Betapa Lucunya Hidup

Pernah baca salah satu tweetnya Arman Dani (bukan Ahmad Dani yess 😂), bahwa justru ketika kita berhenti menginginkan sesuatu Tuhan justru mengabulkan permintaan kita. Memang hidup sebercanda itu. Kadang hidup memang begitu lucu. Terlalu lucu untuk ditangisi atau ditertawakan. Kenapa saya bilang lucu? Karna, kadang apa yang tidak kita sukai dalam hidup suatu hari nanti malah menjadi hal yang dirindukan. Seriuously, ini nyata.

Cerita dikit ya. History dibalik saya ingin membahas tentang kelucuan hidup di blog suka-suka ini (btw, lucu juga namanya blog suka-suka 😝). Suka-suka gue lah mau diisi dengan tulisan apa. Hihi. Oke, back to topic. Jadi, dulu waktu masih zaman pacaran sama pacar terakhir saya, jalannya itu gak mulus. Jalan yang harus kami hadapi itu jelek dan bolong-bolong. Mirip jalan di kabupaten yang gak dibenerin sama Bupatinya *eh kenapa jadi curcol 😜😝

Kenapa jalan hubungan kami gak mulus? Karena ada kendala di restu orang tua. Biasalah namanya orang tua ingin yang terbaik buat anaknya. Dan pacar saya kala itu sempet belum dipercaya bisa bahagiain anaknya kalo kami menikah. Kami masih dianggap hanya akan makan cinta dan modal baper untuk menikah. Di luar apa itu definisi cinta, pokoknya kami tidak dipercaya dalam membina rumah tangga. Dan selama kami berpacaran tak hentinya saya didoktrin tentang betapa buruknya pernikahan. Rupa pernikahan itu mirip si Valak. Nyeremin pake banget. Hampir setiap hari saya nangis, kenapa saat saya menjalani hubungan serius dengan pria yang (menurut) saya tepat jalannya harus penuh liku. Saya sedih, kenapa orang tua tidak percaya bahwa kami mampu. Walaupun memang wajar ketakutan orang tua didasarkan oleh banyaknya kegagalan rumah tangga anak remaja yang mengatasnamakan cinta.

Tapi selama 2,5 tahun itu kami berusaha dan berusaha. Tak pernah menyerah. Lucky me, pacar saya saat itu mau diajak kerja sama. Walaupun kami harus menjalani hubungan sembunyi-sembunyi tapi buat saya dia cukup bertanggung jawab dalam mengajak saya belajar berumah tangga. Karna saat saya bilang saya takut kehidupan rumah tangga saya kelak akan seburuk apa yang diramalkan oleb banyak orang, dia bilang artinya kita harus menguatkan pondasi dari sekarang. Biar nanti saat menjalani rumah tangga, kita sudah punya pondasi yang kuat. Yang gak gampang goyah. Karna saat itu memang bukan hanya orang tua saya saja yang tidak percaya hubungan kami bisa berhasil. Orang-orang di sekitar kami pun ikut meramalkan hubungan kami yang gak akan bisa di bawa ke mana-mana. Dan cukup banyak juga saat itu orang-orang yang nyambi jadi Tuhan, sok yang paling tahu segalanya tentang jalan hidup kami.

Sampe akhirnya kami mengantongi restu dan izin dari orang tua untuk menikah, duh … Rasanya legaaaa banget. Apa yang kami usahakan terbukti berhasil. Yah, habis mau gimana lagi. Ada campur tangan Tuhan sih di sini. Jadi tangan manusia yang saat itu mencoba memisahkan kami ya pasti kalah sama tangan Tuhan. Kalo diinget-inget lagi masa-masa itu memang menakutkan dan menyedihkan. Sungguh! Perjuangan kami gak mudah. Tapi sekarang, entah kenapa kadang saya kangen sama masa-masa berjuang itu. Sekarang, saat saya sudah di masa kini yang saat itu statusnya masih masa depan, rasanya saya bisa menertawakan hidup saya di masa lalu. Apa yang saya tertawakan? Kebodohan saya, pikiran ketakutan saya yang belum terjadi, dan menertawakan kesedihan saya yang padahal sifatnya sementara. Padahal mungkin setiap saya merintih dalam doa, Tuhan tak hentinya berbisik. Sabar, tunggu sebentar …

Betapa lucunya hidup ini. Saat kita sudah terbebas dari rasa sakit yang sayangnya kita sendiri yang menciptakan, justru disitulah kita merasa ingin mengecap rasa-rasa itu. Karna kita sering lupa bahwa saat kita merintih dalam sedih itu, justru ada banyak bahagia yang menyelimuti. Hanya kadang kita tak sadar karna terlalu fokus pada kesedihan.

Mungkin ini bisa dijadikan pelajaran. Saat sedang menghadapi sesuatu yang serba gak enak dalam hidup, ingatlah bahwa suatu hari nanti kita justru akan merindukan masa-masa ini dan malah menertawakan kesedihan kita sendiri. Hidup selalu menawarkan sesuatu. Entah itu sesuatu yang indah atau sesuatu yang menyedihkan. Tapi apapun yang ditawarkan oleh hidup, mau tidak mau suka tidak suka harus kita terima. Karna justru dengan menerimalah kita bisa berdamai dengan hidup. Semesta terlalu luas untuk hanya dijadikan tempat untuk meratap. Haha. Kenapa jadi sok bijak gini?

Padahal kegiatan sehari-hari masih meratapi hidup yang gak sesuai dengan yang diinginkan. Dulu, mati-matian minta sama Tuhan ingin punya anak. Setelah dikasih 2 tiba-tiba menyesal. Apakah dulu memang saya ingin punya anak atau sekadar biar bisa update di sosmed bahwa saya hamil, melahirkan lalu punya anak yang (alhamdulilah) sehat dan lucu? Ini jadi pertanyaan tersendiri buat saya pribadi. Jangan-jangan keinginan saya untuk punya anak biar saya mainstream kayak orang-orang doank tanpa mau menerima seabreg tugasnya. Duh …

Betapa lucunya hidup. Hidup menawarkan kebahagiaan di saat kita berhenti menengadahkan tangan pada Tuhan saat meminta sesuatu. Jadi berhati-hatilah saat menginginkan sesuatu. Karna Tuhan, tahu apa yang kita butuhkan dalam hidup. Hingga Dia selalu memberi apa yang kita butuhkan. Bukan apa yang kita inginkan. Bukan apa yang kita ulang-ulang kalimatnya saat berdoa. 

Betapa lucunya hidup, jadi mari kita tertawakan kesedihan kita yang sementara ini …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s