuatan dan kesabaran. Biar bisa mengelola emosi saat ngurus anak-anak kecil ini. Aku gak mau anak-anakku yang jadi korban emosiku, imbas dari kelelahanku. Its unfair. Tapi menahan emosi dan amarah juga masih gak mudah buatku. Jadi aku masih terus belajar untuk itu.

Sampe pernah terlintas pikiran, Tuhan aku menyesal. Kenapa harus punya anak kedua secepat ini. Curse me. Karna itu pikiran bodoh dan jahat. Tak peduli seberapa lelahnya aku, itu tidak bisa dijadikan pembelaan. Aku mundur sebelum berperang. Aku juga sering bilang sama Tuhan, Ya Allah … Gak sanggup. Saking gak tahunya harus gimana saat menghadapi anak-anak yang menangis meronta-ronta dan saling minta didahulukan kepentingannya. Karna mereka belum mengerti tentang rasa. Yang mereka tahu, aku ibunya akan selalu ada 24 jam di saat mereka membutuhkan. Dan memang begitulah seharusnya.

Aku tak tahu sampai kapan keruwetan ini berakhir. Mungkin sampe aku lolos uji adaptasi. Dan satu-satunya cara sederhana yang bisa aku lakukan sekarang adalah menerima. Menerima keadaan bahwa aku seorang ibu dengan tanggung jawab 2 orang anak, menerima bahwa tugas seorang ibu memang seperti ini, menerima bahwa mau tidak mau aku harus menerima dan tak bisa lari ke mana-mana. Dan actionnya adalah, menghadapi. Menghadapi segala pahit yang terjadi setiap hari. Karna, anak-anakku adalah amanah. Dan Pak Suami bilang, jangan stress karna anak-anak tapi jadikan mereka penghilang stress. Buat seorang ibu rumah tangga itu gak mudah sihhh, tapi ya harus tetap dilakukan. 

So’  aku hanya berharap pada akhirnya aku bisa menikmati setiap keadaan yang sulit dan gak enak ini. Dan menerima apapun keputusan Tuhan akan hidupku. Being a mom, is the way to be stronger with happy 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s