Tuhan, kapan Engkau marah?

Tulangku seperti melepuh saat membaca kalimat yang kurang lebih bunyinya seperti ini, ” Saat kita memasuki masjid, lalu menghadap Sang Kuasa berjajar dengan manusia-manusia lainnya. Sadarlah kita bahwa kita hanya manusia biasa yang sejajar dengan manusia lainnya. Dan merendah serendah-rendahnya dihadapan-Nya.”

Seperti biasa, aku lupa keberadaanNya saat sedang terpuruk. Aku merasa tenggelam sendirian ke tempat yang asing. Hingga lupa bahwa Dia selalu menemani. Yah, mungkin aku terlalu dunia. Memikirkan ego yang memenjarakan emosi sedikit demi sedikit setiap hari. Everyday is like a war day. Aku berperang dengan diriku sendiri. Dengan emosi yang tak kunjung reda. Yang menggerogoti kebahagiaanku yang ternyata bukan bahagia. Ini bahagia buatan.

Aku juga lupa. Aku ini apa sih? Hanya secuil butiran dari keMahaanNya. Aku tak ada artinya. Aku tergerus oleh kemarahan dan kesedihanku sendiri. Energiku habis untuk kemarahan yang tak terhingga ini. Hingga kemudian aku sadar, jika aku yang marah lalu kapan giliran Tuhan yang marah?

Jika saat aku melakukan dosa atau kesalahan lalu Ia marah, mengapa hingga saat ini hidupku masih terasa nikmat. Dan pertanyaan yang kini terpatri di otakku, ” Tuhan, kapan Engkau marah?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s