Sekolah di sekolah atau sekolah di rumah

Akhir-akhir ini banyak sekali artikel di sosmed tentang sekolah yang erat kaitannya dengan sistem pendidikan di Indonesia. Dari mulai anak di bawah umur 7 tahun yang tidak dibolehkan dipaksa belajar membaca dan menulis. Yang berbanding terbalik banget dengan kurikulum, anak yang mau masuk SD harus sudah bisa baca tulis. Hingga anak-anak di TK mau tidak mau harus sudah bisa belajar baca tulis. Maksudnya sih baik, tapi sayangnya si-entah-siapa-yang-bikin-aturan-ini tidak mempertimbangkan penerimaan otak si anak. Setiap anak kan beda-beda. Ada yang saat diajarkan menulis dan membaca memang langsung bisa, ada juga yang butuh waktu. Sama halnya dengan UN. Tidak bisa disama ratakan hanya untuk menilai pintar tidaknya seorang anak. Atau hanya jadi alat ukur lulus tidaknya si anak.

Ah, tapi siapalah saya bisa menilai dan komentar tentang sistem pendidikan di Indonesia. Tapi yang saya bingungkan adalah banyak meme, artikel atau pendapat ahli yang bilang kalo sekolah usia dini itu kurang baik. Tapi anehnya, kenapa tidak ada solusi harus bagaimana. Karna as I know, anak-anak di sekitar rumah saya masih harus mengikuti sistem bisa baca tulis sebelum masuk SD. Karna mau tak mau mengikuti prosedur sekolah. Dan yang jadi pertanyaan saya juga, kenapa pemerintah diam saja? Dan kenapa tak ada solusi untuk itu?

Lalu, muncul lagi artikel tentang pendidikan di Finlandia yang jauh berbanding terbalik di Indonesia. Yang menerapkan cara belajar sesantai mungkin. Biar anak-anak bisa menikmati sekolah dan minim stress hanya karena banyak tugas atau PR yang (maaf) entah manfaatnya apa. Tapi kemudian artikel itu juga (menurut saya) tidak membantu apa-apa. Karna (lagi-lagi) tidak ada solusi apa-apa dari pemerintah untuk sistem pendidikan yang lebih baik buat anak-anak. Malahan Indonesia geger sama pernyataan mentri pendidikan baru yang sempat dibahas di internet tentang jam belajar yang harus ditambah. Yang (lagi-lagi menurut saya) gak ada manfaatnya. Saya jadi khawatir sama masa depan anak saya kelak kalo sistem pendidikan kita masih gini-gini aja.

Banyak juga yang mulai memilih homescholling atau bersekolah di rumah. Kalo yang ini saya belum paham sih gimana sistemnya. Kelebihan dan kekurangannya. Tapi kalau pun someday saya lebih memilih homeschoolling untuk anak saya, rasanya saya akan memilih homeschoolling by parents. Artinya, saya dan suami yang jadi guru langsung anak-anak. Tapi itu pun kalo kami sudah siap. Sebagai orang tua sekaligus guru bagi mereka.

Saya baca bukunya Kang Hasan, yang di dalamnya ada tentang parenting dan sekolah. Dan menurutnya, sekolah itu harusnya mendidik anak-anak untuk jadi lebih disiplin. Contohnya, mau ikut antri saat di tempat umum, siram air di WC umum, gak nerobos lalu lintas saat lampu merah. Hal-hal semacam itulah. Yang kadang terlihat sepele padahal penting. Dan Kang Hasan juga menekankan. Bukan sekolah yang membuat kita cerdas atau pintar. Tapi diri kita sendiri. Dan sayangnya, sekolah yang seperti ini yang sesuai dengan yang kita harapkan untuk anak-anak kita belum banyak di Indonesia. Kebanyakan sekolah masih mementingkan nilai bagus saat ujian. Hanya sebatas itu.

Bahkan saya pernah nonton suatu video yang di dalamnya menerangkan bahwa sekolah itu malpraktek pendidikan. Karna sistem suatu sekolah hanya menciptakan anak-anak layaknya seorang robot. Baju harus seragam, rambut harus rapi, duduk di kelas harus rapi, tidak boleh begini tidak boleh begitu, dan sederet peraturan lain yang mengungkung anak-anak di sekolah. Bahkan kadang mematikan jiwa kreativitas seorang anak.

Saya tidak bilang sekolah tidak penting. Sekolah juga penting. Karna di dalamnya ada ilmu, ada pengetahuan, ada pendidikan, ada banyak wawasan. Dan kita bisa belajar banyak hal dari sekolah. Yang disayangkan adalah sistem pendidikan di Indonesia yang masih belum memadai. Belum mampu menciptakan anak-anak yang cerdas secara alami. Itu yang sangat disayangkan. Padahal potensi dan bakat seorang anak itu bisa menjadi mutiara untuk masa depan bangsa kita. (Duileh, ngomonginnya bangsa dan negara udah kejauhan keleus 😂😂😂)

Yah, intinya saya berharap banyak dari sistem pendidikan di Indonesia. Karna untuk masa depan anak saya juga. Dan saya gak mau anak saya nanti dibikin stress sama tugas sekolah. Kayak saya dulu waktu zaman sekolah. Dan saya juga gak mau sekolah jadi kayak neraka buat anak-anak saya kelak kalo sistemnya masih gini-gini aja. Dan reminder juga buat saya sebagai orang tua kalo kita nyekolahin anak di sekolah itu bukan semata-mata nyerahin semuanya sama guru. Pendidikan utama anak tetap tanggung jawab kita sebagai orang tuanya di rumah.

Yah, walopun cara saya mendidik anak juga belum bagus-bagus amat. Saya juga masih terus belajar dan berusaha. Tapi berharap untuk yang lebih baik tidak ada salahnya kan? Isnt it?

hospitally-memory

Bau karbol. Eh, karbol apa karbon ya? Bau obat-obatan. Bau kamar mandi higienis. Adalah serangkaian bebauan aroma rumah sakit. Tadi, pas lagi baca salah satu novel tiba-tiba inget bebauan itu. Bau-bau yang menakutkan. Bau-bau yang bikin trauma yang berkepanjangan hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun berikutnya. Walau sekarang sudah lupa seperti apa rasanya trauma itu, tapi sakit hati dari bau-bauan rumah sakit itu masih ada. Sisanya.

Mungkin klise, kalau aku curhat tentang post partum yang kedua ini. Semua perempuan yang pernah hamil dan punya anak pasti tahu rasanya. Kita harus berjuang keras kuat-kuatan dengan hormon yang bikin emosi gak karuan. Sebentar seneng, sebentar sedih, sebentar marah-marah, lalu beralih ke nangis-manja-grup. Duh, nggak banget deh. Hidupku kayak lagi dipermainkan si hormon. Tiap hari jumpalitan.

Masalahnya adalah, Syera mulai ngajak emaknya yang drama queen ini begadang hampir tiap hari. Dari yang tadinya cuma sejam, meningkat jadi 2 jam, lalu 3 jam dan sekarang lebih dari 7 jam. Dan reaksiku? Dari yang manyun-manyun gak jelas karna nahan kantuk, lalu marah-marah sama si bayik yang nggak tidur-tidur (as I know itu tindakan bodoh), sampe nangis sampe capek karna bingung dan lelah menghadapi si baby girl yang nangis-nangis kejer terus.

Lalu apa yang aku lakuin? Trust me, semuaaaa hal udah dilakuin. Dari mulai searching kenapa bayi nangis mulu tiap malem, cara menghadapinya (yang sayangnya gak ada satu pun yang mempan), minta air doa sama orang yang ‘bisa’ karna takut bayi yang baru lahir ini diganggu sama makhluk tetangga sebelah 😅. Terus udah 2 kali Syera pijat bayi, sempet nyenyak bobo tapi itu pun cuma sehari. Ke sananya mah kambuh lagi penyakit nangis malem-malemnya. Ngebalurin dia pake bawang udah, pake kayu putih, pake minyak telon. Badannya dibalut baju tebel beserta selimutnya biar dia gak kedinginan juga udah. Dan hasilnya? Sama sekali gak ada yang berhasil. Dan imbasnya, aku jadi makin cepet emosi karna kurang tidur dan kelelahan.

Sampe puncaknya tadi. Syera begadang dari jam setengah 1 malem, dan baru tidur nyenyak jam 2 siang. Sekalinya dia tidur bener, Alkha bikin ulah dengan teriak-teriak sampe adeknya nangis dan bangun lagi. Tobat ya Allah. Lelahnya luar dalem. Iya tenaga, iya hati, iya jiwa. Duh, komplit. Aku nyerah. Duduk bersimpuh sambil nangis. Ya Allah, lelahnya warbiyasahhh. Tapi pas baca novel tadi, tiba-tiba aku inget tentang kemoterapi 4 tahun yang lalu.

For God sake, aku melupakan satu hal. Lagi-lagi tentang bersyukur. Aku lupa mensyukuri apa yang sudah Tuhan kasih. Yaitu anak-anak, yang kuanggap makhluk yang cuma bikin aku capek (oh, curse me). Bayangkan! Aku gak harus keluar masuk rumah sakit kayak dulu, badanku cuma lelah. Bukan kesakitan karna efek obat kemo yang kerasnya naudzubillah. Dan aku ditemenin makhluk dari surga yang dikirim Tuhan. Aku juga masih bisa makan enak dan tidur nyenyak (walopun waktunya cuma dikit). Tapi minimal aku gak usah belibet sama urusan kemoterapi yang urusannya udah sama nyawa. Ya Tuhan. Aku merasa jadi orang paling bodoh dan ibu paling jahat sedunia.

Aku selalu berdoa minta kesabaran & kekuatan sama Tuhan. Dan Tuhan menjawab semua doaku dengan kasih ujian lewat anak-anakku. Tuhan mau aku belajar sabar dan menahan emosi lewat mereka. I know, menuliskan kalimat ini lebih mudah dibanding ngejalaninnya. Tapi aku juga bener-bener belajar. Untuk mengolah emosi, dan mencoba lebih sabar lagi dalam menghadapi kedua anakku. Jadi seorang ibu itu, pengorbanannya … Aduh banget.

Dan inti dari hospitally-memory ini adalah kenangan menakutkan tentang rumah sakit itu sudah mengingatkanku tentang menerima dan bersyukur. Waktu lagi lelah dan emosi pas lagi begadang, aku nanya sama Tuhan. Tuhan maunya apa sih? Dan Tuhan menjawab dari rangkaian kenangan bau rumah sakit itu. Bahwa aku hanya perlu menerima dan bersyukur. Tak peduli seperti apa susahnya hidup, dan seperti apa susahnya menjalani apa yang tidak aku suka. Tapi ternyata itu yang aku butuhkan. Bukankah Tuhan lebih tau apa yang aku butuhkan? Tuhan tak pernah meleset dalam bekerja …

Perempuan hebat itu, yang tidak kapok hamil 🙊

Ilustrasi gambar ini pasti bikin siapapun tertawa. Karna bayi-bayi itu lucunya bukan main. Bikin gemes dan as I know ya, bayi itu adalah makhluk gigitable. Dulu, menurut saya bayi itu udah kodratnya lucu. Mereka kayak punya trademark sendiri kelucuannya. Dan makhluk lucu, suci dan tidak berdosa itu boleh banget bikin kita kesel karna memang mereka gak tahu apa-apa. Mereka belum mengerti dunia dan isinya yang kadang menyebalkan ini.

Tapi setelah saya punya anak, entah kenapa saya merasa kalo yang lucu itu cuma anak saya aja anak orang lain nggak. Haha. Kidding ah 😂 Awal-awal saya punya anak, dan saya baru tahu kalo ternyata ngurus anak secapek itu saya jadi tidak menganggap mereka makhluk lucu lagi. Walaupun itu waktu di awal doank. Setelah menikmati mengurus dan membesarkan anak, jadilah kelucuan itu jadi hak cipta. Cuma anak gue doank yang menurut gue lucuk 😂😂😂

Oke. Back to topic yang sesuai dengan judul blog ini. Menurut saya, perempuan hebat itu adalah perempuan yang gak kapok punya anak. Mau hamil lagi dan mau nambah-nambah lagi bahkan rela punya anak banyak. Apalagi di zaman yang tidak asing dengan pil KB, suntik, IUD dan sebagainya ini kalo masih ada perempuan yang punya anak banyak itu hebatnya pake banget. Kenapa? Karna saya baru punya anak 2 aja, ngeluhnya udah kayak punya anak 10. Belum lagi hamilnya. Dari mulai mual muntahnya yang jadi rutinitas sehari-hari, sakit pinggang, bolak balik kamar mandi karna gak bisa nahan kencing, badan terasa berat seiring dengan bertambahnya usia janin, tidur malam yang gak enak. Dan masiiiihhh ada sederet daftar gak enak lainnya dari kehamilan. Jadi, buat mereka perempuan di luar sana yang masih mau hamil dan punya anak itu seriously mereka hebat.

Eh, bukan berarti hamil itu cuma gak enaknya aja ya. But I means, perjuangan seorang perempuan dalam menjadi seorang ibu itu sungguh tidak mudah. Dan saat saya melihat beberapa teman saya yang masih nambah lagi nambah lagi anak, duh saya malah malu. Saya baru nambah 1 aja udah sering ngeluh. Dan berasa jadi perempuan paling menderita sedunia. Saya kagum sama mereka. Sama mental mereka yang berani dan fisik mereka yang kuat. Luar biasa Tuhan memang benar-benar memberi kekuatan sebanyak-banyaknya. Padahal perempuan-perempuan ini juga tahu hamil itu gak mudah. Belum lagi ngurus anaknya. Melahirkannya apalagi. Normal atau caesar sama aja gak enaknya. Tapi, perempuan-perempuan ini masih gak kapok juga hamil dan nambah anak.

Kalo saya? Habis lahir anak kedua ini mau istirahat dulu ah sampe 5 taun ke depan sesuai dengan masa pakai KB 😂 saya jadi terlihat mainstream ya. Hihi. Tapi apa daya, saya masih mau fokus ngurus kedua anak saya ini. Saya juga lagi pengen manajemen emosi. Selama ini saya sulit mengendalikan emosi, tapi dalam menghadapi anak mau gak mau saya harus belajar dan harus bisa mengendalikan emosi. Karna saya juga gak mau anak-anak saya tumbuh jadi orang yang kayak saya. Bad on handling emotion.

Dan perempuan-perempuan hebat itu, beneran gak kapok. Luarrrr biasa banget. Maaf kata, saya gak terlalu simpatik sama wanita-wanita yang sudah mengubah dunia dengan prestasi atau dengan hal-hal positiv yang mereka lakukan untuk dunia. Saya kagum iya. Tapi di mata saya hebat itu tetaplah perempuan dengan anak banyak dan mengurus mereka dengan tangan sendiri. Apalagi kalo tanpa ART. Karna menghadapi anak kecil ternyata jauh lebih susah dibanding menghadapi atasan 😅

Apalagi perempuan-perempuan zaman dulu kayak nenek-nenek moyang kita yang anaknya banyak. Dengan zaman yang serba minim fasilitas dan terbatas. Zaman dulu belum ada oprasi caesar, jadi kalo melahirkannya susah (kayak gue) mau gak mau tetep akan diusahakan normal. Belum zaman KB, mau gak mau anaknya muncul lagi muncul lagi. Belum musim ART, mau gak mau harus ngurus semua sendiri. Gimana dengan nyuci popok? Boro-boro ada mesin cuci. Ditambah lagi gak ada pampers atau clody. Beuuhhh kebayang jauh lebih merepotkan daripada kita yang hidup di zaman Jonru pinter bikin meme lucuk 😂

Lah kita mah udah hidup di zaman serba mudah. Tetep aja ngeluh capek. Ya walopun emang capek beneran *curcol 😅 So’ saya akan jadi fans perempuan-perempuan hebat garis kerasss. Karna saya ngerasa gak bisa setangguh mereka. Khususnya dalam mengurus anak. Sekarang aja saya lagi belajar terus gimana caranya memanajemen emosi sama anak. Anak adalah ujian itu bener banget. Kita sebagai seorang ibu dan sebagai orang tua diuji banget setiap hari sama anak. Dan Tuhan, memang sedang mengajarkanku ikhlas dan sabar lewat anak-anak. 

Dear perempuan yang gak kapok hamil, youuuuu rooooccck 😎🙌😂✌